Livi Zheng Menembus Pasar Hollywood

9H4A6021

Sutradara muda asal Indonesia, Livi Zheng, menjadi topik pembicaraan karena karya terbarunya yang berjudul Brush with Danger masuk menjadi salah satu seleksi nominasi Oscar 2015 yang bersaing dengan film-film box office seperti Hunger Games dan Interstellar. Dara kelahiran Malang, 3 April 1989 ini mulai tinggal di luar Indonesia dari tahun 2004.

Awalnya ia tinggal di Beijing untuk melanjutkan SMA. Pada 2007 ia pindah ke Amerika Serikat untuk mengambil kuliah S1 jurusan Ekonomi. Ia mengatakan penduduk Indonesia berjumlah 240 juta jiwa, namun layar biskopnya baru ada 1.000 unit. Sedangkan di Korea Selatan, penduduknya hanya 50 juta tapi layar bioskopnya ada 20 ribu lebih. Penduduk Korea Selatan sedikit tapi presentasi pendudulk yang menonton film bisa 30%. Di Indonesia, film box office seperti Laskar Pelangi hanya ditonton oleh 2% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Ia berharap agar layar bioskop di Indonesia lebih banyak lagi agar penduduk Indonesia dapat menonton film berkualitas. Berikut ini nukilan wawancara SWA Online dengan Livi.

Apakah memang Anda memiliki passion di bidang film?

Jadi, berawal dari bela diri. Papa saya dari kecil suka bela diri. Sedangkan saya baru mempelajari beladiri ketika SMA ketika saya pindah ke Beinjing. Di sana saya baru belajar sungguh sungguh pagi siang malam seperti atlet dan baru mulai pertandingan ketika kuliah. Saya memenangkan 26 kejuaraan bela diri untuk regional dan nasional di Amerika Serikat.

Mulai dari situ saya suka jadi stunt (peran pengganti untuk adegan berbahaya) seperti jatuh dari ketinggian, naik mobil dengan kecepatan tinggi. Saya sangat terinspirasi dari Bruce Lee. Siapa sih yang tidak kenal Bruce Lee? Dia tidak hanya martial artist dan actor, tetapi dia juga orang yang ada di depan dan di belakang kamera. Lalu saya terinspirasi untuk menyutradai film sekaligus ikut main di film buatan saya sendiri.

Sebenarnya saya ini Sarjana Ekonomi. Saya mengambil strata satu saya di jurusan Ekonomi di University of Washington-Seatlle, AS. Tapi saya suka bantu-bantu di set film seperti jadi asisten production atau apapun yang berhubungan dengan film. Tadinya saya sudah memiliki rencana untuk melanjutkan S3 Ekonomi,  saya juga sempat kerja selama 2 tahun di perusahaan finance. Tapi saya memutuskan untuk fokus ke film sambil kuliah S2 di University of Southern California jurusan Produksi Film. Saat ini saya sedang menyelesaikan master saya.

Martial art apa yang Anda tekuni?

Saya menekuni Wushu. Speasialisasi saya di pedang. Wushu sangat baik melatih kelenturan dan stamina dalam film.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan kuliah?

Ketika ada pengambilan film saya ambil cuti karena pengambilan gambar pasti memakan waktu yang lama.

Apakah ada kendala menjadi sutradara sekaligus menjadi aktor?

Dulu tantangannya adalah mengumpulkan crew. Kesuksesan sebuah film berada di tim. Jika timnya gak bagus pasti film saya jelek. Apalagi dulu saya belum punya pengalaman untuk buat film jadi crew-crew di sana picky sekali. Stunt coordinator dan juga mentor saya bilang, kalo saya punya 3 faktor yang akan menjadi halangan saya; saya Asia, saya perempuan, dan saya masih muda. Dan memang semua itu benar. Sampai akhirnya saya mengganti naskah hingga 30 kali baru mereka tertarik untuk bergabung

Apakah Anda fokus di film action?

Menurut saya film itu story telling. jika ceritanya bagus genre tidak berpengaruh dan masih bisa menyentuh penontonnya. Bukannya saya mengkhususkan di genre action, hanya saaja dipercaya untuk membuta film action. Dan saya open untuk semua genre. Sebenarnya saya suka genre romantic comedy. Di waktu senggang saya suka nonton film-film komedi romantis.

Ada berapa film yang sudah Anda kerjakan?

Untuk yang saya sutradarai sendiri baru 2 Untitled Action Thriller dan Brush with Danger, saat ini sedang mengerjakan yang film yang ketiga.

Apakah film Brush with Danger akan tayang di Indonesia?

Saat ini saya sedang mengurus perizinannya. Mudah-mudahan akhir tahun sudah bisa tayang.

Apa yang membuat Anda memutuskan untuk belajar dan berkarier di luar negeri?

Saya suka riset. Kata orang-orang, riset di Amerika bagus sekali jadi saya memutuskan untuk kuliah di sana. Saya ketika kuliah jadi asisten dosen dan asisten riset. Seperti riset finance, accounting, dan marketing.

Apakah terjun di dunia film masih menjanjikan, mengingat kompetisi di Amerika ketat sekali?

Teman saya bilang di film probabilitas untuk sukses lebih kecil dibandingkan dengan berjudi. Tapi orang tua saya bilang sebenarnya orang tidak bisa sukses bukan karena salah bidang, “kamu bisa sukses dibidang apapun, kamu harus tau konsekuensinya karena itu pilihan kamu. Kamu tekuni dan jalani sampai sukses.”

Apakah Anda pernah mendapat tanggapan miring?

Dulu sering. Mereka tidak secara langsung ngomong, tapi bisa ketahuan dari tingkah laku dan gerak geriknya. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap kerja keras dan eventually saya mendapatkan respect dari mereka.

Apakah perizinan dalam membaut film di Amerika lebih rumit?

Perizinan di sana cukup rumit. Karena mereka benar-benar detil seperti rencana lokasi parkir dan tempat pembuangan sampah. Saya pernah harus mengumpulkan 200 tanda tangan persetujuan dari warga di lokasi tempat saya shooting.

Menurut Anda, apa keunikan dari diaspora Indonesia?

Keunikannya adalah dispora di luar negeri sangat dekat gotong royongnya kuat sekali. Contohnya waktu pemutaran film saya di Los Angeles, ada sekkitar 50 orang datang dari Konsulat Jendral. Mungkin karena sama-sama jauh dari rumah jadi team worknya kuat sekali. Dan diaspora Indonesia itu ada dimana-mana misalnya saya di film, ada di bidang dokter gigi, di bidang property, semuanya komplit.

Apa dukungan yang diberikan oleh komunitas diaspora kepada Anda?

Mereka banyak bantu di promosi film saya, melalui social media, dan melalui relasi mereka. Mereka sangat mensupport film saya.

Apa saja penghargaan yang sudah Anda dapat?

Film Brush and Danger yang saya sutradarai itu masuk seleksi nominasi Oscar. Dari 40.000 film, film saya masuk 1% untuk kategori best picture. Saingannya film-film box office semua seperti Interstellar, Hunger Games. Awalnya saya dapat email kalo film saya masuk seleksi nominasi, tapi saya pikir itu cuma orang yang lagi ngerjain saya karena untuk masuk bioskop saja susah sekali. Tapi saya dapat email lagi, sehingga saya memutuskan untuk datang langsung ke kantor Oscar untuk memastikan dan memang benar film saya masuk seleksi nominasi. Sejak saat itu jalannya kebuka sekali. Dulu susah mencari crew, sekarang mereka yang approach saya.

Apa yang paling dirindukan dari Indonesia?

Saya selalu kangen makanan Indonesia, jamu, dan bumbu-bumbu. Kalo saya pulang saya selalu bawa sekoper full makanan Indonesia untuk di bawa ke Amerika.

Apa makanan kesukaan Anda?

Saya paling suka Rawon

Apakah berniat untuk kembali ke Indonesia?

Saya berniat untuk setengah-setengah. Setengah di Amerika, setengan di Indonesia. Karena di Amerika produksinya sudah mulai lancar. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)