Arie Prabowo Ariotedjo, Nakhoda Baru Antam

Sosok Arie Prabowo Ariotedjo (57 tahun) sudah malang melintang di industri pertambangan. Ia pernah menjadi Direktur Komersial PT Bukit Asam Tbk. dan Presiden Direktur PT Medco Energy Mining International .

Sebelum berlabuh di perusahaan BUMN, memang ia lebih banyak menghabiskan masa kariernya di perusahaan swasta. Baru per April 2016 ia masuk ke jajaran direksi BUMN dengan posisi sebagai Direktur Bukit Asam, lalu setahun  berikutnya dipercaya sebagai Presiden Direktur PT Antam (Persero) Tbk.

Meskipun telah berada di puncak karier tertinggi, Arie bisa dibilang pribadi yang luwes. Dalam acara buka bersama dengan wartawan Kementerian BUMN beberapa waktu lalu  misalnya, ia tidak ragu turun dari kendaran pribadinya untuk berjalan kaki ke lokasi acara yang jaraknya sekitar 2 sampai 3 km.

Inisiatif tersebut ia ambil lantaran kondisi jalan yang macet dan tidak ingin telambat tiba ke acara. Padahal, ketika ia sampai, hanya beberapa wartawan saja yang baru datang, sedangkan sisanya lebih banyak terlambat. Meski begitu, ia bukan malah menampakan wajah masam, toh ia tetap menyempatkan diri untuk duduk bersama serta mengobrol santai dengan para pewarta yang datang.

Dalam obrolan santai itu ia bercerita tentang bagaimana sebagai Direktur Utama PT Antam (Persero) Tbk. sejak terpilih, ia langsung tancap gas melakukan  mapping  kondisi Antam seperti apa. Penyuka olahraga basket ini menuturkan bahwa awal-awal terpilih pada Mei 2017, ia langsung mengunjungi lokasi-lokasi pertambangan yang dimiliki Antam dan berbicara banyak dengan berbagai orang-orang di berbagai level manajemen.

Pada masa-masa sebelum ia menjabat, ia mengatakan kondisi Antam, tidak dalam kondisi terbaiknya, terutama harga anjlok dan ketika perusahaan tidak lagi bisa leluasa melakukan ekspor yang dulunya 70% pendapatan dari nikel dan 30% dari gold. Sekarang terbalik 30% feronikel, 70% dari gold. “Sekarang bisa ungkit pendapatannya dari trading emasnya. Namun, namanya trading, marginnya tipis meski dari sisi omsetnya tidak jauh berbeda,” ungkapnya.

Dalam satu atau dua tahun ke depan, ia mengatakan, akan memaksimalkan potensi-potensi yang ada seperti melakukan penghematan, meningkatkan produktivitas, redesign mining plan, merenegosiasi tender atau jasa yang ada. Langkah itu dilakukan sambil menunggu harga kembali dalam posisi terbaiknya. "Sebab, harga di luar kontrol kami,” kata periah gelar Master of Science in Civil Engineering dari University of Michigan, AS, ini.

Untuk jangka menengah, ia punya kebijakan untuk menata ulang anak-anak usaha dan proyek. Anak perusahaan yang kurang sehat atau tidak butuh dilanjutkan akan ia tutup. “Nanti kami review mana yang bisa kami tutup," dia menegaskan.

Sampai dengan akhir tahun,  manajemen Antam menargetkan kegiatan ekspor mineral mentah bisa terealisasi pada akhir 2017. Ini sesuai dengan kuota yang diberikan yaitu 2,7 juta ton untuk bijih nikel dan 850.000 ton untuk bauksit. Adapun untuk penjualan emas tidak berbeda jauh dengan target penjualan 2016 sebesar 11,4 ton emas.

 

Profil Singkat

Pendidikan:

Memperoleh gelar Bachelor of Science in Civil Engineering dari Purdue University, West Lafayette, Indiana, AS di tahun 1981 dan Master of Science in Civil Engineering dari University of Michigan, Ann Arbor, Michigan, AS di tahun 1982.

Karier
Direktur Utama Antam Mei 2017- Sekarang
Direktur Niaga PT Bukit Asam (Persero) Tbk (April 2016-Mei 2017), Presiden Direktur PT Medco Energi Mining Internasional (2014- 2015)
Managing Director PT Medco Energi Mining Internasional (2009–2014)
Managing Director PT Duta Tambang Rekayasa (2008-2015)
Managing Director PT Duta Tambang Sumber Alam (2008–2015)
Presiden Direktur PT Medco Mining (2006-2008)

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)