Bisnis Cetak Foto Jepret yang Menggiurkan

Foto booth sudah beberapa tahun ini menjadi salah satu tren pada setiap acara pernikahan maupun acara lainnya. Para pengunjung di suatu acara biasanya sangat senang bisa berfoto bersama rekan-rekannya, kemudian bisa mendapatkan langsung hasil cetakannya yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan. Nah, Andri Yadi, pendiri startup Dycode pun tak ingin kehilangan momen saat pernikahannya. Ia ingin membuat yang spesial di hari bahagianya tersebut. Akhirnya bersama tim, membuat layanan cetak bernama Jepret yang akan digunakan untuk melayani para tamu undangan berfoto.

IMG-20160411-WA0003_resized_2(1)

Biasanya, para tamu undangan harus mengantre untuk foto booth. Dengan Jepret, mereka bisa memanfaatkan layanan tesebut untuk mencetak foto tanpa perlu mengantre panjang. Cara kerja Jepret cukup mudah, pengunjung cukup berfoto melalui ponselnya masing-masing lalu diunggah ke media sosial seperti Twitter, Instagram dan Path disertai dengan hastag yang telah ditentukan oleh penyelenggara acara. Dengan alat bernama Allegra, foto yang berhastag akan tercetak otomatis dengan ukuran kertas foto 4R.

Idenya ternyata direspons positif oleh para tamu undangan yang penasaran dengan teknologi baru ini. Dari sinilah ide bisnis itu tumbuh pada tahun 2014. Namun satu tahun pertama memang menjadi suatu tantangan bagi Dycode untuk mengenalkan Jepret kepada masyarakat. Startup ini mulai serius menggarap bisnis ini dengan mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut. Agar lebih dikenal luas, di tahun 2015, Dyan R.Helmi, CMO Dycode mengungkapkan, Jepret mulai mengikuti pameran-pameran pernikahan. Ia juga mengenalkan teknologinya kepada wedding organizer.

IMG-20160411-WA0004_resized(1)

Bisnisnya pun mulai berkembang, kini Jepret sudah mempunyai 10 alat yang disewakan untuk acara pernikahan hingga acara-acara di perusahaan. Mereka juga telah bekerja sama dengan beberapa hotel di Bandung. Perusahaannya selalu berusaha menjadi sponsor acara-acara di Bandung. Katanya, cara tersebut menjadi alat yang efektif untuk melakukan promosi.

“Peminatnya luar biasa, bulan Maret saja kami jalan sama satu perusahaan untuk melakukan kampanye selama dua minggu,” jelasnya saat diwawancara oleh SWA Online.

Walaupun mempunyai beberapa kompetitor, ia mengaku tidak khawatir lantaran teknologi yang dibuatnya berbeda. Peralatan miliknya sudah otomatis atau tidak memerlukan komputer untuk mencetak fotonya. Dari segi harga pun kompetitif, untuk acara pernikahan yang berlangsung tiga jam dikenakan harga Rp 4 juta dengan pencetakan foto yang tidak terbatas. Sedangkan untuk acara yang memakan waktu selama 6 jam dikenakan biaya sebesar Rp 6 juta. Dalam sebulan bisnisnya bisa mendapatkan omset minimal Rp 30 juta hingga ratusan juta per bulannya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)