Karakter dan Kompromi

“Karakter kita adalah apa-apa yang kita lakukan manakala kita berpikir tak ada seorang pun yang menyaksikan kita.” — H. Jackson Brown Jr.

Kebohongan seorang pemain bola, Messi, contohnya, di lapangan adalah sah-sah saja. Ia mengecoh lawan, seolah mau mendribel bola ke kanan. Ternyata, bola ia giring ke kiri lawan. Ia menipu lawan. Akhirnya, ia pun lolos dari hadangan para pemain lawan. Dan, sering berakhir dengan gol yang dijebolkan ke gawang lawan. Aksi-aksi seperti inilah yang membuat permainan Messi memikat.

Karena kepiawaiannya menggocek bola dan mencetak gol, sudah jamak ia selalu jadi incaran pemain lawan. Ia selalu dijegal, ditarik tangannya atau baju kausnya, ataupun dikeroyok lawan-lawannya. Messi terlalu berbahaya kalau “dilepas” bermain tanpa hadangan.

Beberapa pemimpin bangsa ini, sejatinya, mengalami situasi semacam yang dihadapi Messi. Mereka yang dengan niat mulia sangat bersemangat membangun bangsa dan negara ini, harus selalu siap dijegal oleh para lawan dan bahkan kawan-kawan politik mereka. Kita tahu, tak ada lawan dan kawan sejati dalam politik.

Mereka harus terus bermanuver untuk tetap bertahan dalam posisi yang diemban, agar terus bisa melaksanakan komitmen mereka untuk membangun negara, sembari —suka atau tak suka— harus melakukan kompromi dengan pelbagai pihak

Agar dapat terus berkarya, mereka harus rela bermanuver seperti Messi. Seolah-olah mau ke kanan, ternyata mereka berlari ke kiri. Mereka kadang harus berkompromi dengan banyak pihak sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang diharapkan masyarakat.

Kalau mereka tak melakukan itu, nasibnya tak akan beda dengan para tokoh “garis keras”, orang-orang berkarakter keras, yang pernah menjadi pemimpin masyarakat Indonesia terdahulu.

Mereka terhadang dan terpelanting dari jabatannya karena derasnya arus keroyokan para politisi dan pebisnis hitam yang kepentingan politik atau bisnisnya terganggu. Juga pihak-pihak lain yang selama ini bisa mendulang uang rakyat semau-maunya karena jabatannya, yang menjadi sulit meneruskan perilaku buruknya.

Tokoh-tokoh itu kukuh dengan values (sistem nilai) yang tinggi sebagai etika kemanusiaan. Mereka itu orang-orang yang berkarakter keras. Mereka sangat memahami dan meyakini hal-hal yang benar dan yang salah.

Perbedaan dua karakter ini, berdasarkan pemahaman dan keyakinan tersebut, mereka yang berkarakter keras itu cenderung akan mengambil sikap untuk memilih, hitam atau putih. Mereka cenderung kaku. Mereka tak mengenal nuansa (peralihan berangsur warna-warna). Mereka tak berkompromi. Sekali mereka yakin yang benar adalah A, mereka akan kukuh mempertahankan sikap A. Memang timbul pelbagai dampak negatif terhadap sikap demikian. Mereka bisa dipandang sebagai “keras kepala”. Tidak mau mendengar saran orang lain. Mereka cenderung otoriter.

Dalam kultur bangsa ini, bangsa yang penuh dengan ewuh pakewuh, penuh tata krama, yang sering diwarnai penggunaan topeng-topeng yang tak dapat ditebak isinya, nampaknya memang kompromi adalah salah satu ciri kultur kita.

Sejatinya, kompromi di negara kita itu bahkan tersirat dari sila ke-4 Pancasila, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Kata “musyawarah” adalah esensi diakuinya gaya kompromi dalam sila tersebut.

Musyawarah mengindikasikan pembahasan atau negosiasi, dalam rangka kompromi, perlu dilakukan secara berimbang, dua arah dan bertimbal balik, serta memenuhi rasa keadilan bagi kedua belah pihak.

Sepanjang kompromi itu tak menyangkut hal-hal prinsip, hanya menyangkut masalah teknis operasional yang variatif, kompromi bukanlah hal yang haram. Namun, “Jangan pernah berkompromi dalam hal-hal prinsip, bahkan bila mengarah kepada hal-hal yang mempersulit Anda dalam jangka pendek,” kata Alan Casden, filantropis dan pebisnis raksasa properti.

Sementara kata Angela Markel, Kanselir Jerman terhebat yang belum lama usai jabatannya, setelah menjadi kanselir selama 18 tahun dan membuat Jerman menjadi “pemimpin” negara-negara Eropa, ”Bila sudah menyangkut martabat kemanusiaan, tak perlu adanya kompromi-kompromi.”

Sementara Mahatma Gandhi mengingatkan, “Setiap kompromi biasanya berdasarkan prinsip take and give. Tapi dalam praktiknya secara fundamental, prinsip itu bisa jadi tak berjalan. Setiap kompromi bisa hanya merupakan penyerahan diri belaka. Akhirnya, yang terjadi adalah memberi belaka, tak berbalas pemberian balik.”

Peringatan Gandhi layak digarisbawahi. Karena banyak kejadian, dalam proses kompromi, terjadi lobi-lobi  (atau “nemawashi” dalam bahasa Jepang ), di mana pihak yang satu lebih cerdik dan lihai dalam bernegosiasi dalam lobi-lobi itu. Sehingga, terjadi suatu kondisi win-lose, bukan win-win yang seharusnya terjadi sebagai hasil akhir kompromi.

Mencermati sepak terjang para penguasa negara ini, Anda semua bisa memahami dan menilai karakter mereka masing-masing. Karena kata Abraham Lincoln, “Hampir setiap orang sanggup menanggungkan derita. Bila Anda ingin menguji karakter seseorang, berilah ia kekuasaan.” (*)

Pongki Pamungkas

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)