Strategi Berinvestasi di Negara Berkembang

Meskipun terjadi peningkatan besar-besaran jumlah wisatawan asing yang mengunjungi negara berkembang, fenomena yang sama belum terjadi di lingkup investasi. Berdasarkan data Boston Consulting Group, hanya US$ 19,5 miliar dana yang mengalir ke ekuitas negara berkembang di 2010. Ini termasuk kecil bila dibandingkan dengan investasi US$ 46 miliar di AS pada periode yang sama.

 

Semua orang tampaknya menyadari bahwa pasar berkembang tampak bersinar. Apalagi, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang empat kali lipat rasio negara maju di 2011. Salah satu cara memanfaatkan fenomena ini adalah 'melirik' MSCI Emerging Markets Index. Bursa ini memaparkan 822 saham di negara berkembang dan menjadi dasar bagi banyak reksa dana maupun dana yang diperdagangkan di bursa. Meskipun yang menjadi 'unsur negatif' adalah banyaknya 'perusahaan raksasa' yang bergabung di bursa ini menyebabkan tren condong ke pertumbuhan global, bukan lingkup lokal.

 

Cara kedua adalah langsung terkoneksi dengan 'pihak lokal'. Di Brazil misalnya, Van Eck Market Vectors Brazil Small-Cap ETF (BRF) menjadi populer karena mengandalkan 74 perusahaan Brazil yang memiliki kapitalisasi pasar rata-rata US$ 1,8 miliar. Ini merupakan cara meminimalisir dominasi perusahaan raksasa seperti Petroleo Brasileiro SA. Meskipun disadari, bursa saham dengan kapitalisasi rendah di negara berkembang memiliki volatilitas yang lebih tinggi dari pada bursa kapitalisasi tinggi.

 

Fund manager yang cerdas biasanya membeli saham dengan volatilitas yang lebih rendah, kata Senior Fund Analyst Morningstar, Karin Anderson, kepada Bloomberg. Meskipun, beberapa fund manager memiliki kebebasan untuk membeli saham di negara berekmbang dengan eksposur yang tinggi.

 

Selain itu, Chief Investment Officer Harris Associates, David Herro, memperkenalkan cara lain untuk 'bermain' di pasar saham negara berkembang. Baginya, belilah saham yang terkena dampak perekonomian negara berkembang meskipun harga masih dirasa mahal. Daripada membeli saham perusahaan bir Cina, Herro berinvestasi di perusahaan bir yang berbasis di Belanda, Heineken. Pasalnya, Heineken memperoleh dua pertiga profit dari luar Eropa Barat, termasuk 23% dari Afrika dan Timur Tengah. “Investor telah overpriced saham di negara berkembang. Padahal, mereka bisa punya underpriced companies yang berlokasi di kawasan lain namun berbisnis di negara berkembang,” kata Herro kepada Bloomberg.

 

Untuk memenuhi permintaan investor, perusahaan fund management harus kreatif mengingat mereka diterpa berbagai 'produk baru' dari negara berkembang. Produk baru bermunculan karena banyak orang yang mengejar peluang berinvestasi. Sayangnya, jumlah perusahaan 'potensial' yang terdaftar di bursa tidak sebanding dengan antusiasme investor, kata Brent Beardsley dari Boston Consulting Group. Meski suatu perusahaan tumbuh dengan sangat cepat, investor tetap harus hati-hati.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)