Ambisi Dyandra Menjadi EO Terbesar di ASEAN

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif tentu memberikan kesempatan yang menarik bagi sejumlah industri untuk berkembang. Salah satunya adalah industri di bidang Meeting, Convention, Incentives, dan Exhibition (MICE). Bisa dilihat dari ramainya pameran yang digelar di sejumlah tempat, hingga kian banyaknya pertemuan yang mengambil tempat di hotel.

Maka tak salah, jika PT Dyandra Media International (DMI), yakni sebuah perusahaan induk yang menaungi 35 anak perusahaan strategis dengan pengalaman selama hampir dua dasawarsa berkecimpung di industri MICE serta menguasai 80 persen pangsa pasar MICE di Indonesia, mencium potensi Indonesia untuk berkembang dalam industri MICE. Karena itulah, DMI pun berani merancang visi yang luar biasa, yaitu menjadi perusahaan penyedia jasa dan solusi event terbesar di kawasan Asia Tenggara, yang juga menggali dan mendorong perkembangan industri MICE di tanah air dalam tingkatan yang lebih baik.

“Pastinya kami selalu ingin menjadi yang terbesar dalam industri MICE ini,” ujar Lilik Oetama, Presiden Direktur PT Dyandra Media International.

DMI mengusung optimisme tinggi dalam mewujudkan visinya menjadi perusahaan terbaik di industri MICE di kawasan Asia Tenggara karena, menurut Lilik, cerahnya prospek pertumbuhan perekonomian Indonesia telah membuat situasi bisnis di negara ini kondusif. Dan hal tersebut akan mendukung kinerja perusahaan dalam menekuni industri MICE. “Saya merasa dengan meningkatnya kondisi perekonomian di Indonesia secara umum, dapat dipastikan hal ini akan berpengaruh pada bisnis-bisnis pendukungnya yang juga akan membaik,” tambahnya.

Lantas bagaimana cara DMI menjadi yang terdepan di Asia Tenggara? DMI berusaha menangkap peluang pasar yang tersedia dengan empat pilar bisnis utama. Keempatnya adalah Professional Exhibition/ Event Organizer (PEO) & Professional Convention Organizer (PCO), Exhibition & Event Support, Convention & Exhibition Hall, serta Hotel Industry.

Masing-masing pilar bisnis tersebut dikelola oleh perusahaan sub-holding yang saling terintegrasi, sehingga DMI mampu menghasilkan one stop solution bagi kebutuhan industri MICE di dalam negeri. Sinergi dari keempat pilar bisnis inilah yang berhasil menciptakan dasar integrasi yang kokoh guna ekspansi bisnis MICE dan bisnis jaringan hotel lokal di Indonesia yang merupakan kunci untuk pertumbuhan masa depan DMI secara berkelanjutan.

“Kami ingin menjadi sebuah perusahaan yang lengkap dan komprehensif, sehingga mampu menangani semua bidang yang terangkum dalam industri MICE,” ujar Danny Budiharto, Direktur Operasional PT Dyandra Media International.

Dalam menjalankan pilar bisnis di bidang Professional Exhibition/Event Organizer (PEO) & Professional Convention Organizer (PCO), DMI mempunyai PT Dyandra Promosindo. Dyandra ini pun mempunyai tujuh anak perusahaan, di mana setiap anak perusahaan memiliki segmentasi pasar di bidangnya masing-masing. Dengan begitu, ada trademark yang diciptakan yang membedakan usaha antara anak perusahaan yang satu dengan yang lainnya.

”Setiap anak perusahaan memiliki spesialisasi tersendiri, contohnya Dyandra Promosindo sudah memiliki trademark yang dikenal luas sebagai penyelenggara pameran otomotif dan IT. Unit usaha lainnya dalam grup tidak akan membuat pameran seperti Dyandra Promosindo, karena itu bukan trademark dan lingkup pasar usaha mereka, di industri MICE ini,” sebut Danny.

Ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) yang diadakan oleh Dyandra Promosindo

Lalu, dalam hal menggelar event ataupun eksibisi, ini sudah menjadi bagian usaha dari PT Dyamall Graha Utama (DGU). DGU juga memiliki anak perusahaan, yakni PT Samudra Dyan Praga, pionir pengembang jasa konstruksi pameran profesional di Indonesia, dan PT Sinar Dyandra Abadi, perusahaan penyewaan peralatan kegiatan, seperti pencahayaan, visual efek dan rigging-stage yang bersertifikasi Internasional. Tak tanggung-tanggung, Samudra Dyan Praga pun tercatat sebagai satu-satunya perusahaan supporting event di Indonesia yang sejak tahun 1994 sudah menjadi anggota resmi Octanorm Supporting Partner Internasional (OSPI), yaitu sebuah jaringan ternama kelompok perusahaan-perusahaan supporting event yang tersebar di 55 negara.

DMI pun berpandangan, peran convention & exhibition hall dalam mendukung kesuksesan penyelenggaraan sebuah pameran adalah hal yang sangat penting. Maka dari itu, DMI pun memutuskan untuk membentuk PT Nusa Dua Indonesia (NDI). Perusahaan ini adalah salah satu pilar bisnis utama dari DMI untuk bergerak di bidang convention & exhibition hall. Danny pun menuturkan, “Hubungan event sangat dekat dengan hall, baik itu exhibition, convention maupun konser musik. Hal ini dikarenakan kebutuhan event terhadap venue yang merupakan raw material bisnis event. Inilah yang menjadi dasar bagi kami untuk masuk ke industri convention & exhibition hall.”

NDI memilih kota Surabaya sebagai tempat membangun convention centre perdananya, yakni Gramedia Expo. Bangunan serupa juga dibuat di Bali, dengan nama Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC). BNDCC kini tengah mengerjakan pembangunan tahap dua yang direncanakan selesai pada bulan Maret tahun ini. Pada pembangunan tahap dua, BNDCC akan dilengkapi dengan Hotel Amaris, yakni merek properti hotel yang jaringannya dikembangkan oleh PT Graha Multi Utama, yang juga yang berada di bawah perusahaan induk DMI.

Selain Bali, NDI membuat sebuah terobosan baru dalam menjawab kebutuhan convention & exhibition hall di kota Medan dengan membangun Medan International Convention Centre (MICC), yang terintegrasi dengan hotel berbintang 4, Santika Dyandra Premiere Hotel. NDI juga tengah memulai proyek prestisius dengan membangun 2 buah convention centre berskala internasional yang berlokasi di Serpong-Tangerang, Jawa Barat dan Makassar, Sulawesi Selatan.

Untuk proyek di Serpong, NDI membangun Indonesia International Expo (IIExpo). Proyek IIExpo ini akan menjadi gedung convention & exhibition hall terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Proyek prestisius NDI lainnya adalah Santika Dyandra Makassar, yang merupakan integrasi hotel serta convention & exhibition hall terbesar di Indonesia Timur.

Terakhir, dalam pilar bisnis industri hotel, DMI pun mempunyai perusahaan tersendiri. PT Graha Multi Utama (GMU) dibentuk sebagai pilar bisnis, yang berperan sebagai  pemilik hotel-hotel milik DMI yang berada di seluruh Indonesia. Untuk jenis hotel yang berbintang 2, merek hotel yang digunakan adalah Hotel Amaris. Jenis hotel berbintang 3, merek hotel yang digunakan adalah Hotel Santika. Dan khusus untuk bintang 4, merek hotel yang digunakan adalah Santika Premiere dan Santika Premiere Dyandra.

Dalam portofolio GMU, tercatat ada 6 hotel milik GMU yang telah beroperasi, sementara 5 hotel lainnya akan selesai dirampungkan tahun ini, dan 10 hotel lainnya akan dibuka pada tahun 2014. GMU menargetkan untuk lima tahun ke depan akan dapat mengoperasikan 50 hotel dengan 6.000 kamar, yang berkonsep jaringan hotel dengan tingkat penyebaran merata di semua ibukota provinsi bahkan hingga ke tingkat kabupaten di Indonesia.

“Kami lagi berfokus dengan pembangunan hotel, di mana target kita hingga 3 tahun ke depan yaitu akan memiliki 21 hotel dengan menggunakan brand Hotel Santika dan Hotel Amaris,” tandas Danny. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)