Sari Roti Bersinar dengan Manajemen Pasokan

Kesuksesan pemasaran roti tidak hanya terkait kualitas rasa ataupun tekstur roti. Sebagai pemain utama di bisnis ini, PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk yang populer dengan produk 'Sari Roti' mengunggulkan optimalisasi manajemen pasokan / supply. Seperti apa?

Kualitas tektur yang sempurna didapatkan dari proses sponge and dough. Proses, olahan hingga cita rasa didapatkan dengan bantuan teknis dari Pasco Shikima Baking Co.Ltd, Jepang. Proses pembuatan rotinya pun tak sembarangan. Untuk menghasilkan roti yang berkualitas setidaknya dibutuhkan waktu 8 jam. Ini berbeda dengan proses pembuatan roti industri rumahan yang hanya 3-4 jam dengan sistem straight dough. Walhasil jika diperhatikan, tampilan dan tektur Sari Roti dan roti dari merk lain sangat jauh berbeda.

Keberhasilan NIC membangun nama dan memiliki banyak pelanggan, bukan hanya karena kualitas rasa dan tektur rotinya saja. Sari Roti juga memiliki kekuatan dalam jaringan pasokan produk / supply chain yang membuat sistem distribusi bisa sampai langsung ke tangan konsumen secara cepat dan efisien. Jaringan yang dibangun NIC sejak tahun 1997 kini semakin berkembang pesat dengan membangun jaringan keagenan dan penjaja roti keliling. “Perusahaan tidak mau menunggu bola dengan konsumen yang 'terus-terusan' mencari mereka. Kami ingin terjun langsung 'mencari' kebutuhan masyarakat,” ujar Direktur Operasional PT Nippon Indosari Corpindo Tbk, Yusuf Hady.

Hingga saat ini sudah ada 300 agen yang tersebar di Jawa, Lampung dan Medan. Agen tersebut memiliki wilayah sendiri, sesuai lokasi agen. Untuk di Jabodetabek ada 120 titik/teritorial (komplek perumahan/wilayah), di Jawa ada 300 titik, dan Medan 50 titik. Satu agen bisa memiliki satu hingga beberapa titik teritorial.

Selain sebagai salah satu jaringan distribusi, sistem keagenan diharapkan mampu menggerakan usaha mikro tanah air. Karena itu untuk menjadi agen atau bermitra dengan NIC, masyarakat tidak memerlukan kualifikasi dan persyaratan khusus. Kemitraan bisa dilakukan secara perorangan, bisa juga berkelompok. “Siapapun bisa menjadi agen kita. Mau mereka yang sudah punya kerja, hingga yang pensiunan juga bisa. Mitra bisnis kami terbuka bagi siapa saja,” ungkap Yusuf yang baru diangkat menjadi Direktur Operasional tengah tahun lalu.

Selain itu, NIC juga mengutus beberapa supervisor untuk memantau dan terjun langsung ke lapangan (agen) dan memberikan pengarahan, masukan, serta pembelajaran lebih mendalam kepada agen dan penjaja roti keliling ketikamenghadapi kendala operasional. Umumnya, pemilik agen juga memiliki seorang koordinator untuk mengawasi operasional.

Setiap tahun pertumbuhan agen atau mitra bisnis NIC tumbuh sekitar 7%-10%. Pertumbuhan tersebut disokong karena mudahnya persyaratan bagi yang ingin menjadi mitra NIC. “Kami jamin tak ribet. Mereka mengajukan, kami meriset. Jika sudah cocok lokasi dan persyaratannya, mereka bisa langsung beroperasi,” kata Yusuf.

Tahun 2010 net sales NIC tercatat sebesar Rp 612 M yang diperoleh dari dua chanel, modern market dan keagenan. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya angka tersebut meningkat 21% yakni hanya sekitar Rp 480 M. Dari total net sales tersebut, 35% disumbangkan dari chanel keagenan, sisanya dari modern market. Tahun ini Yusuf optimis net sales bisa melonjak lebih dari 20% mengingat tren dan bisnis makanan khususnya roti akan stabil dan bahkan cenderung naik.

Misalnya peningkatan penjualan umumnya terjadi ketika musim anak masuk sekolah atau tahun ajaran baru yang bisa menggenjot penjualan hingga 5%-10%. Namun jika memasuki bulan puasa, penjualan langsung drop drastic 20%-30%.

Meski begitu, Yusuf tak menampik jika ada beberapa agen yang tidak berkembang bahkan gagal. Matinya agen atau mitra bisnis NIC umumnya disebabkan karena ketidakfokusan pemilik agen menjalankan bisnis keagenan. Sebagai contoh, ada pemilik agen yang memiliki bisnis lain sehingga bisnis agennya terbengkalai. Jarang sebuah agen tutup karena faktor lokasi karena sebelum menggandeng mitra, NIC selalu melakukan riset mengenai prospektif lokasi. Setiap tahun tercatat 10% agen yang gulung tikar alias tutup usaha. “Kami sebisa mungkin menekan agar tidak ada lagi agen yang mandul dan gagal. Makanya ketika sedang bermasalah kami melakukan pendekatan dengan agen tersebut,” jelasnya. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)