Anne Avantie: Calon Pengusaha Butuh DNA Kreatif

Tahun lalu Anne Avantie berhasil menyisihkan ratusan pengusaha wanita Indonesia dan dianugerahi sebagai jawara Ernst & Young Entreprenurial Winning Women. Bakatnya di bidang seni desain, mengantarkan Anne menjadi salah satu desainer ternama di Tanah Air. Wanita kelahiran Semarang, 20 Mei 1964 juga dinobatkan sebagai pengusaha wanita yang sukses di industri kreatif yang ditandai dengan kemajuan bisnis serta segudang penghargaan. Apa rahasianya? Berikut nukilan wawancara Ario Fajar dari SWA dengan Anne.

Bagaimana perkembangan bisnis Anda sekarang?

Anne Avantie Management didirikan tahun 1998, awalnya hanya bisnis perancngan kebaya, lalu berkembang menjadi 12 unit bisnis mulai dari kerajinan, kafe, fashion restoran, batik, rumah pengantin (wedding house), photo studio, dan pengembangan sumber manusia untuk wanita. Dari puluhan karyawan di awal tahun, kini karyawan yang saya kelola sudah mencapai 350 orang.

Apa kiat untuk memajukan bisnis tersebut?

Setiap usaha yang dijalankan dengan serius pasti akan menemui pencerahan. Dibutuhkan seorang pengusaha yang passionate terhadap apa yang ia kerjakan, diiringi dengan kemampuan melihat peluang pasar.

Kemampuan apa yang Anda andalkan untuk membangun kerajaan bisnis ini?

Saya hanya lulusan SMA. Secara background pendidikan, saya mungkin terlihat tertinggal jauh dengan wanita-wanita hebat yang lainnya, yang mahir melobi dan berbahasa asing. Saya menyadari kekurangan saya, tapi kekurangan itu bukan untuk ditutup-tutupi. Sejak kecil, saya menyadari ketertarikan saya pada desain, batik, kebaya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kreatifitas. Menyadari hardskill itu, saya terus mengasahnya sampai menemukan apa yang menjadi tujuan saya yakni menjadi pengusaha yang mempekerjaan banyak orang.

Apa yang dibutuhkan agar bisa menjadi seperti Anda?

Tidak perlu menjadi seperti saya. Kerjakan dan lakukanlah bisnis yang sekiranya itu sangat potensial. Yang diperlukan adalah menyebarkan DNA kreatif ke lingkungan kita. Entah dari orang tua ke anak, dari pimpinan ke bawahan, atau sesama pengusaha. Calon pengusaha butuh DNA kreatif

Bagaimana Anda menyebarkan DNA kreatif?

Kemampuan yang saya dapat tidak terlepas dari pembelajaran yang diberikan oleh kedua orang tua saya, Amie Indriati dan Alm. Hary Alexander. Saya juga selalu memberikan pengetahuan ke anak-anak tentang bisnis ataupun segala hal yang saya kerjakan. Anak pertama saya, Eurfrasya Intan Avantie adalah wirausaha muda di bisnis fashion dengan mendirikan INAV Butiq, sedangkan anak kedua saya, Yohanes Ernest Christoga adalah pengusaha sekaligus Chef di bisnis kuliner, Avantie Can Cook.

Calon pengusaha butuh pembelajaran dan pengalaman. Saya tidak pernah merasa diganggu atau direpotkan ketika anak saya banyak menanyakan ini-itu tentang apa yang saya kerjakan. Sejak kecil, saya perkenalkan mereka dengan bisnis. Mereka melihat, banyak tanya, dan akhirnya berpartisipasi dalam bisnis ini.

Jadi apa saran Anda untuk pengusaha?

Kebanyakan dari pengusaha wanita yang memiliki anak kecil selalu merasa terganggu ketika pekerjaannya direcoki oleh anaknya. Padahal itu adalah tahap awal penyebaran DNA kreatif ke anak usia dini. Ketika anak sudah mulai mengerti apa yang dikerjakan ibunya, dan ia lalu mencintai pekerjaan yang sama dengan ibunya, berarti proses transfer ilmu sudah dikatakan berhasil.

Jadi tak perlu terpaku dengan mengajarkan anak kita ke institusi pendidikan formal/bisnis. Dari kebiasaan kecil pun, kita orang tua atau siapapun, bisa menjadi mentor buat lingkungan kita. Intinya, beri mereka kesempatan dan kepercayaan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)