Tips Liburan Sukses ala Bondan Winarno

Sebagai penggemar dunia masakan, Bondan Winarno tidak cukup puas ternyata dengan dunia kuliner Indonesia. Pria kelahiran 29 April 1980 bahkan rela memboyong keluarga besar untuk 'berwisata lidah' ke luar negeri. Yang menarik, detil perlengkapan rombongan pun disiapkan secara terperinci oleh 'sang opa'.

 

Setiap tahun, kami keluar negeri bareng. Kalau berbicara 'kami', ini berarti 14 orang yang terdiri dari istri, tiga orang anak, tiga orang menantu, enam cucu dan saya sendiri,” kata mantan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan ini. Detil perlengkapan pun ogah diserahkan kepada mereka-mereka yang berusia muda. Pasalnya, jiwa kepemimpinan ini sudah berakar sejak Bondan memimpin regu Pramuka Indonesia ke Jambore Pandu Sedunia ke-12 di Idaho, Amerika Serikat, semasa muda. Bahkan, Bondan pun pernah menjadi honor guard bagi Lady Olave Baden Powell.

 

Diakui Bondan, berlibur bersama keluarga ke luar negeri bisa sedikit santai dibandingkan berwisata kuliner karena pekerjaan. Tapi repotnya, ia harus menyenangkan semua anggota keluarga. Otomatis sebisa mungkin ia berupaya membangun ekspresi ceria bagi anak-anak dan cucu-cucu. Jika mendapati ekspresi yang kurang menyenangkan dari perjalanan tersebut, ia adalah orang pertama yang paling terpukul. “Cucu-cucu lebih ekspresi dalam mengungkapkan sesuatu. Kalau senang ya senang, kalau sebel ya sebel,” kata ayah dari Marisol, Eliseo dan Gwendoline ini.

 

Perencanaan keuangan juga menjadi hal sangat penting ketika hendak menjalani aktivitas berlibur. Apalagi tak jarang Bondan berlibur ke luar negeri. Terakhir bersama keluarga tercinta ke Italia. Kalau ke negara ini diakuinya lebih banyak rekreasi daripada wisata kuliner. “Kalau ke Eropa itu sekali makan di restoran bisa jutaan rupiah. Saya kasih pengertian kepada mereka, lebih baik barbeque bareng saja,” ujarnya.

 

Untuk meminimalisasi budget, dalam beberapa kesempatan rekreasi ia menyempatkan untuk memasak sendiri dengan melibatkan keluarga. Pun kenikmatan nya berbeda ketika memasak sendiri. Kendati demikian ia tetap memberikan pengalaman bagi anak-anak dan cucu-cucunya untuk makan di restoran tertentu. Jalan-jalan bareng keluarga adalah kesempatan Bondan mengajarkan tata cara makan di negara atau daerah tertentu. Ia selalu menekankan kepada anak-anak dan cucu-cucu untuk memahami suatu proses. Tak sedikit orang yang tak mengerti bagaimana memesan makanan di resto Italia. Misalnya, menu antipasto (appetizer) –makanan pembuka--, primi piatti --piring pertama—berupa pasta, piring kedua, setelah itu pencuci mulut.

 

Untuk menghidupkan suasana, tak jarang Bondan mengajak anak cucu wisata kuliner mencari masakan-masakan unik. Ia jelaskan, setiap nama masakan mesti ada sejarahnya. Seperti ketika di Italia, ia memperkenalkan menu masakan yang memiliki arti ‘Pastur Gantung Diri’, masakan yang terdiri dari bayam dan keju. Nama masakan tersebut diambil dari kisah tentang pastur yang makan terlalu banyak, akhirnya tersedak (tercekik).

 

Dalam setiap perjalanan, semua tata tertib ia ajarkan kepada anak cucunya. Baginya, bila orang sudah mengatakan 'excuse me', ini berarti peringatan bahwa sikap kita sudah tidak sopan. Bondan tak peduli dianggap cerewet atau apa, mutlak baginya untuk menaati tata cara sopan santun. ”Kalau ingin dihargai, kita harus menghargai orang lain,” tutur kolumnis untuk beberapa media cetak seperti The Asian Wall Street Journal, Kompas dan Tempo ini. (Acha)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)