Minyak Oles Bokashi, dari Bali Menuju Pasar Global

 

Nama aslinya Gede Ngurah Wididana.  Namun kini, ia lebih dikenal dengan nama Pak Oles. Gara-garanya, tahun 1997 ia menemukan racikan minyak oles multikhasiat berbasis teknologi effective microorganism (EM) yang pernah dipelajarinya di Jepang, yang dipadu dengan usadha, pengobatan tradisional ala Bali. Racikannya itu kini dikenal dengan nama minyak oles Bokashi.  Kata bokashi diambil dari bahasa Jepang yang berarti fermentasi.

Gede Ngurah Wididana, pendiri Minyak Oles Bokashi Gede Ngurah Wididana, pendiri Minyak Oles Bokashi

Jauh sebelum itu, Wididana – yang memang senang mempelajari pengobatan tradisional Bali – telah membuat ramuan dari minyak kelapa dan beberapa rempah yang diasapkan di tungku dapur tradisional selama tiga bulan sebelum siap digunakan. Fermentasi secara alami ini menghasilkan antioksidan yang diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara teknologi EM yang digunakan untuk membuat minyak oles Bokashi merupakan proses fermentasi buatan terkontrol dengan memanfaatkan mikroorganisme. “Keduanya sama-sama proses fermentasi. Akan tetapi, dengan EM, fermentasi bisa dilakukan hanya dalam dua minggu,” ujar lulusan S-1 Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Udayana tahun 1985 ini.

Ketika bekerja di Laboratorium Pertanian Universitas Nasional (Unas), Jakarta, Wididana memperoleh  beasiswa pendidikan S-2  dari Faculty of Agriculture University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang. Di sinilah Wididana belajar langsung dengan Prof. Dr. Teruo Higa, yang tahun 1980 menemukan teknologi EM. Teknologi ini mulanya digunakan untuk melakukan fermentasi sampah menjadi pupuk organik, sebagai pengganti penggunaan pupuk kimia.

Lulus dari pendidikan S-2, Wididana kembali ke Jakarta untuk menjadi dosen dan Kepala Laboratorium Pertanian Unas. Dia boleh dibilang orang Indonesia pertama yang menguasai  teknologi EM. Hanya bertahan empat tahun di Jakarta, tahun 1994 Wididana memutuskan kembali ke kampung halamannya.  Tekadnya bulat untuk berwirausaha.

Wididana lalu mendirikan  PT Songgolangit Persada yang memasarkan sejumlah pupuk organik, seperti EM4, Sarula, Saferto, Ecocity dan Bokashi Kotaku.  Pupuk organik itu diolah dari sampah rumah tangga.  Ia juga mendirikan  Yayasan Institut Pengembangan Sumberdaya Alam, lembaga untuk mengembangkan pertanian organik dengan menanam tidak kurang dari 135 jenis tanaman obat yang sepenuhnya dijalankan dengan teknologi EM, di atas lahan seluas 7 ha.

“Teknologi ini sangat bermanfaat bagi dunia pertanian kita,”  Wididana menegaskan.  Karena itulah, ia  secara konsisten sejak awal tahun 1990-an   terus melatih petani di seluruh pelosok desa untuk memanfaatkan EM, walau tanpa dukungan pemerintah.

“Awalnya saya memang mendirikan perusahaan pembuat pupuk organik yang diolah dari sampah,” tambah bapak empat anak kelahiran 9 Agustus 1961 ini.

Sukses dengan produk pupuk, Wididana mencoba peruntungannya dengan membuat minyak oles.  Tanpa diduga, produk minyak oles yang dikemas dalam botol plastik ukuran 12,5 ml dan 35 ml itu  mendapat sambutan hangat. Tidak perlu waktu lama, minyak oles Bokashi makin diterima masyarakat.  Karena itu, tahun 2000  – dengan modal Rp 20 juta dan dibantu lima karyawan – Wididana mengibarkan PT Karya Pak Oles Tokcer untuk memproduksinya  dalam volume besar.

Kini,   tidak kurang dari 40 jenis produk obat-obatan alternatif berhasil diciptakan Wididana dengan memanfaatkan teknologi EM.  Antara lain berupa produk minyak tetes, minyak rajas, parem, madu, masker, salep, balsem, air herbal,  hingga minyak relaksasi untuk spa.

Tidak hanya itu, Wididana juga menciptakan produk pemeliharaan sanitasi lingkungan. Antara lain ada  Ecocity-1 untuk membersihkan lantai dan menghilangkan bau. Ada juga EM-4 untuk pertanian, peternakan, perkebunan dan pengolahan limbah. Lalu ada produk EM Toilet untuk menghilangkan bau tak sedap limbah WC. Dan  Sarfeto-5 untuk mencegah serangan hama, Sarula-3 untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil pertanian.

Namun dari sekian banyak produknya tersebut,  Wididana mengaku minyak oles Bokashi merupakan produk yang paling banyak diminati.  “Minyak oles Bokashi menyumbang pemasukan hampir 60%,” ujarnya.

Demi menjaga kesinambungan bisnisnya,  Wididana menggandeng 50 orang petani untuk dibina sebagai petani plasma yang memasok kebutuhan bahan bakunya.  Ia juga membuka pabrik baru di Denpasar yang menyerap 150 orang tenaga kerja untuk proses produksi. Adapun untuk pemasarannya, Wididana masih mengandalkan penjualan door to door yang  dijalankan para SPG yang jumlahnya hampir 700 orang di seluruh Indonesia  (400 orang di antaranya di Bali). Di samping itu,  ia pun  bekerja sama dengan apotek,  toko  dan supermarket.  Sejauh ini,  Bali diakuinya masih menjadi pasar terbesarnya (50%), disusul Surabaya, Lombok, Jakarta dan Yogyakarta. “Kami bisa tumbuh karena melakukan perbaikan manajemen pemasaran,” katanya.

Untuk promosinya,  selain memanfaatkan  radio dan koran miliknya, media sosial – Facebook dan Instagram – juga dipakai Wididana  sebagai sarana promosi produknya.

Wididana mengaku hingga saat ini  pasar ekspor memang belum bisa dirambah maksimal karena kesulitan perizinan. Namun, menurutnya, makin banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali yang mencari minyak oles Bokashi sebagai buah tangan.

Seiring telah keluarnya izin ekspor, harapan Wididana untuk merambah pasar luar negeri sudah di depan mata. “Tahun depan kami akan memasuki pasar global,”  katanya, seraya menyebutkan pasar Jepang, Thailand, Singapura dan Malaysia akan menjadi pasar ekspor utamanya. “Mimpi saya adalah menjadikan minyak oles (Bokashi) sebagai produk nasional dan mampu menembus pasar global,” kata  suami Komang Dyah Setuti ini. (Reportase: Silawati)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)