Jual 200 Potong per Bulan, Anjani Lestarikan Batik Bantengan

Anjani Sekar Arum (Tengah) memamerkan hasil karyanya, Batik Bantengan kepada para wartawan (Photo: Anastasia/SWA).

Berawal dari kegelisahan akan punahnya tradisi Bantengan ditambah dengan kekhawatiran akan keberlangsungan batik Malang, Anjani Sekar Arum mendirikan sanggar dan galeri batik Andaka pada tahun 2014.Ia mendesain sendiri motif kain batik Bantengan dengan kemampuan melukis warisan ayahnya.

Perempuan 26 tahun ini mulai membatik pada 2010. Namun, baru tahun 2014, ia bisa mengikuti pameran. Persoalan datang ketika dirinya mengikuti pameran di Praha, Ceko, dua pekan sebelum acara  berlangsung.

Anjani hanya berhasil memproduksi 10 lembar kain batik. Dari sanalah ia mulai mencari pembatik untuk mengembangkan usahanya sekaligus melestarikan batik Bantengan khas kota Malang. Kemudian pada tahun 2015, ia bertemu dengan Aliya yang berumur 9 tahun yang juga tertarik dalam mempelajari batik.

Diakuinya, ia lebih memilih anak-anak dengan ekonomi lemah untuk diajak melestarikan batik sekaligus mengembangkan bisnis batik di Malang. “Saya lebih memilih anak-anak, karena ide mereka lebih kaya dan ekspresif. Selain itu, anak-anak juga termasuk golongan yang santai dalam mengerjakan dan menjual batik. Mereka tidak membutuhkan hasil yang cepat berbeda dengan ibu-ibu. Selain itu mengapa anak dengan ekonomi lemah, karena saya memiliki cita-cita untuk meratakan kesejahteraan masyarakat Kota Batu,” ujar Anjani.

Setelah menang dalam ajang Satu Indonesia Awards 2017, sekaligus mendapatkan dana bantuan senilai Rp75 juta dari Astra. Anjani mencoba untuk mengadvokasi pemerintah kota untuk mendukung usahanya dalam pelestarian Batik Bantengan yang merupakan ciri khas kota Malang. Sekaligus mengumpulkan uang untuk membeli tanah untuk meluaskan sanggar dan galeri miliknya.

“Saya meminta kepada Pak Walikota Batu untuk menyiapkan dan menyuplai peralatan membatik ke setiap sekolah SD hingga  SMA di Kota Batu. Kemudian saya juga meminta para guru untuk ikut belajar membantik di sanggar saya, agar guru juga ikut serta dalam pelestarian batik ini, tidak hanya saya sendiri,” ujarnya.

Saat ini Anjani telah memiliki 36 pembatik cilik yang sudah tersebar di SD hingga SMA di Kota Batu. Para pembatik ini nantinya akan menjadi tutor di sekolah-sekolah. Bagi pembatik dengan potensi yang besar dan sudah profesional, Anjani akan mengagkat mereka untuk dijadikan anggota kelompok pembatik di sanggarnya.“Sekarang ini kami memiliki 200 siswa, dengan pembatik aktif sebanyak 36 orang. Dengan penghasilan minimal per bulannya mencapai Rp300 ribu,” kata Anjani.

Anjani mengakui ia hanya mengambil 10% dari hasil penjualan setiap batik yang dibuat oleh anak-anak sanggar.”Hitungannya, misalnya mereka menjual batik Rp500 ribu, Rp450 ribunya untuk mereka. Sisanya, Rp50 ribu untuk membayar pajak, packaging, gaji pegawai galeri, dan kas sanggar yang mencakup peralatan membatik,” ujarnya menegaskan.

Namun, hingga kini, perempuan lulusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang ini enggan untuk menjual hasil karyanya melalui digital platform. Namun, dia meyakini hingga kini batik buatan dirinya dan anak-anak tidak pernah ada yang tidak terjual. “Saya belum berani untuk menualnya via online, karena sangat rentan dengan penjiplakan. Namun alhamdulilahnya sampai hari ini tidak pernah ada batik yang menumpuk di rumah,” ujar Anjani.

Saat ini, Anjani berhasil mendapatkan omset hingga Rp40 juta perbulan dengan produksi setiap bulannya mencapai 200 potong. Setiap anak dapat menghasilkan 4-5 lembar per bulan, dengan pengerjaan maksimal 1 minggu. Kedepannya, ia ingin membangun desa wisata membatik di daerah Bumi Aji, Malang. Selain itu ia juga ingin mengedukasi masyarakat untuk meluaskan batik di kota Batu.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)