Otis Hahijary, Orang Keuangan yang Lejitkan ANTV

Otis Hahijary Otis Hahijary, Direktur Pengelola ANTV

Nama Otis Hahijary sebagai petinggi ANTV, salah satu perusahaan televisi nasional, belakangan banyak diberitakan berbagai media. Itu lantaran aksinya menyemprot para pengisi acara di perusahaan tempatnya berkarier itu, yang dinilainya tidak disiplin. Beritanya cukup ramai karena yang terkena semprotannya sejumlah artis yang sedang beken, antara lain Ayu Ting-ting.

Namun, sesungguhnya sosok dan prestasi Otis lebih menarik untuk disimak daripada sekadar berita tentang aksinya menegakkan disiplin kerja itu. Dialah sosok penting di balik meroketnya kinerja ANTV. Lewat tangan dinginnya, pria kelahiran 12 Desember 1969 ini berhasil membawa ANTV lompat peringkat dari sebelumnya di posisi paling belakang (nomor delapan) menjadi yang terdepan. Untuk mendongkrak ANTV ke posisi nomor satu ini, Otis pun hanya butuh waktu empat tahun.

Pria berkulit putih ini mengubah positioning dan target pasar ANTV, yang semula sebagai televisi hiburan yang menyasar kalangan remaja, menjadi televisi hiburan keluarga yang membidik pemirsa wanita dan anak-anak. Lewat sejumlah drama serial produksi India dan Turki, ANTV sukses menciptakan pasarnya sendiri dan sekaligus menjadi trendsetter di bidang ini. Pada Desember 2016, ANTV mencapai audience share 15,8% dan terus meningkat pada Januari 2017 sebesar 17,3% serta Febuari 2017 sebesar 17,2%. “Sekarang kami sudah jadi nomor satu, berbeda tipis dengan RCTI,” ujar profesional yang menjabat sebagai Direktur Pengelola ANTV ini.

Meskipun sukses sebagai eksekutif pertelevisian, siapa sangka bahwa Otis sebenarnya tidak pernah berpikir bahwa industri ini bisa melejitkan pamornya. Namun diakuinya, dia tertarik menerjuni industri televisi karena dia menganggap industri ini mampu memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan industri lain. Di bisnis televisi, kata Otis, setiap hari merupakan ajang pembuktian prestasi. “Tantangan kerja di televisi itu bahwa kita harus siap dinilai setiap hari. Prestasi kita dilihat oleh sejuta umat tiap hari lewat rating AC Nielsen. Adrenalinnya di situ,” ungkap lelaki berkacamata ini.

Otis Hahijary Otis Hahijary

Jika melihat latar belakang pendidikannya, Otis sebenarnya lebih cocok bekerja di sektor investasi dan keuangan. Pada 1995 dia lulus dari San Diego State University, Amerika Serikat, dengan gelar Master of Art di bidang manajemen. Tak cukup puas dengan itu, dia melanjutkan studi di Lancaster University, Inggris, dan meraih gelar Master of Science di bidang keuangan di tahun 1996. Tahun berikutnya, dia melanjutkan pendidikan di universitas yang sama hingga akhirnya memperoleh gelar Ph.D. bidang keuangan.

Sebagai orang yang relatif baru di industri televisi, Otis mengaku sangat sadar bahwa dia harus belajar banyak hal. Karena itulah, dia menginvestasikan banyak waktunya untuk membaca serta mengunjungi grup media besar seperti BBC di Inggris, Mediaset di Italia, CNN, hingga berbagai media di negara-negara Eropa Timur dan Australia. Dalam kunjungannya ke media-media tersebut, dia berusaha mempelajari setiap model bisnis yang mereka terapkan. “Jadi, saya ke sana itu tidak cuma training,” ungkapnya.

Hampir setiap tahun, dia hadir di acara-acara industri penyiaran berskala global seperti TV Festival de Cannes dan acara yang digelar oleh Asian TV Forum. Acara-acara tersebut, menurut Otis, wajib didatangi untuk membangun jejaring dan mendapatkan insight mengenai apa yang tengah menjadi tren. “Orang-orang televisi pasti datang di acara-acara itu,” ujarnya.

Berkat aneka pengalaman itu, Otis mengaku tercerahkan dan memahami bagaimana tren yang saat ini berlangsung di industri televisi. Dari perjalanannya, dia banyak mengambil pengetahuan yang relevan dengan bisnis pertelevisian ke depan, misalnya soal pergeseran dari TV analog ke TV digital. “Saya lagi intens mempelajari hal itu, karena suatu hari nanti (industri pertelevisian) Indonesia juga akan mengalami digitalisasi,” katanya.

Di sisi lain, kepiawaian di bidang finansial merupakan keunggulan Otis. Dia tampaknya jago menganalisis data dan informasi terkait yang sangat dibutuhkan dalam merancang program televisi. Pendekatan berbau finansial dan angka tampaknya dia terapkan. Misalnya, dia mengaku memperlakukan program televisi layaknya portofolio saham yang setiap programnya memiliki jenis dan kelompok masing-masing, seperti apakah untuk meningkatkan rating, mencari uang, atau menjalankan fungsi televisi yang sejatinya. “Program itu juga punya product life cycle-nya,” ujarnya.

Namun, menurut Otis, mengelola bisnis televisi tidak semudah yang dipikirkan orang selama ini. Hampir sama dengan bidang finansial, menurutnya dunia pertelevisian juga sangat erat dengan angka dan data. Setiap hari dia mengaku harus membaca 15-20 halaman laporan yang berisi seputar angka, rating, dan share. “Saya orang yang percaya dengan angka. Semua based on numbers, walaupun insting juga penting,” katanya tandas. (Reportase: Akbar Kemas)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)