Grup Boga, Raja Resto yang Kian Berkibar

Profesional yang biasa mengadakan rapat di mal-mal premium Jakarta rasanya tak akan asing dengan jaringan restoran seperti Bakerzin, Sushi Tei, Pepper Lunch, Master Wok, Paradise Inn, Onokabe, Paradise Dynasty, Kintan Buffet atau Shaburi. Merek-merek resto tersebut memang cukup populer di kalangan kelas menengah Jakarta, bahkan sudah masuk ke sejumlah kota besar lain di Indonesia.

Deretan resto tersebut tak lain dihadirkan oleh Grup Boga, pemain bisnis resto yang memulai penetrasi tahun 2002. Membuka gerai pertama pada tahun itu, saat ini Grup Boga telah mengelola delapan merek resto dengan total 136 gerai di 12 kota di Indonesia. Diam-diam grup ini telah melibatkan tak kurang dari 3.000 karyawan dalam bisnisnya. Perusahaan ini punya keunikan tersendiri dalam menggarap pasar karena lebih suka menggunakan konsep multimerek dalam menembak pasar. Jangan heran, dari resto masakan Jepang, China hingga campuran semua tersedia di Grup Boga.

Grup Boga

Kusnadi Rahardja, Pendiri Jaringan Resto Grup Boga

Melesatnya Grup Boga tak lepas dari racikan manjur Kusnadi Rahardja selaku pendiri jaringan resto itu yang sekaligus menjabat presdirnya. “Saya baru resmi mulai berwirausaha sendiri tahun 2002, setelah saya mendapat kepercayaan untuk membuka Bakerzin di Indonesia. Namun sebelumnya, saat saya masih bekerja, saya juga sudah sempat merintis bisnis kafe bersama beberapa teman,” Kusnadi mengisahkan awal bisnisnya.

Kusnadi termasuk wirausaha terdidik. Ia bukan pebisnis yang hanya bermodal berani. Ia menyelesaikan program MBA di Carnegie Mellon University di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, tahun 1995. Kemudian, punya pengalaman kerja selama hampir delapan tahun di perusahaan top, seperti Johnson & Johnson dan PT Anugerah Pharmindo Lestari, dengan jabatan terakhir sebagai wakil direktur.

Awal tahun 2000 Kusnadi melihat ceruk terbuka di bisnis resto. Saat itu, industri resto di Indonesia umumnya masih dikelola dalam format usaha keluarga dan hanya punya satu merek dan satu gerai. Di sisi lain, ketika masih di AS, ia melihat industri resto di sana bisa dikelola secara profesional dengan melibatkan banyak merek dan ratusan gerai. “Kenyataan itulah yang membuka wawasan saya, bahwa apabila dikelola secara profesional, bidang usaha restoran bisa menjadi sebuah perusahaan besar,” ungkapnya.

Kusnadi ingin menghadirkan konsep bersantap baru yang belum ada di negeri ini. Langkah pertama, ia memilih membawa Bakerzin ke Indonesia karena saat itu ia melihat konsep dessert bar belum ada. “Awalnya, susah sekali membawa Bakerzin ke sini. Saya butuh waktu hampir setahun, mulai dari ketemu pertama kali lalu dibawa ke sini untuk diperlihatkan ini lho tempatnya, ini lho pasarnya. Sampai akhirnya mereka setuju karena memang sudah yakin di sini memang berpotensi dan itu terbukti kan sampai sekarang kami sudah berkembang,” papar Kusnadi seraya menambahkan, gerai pertama Bakerzin di Cilandak Town Square.

Beberapa bulan setelah Bakerzin, ia membawa Sushi Tei. “Boga Group berkembang dengan prinsip bahwa kami selalu sebagai trend setter ataupun leader, jadi kami bukan follower. Mulai dari konsep dessert bar yang pertama itu dari kami, yaitu Bakerzin, lalu sushi dengan conveyor belt yang pertama ada di Sushi Tei. Kami memiliki keunikan sendiri yang akhirnya menjadi pionir,” Kusnadi menjelaskan kiat bisnisnya.

Sebagian besar merek resto yang dikembangkan Grup Boga merupakan merek multinasional yang dimiliki prinsipalnya. Ada pula merek resto yang dikembangkan sendiri karena melihat celah pasar yang ada. Contohnya, resto Master Wok. “Saya melihat waktu itu ada kekosongan di segmen food court untuk Chinese food. Belum ada yang serius menggarap. Dari sanalah muncul ide membuat Chinese food cepat saji itu, tahun 2013. Lalu, kami buka Master Wok di Kelapa Gading, Senayan City, Lotte Shoping Avenue, Karawaci, dan seterusnya,” Kusnadi menjelaskan.

Salah satu kiatnya dalam membesarkan resto dengan beragam merek tersebut, masing-masing mesti punya keunikan di pasar. Ia mencontohkan Bakerzin sebagai kafe resto pertama yang menjadikan dessert sebagai menu unggulan; Pepper Lunch sebagai resto do-it-yourself Japanese steak house pertama; Master Wok, pelopor konsep scoop-it-yourself; hingga merek terbaru Grup Boga, Onokabe, yang memelopori konsep all-you-can-eat suki & grill yang digabung dengan berbagai fasilitas untuk memanjakan pelanggan.

Diakuinya, hal terpenting di dalam bisnisnya, selain soal ketepatan dalam menelurkan konsep resto yang unik, juga dalam mencari prinsipal atau partner yang tepat. Untuk itu, dalam bermitra, pihaknya selalu mengedepankan kerja sama jangka panjang. “Yang membedakan, kami membentuk ikatan kuat ke prinsipal maupun dengan partner kami di setiap daerah,” ungkap Kusnadi. Dari segi pendanaan, selain berkembang dari laba ditahan yang diinvestasikan, grup ini juga berkembang melalui pola kemitraan dengan mitra di daerah.

Tak mengherankan, dalam mengembangkan gerai ke daerah, Kusnadi sangat menghormati pandangan mitra lokalnya. “Kami menjunjung tinggi kearifan lokal, dan memberikan kebebasan kepada partner kami di luar kota untuk mengembangkan menu lokal, yang penting selaras dengan DNA brand resto tersebut,” ia menjelaskan. Tentu saja, kualitas makanan menjadi perhatian utamanya. Ia menandaskan, grupnya merupakan perusahaan resto pertama di Indonesia yang sejak 2007 sudah tersertifikasi keamanan pangannya melalui sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) untuk Bakerzin dan Pepper Lunch.

Pihaknya juga terus mengembangkan berbagai jenis makanan melalui proses riset internal karena Grup Boga memiliki Creative Culinary, central kitchen yang salah satu tujuannya untuk memastikan semua produk di setiap greai, baik di Jakarta maupun di luar kota, memiliki kualitas yang terbaik dan konsisten. Selain untuk mendukung kebutuhan internal, Creative Culinary juga memproduksi beragam jenis makanan dan kue untuk kafe/resto di luar Grup.

Sudah tentu, komunikasi pemasaran dan branding menjadi pilar utama yang dijalankan agar resto-restonya eksis di tengah persaingan bisnis resto yang makin ketat sekarang. “Kami memaksimalkan komunikasi di hampir semua channel yang tersedia. Antara lain, melalui media offline/event, online, social media, bermitra dengan pihak ketiga seperti bank dan deal site, serta customer relationship management, yaitu e-mail blast dan Boga loyalty membership card,” lanjut Kusnadi.

Bisa jadi banyak yang tak menduga, salah satu isu penting dalam mengelola lebih dari 100 resto multimerek adalah tentang mengelola SDM. Maklum, resto yang dimiliki tidak seragam, punya konsep yang berbeda-beda. Untuk itu, Kusnadi menerapkan prinsip delegasi dengan baik kepada para general manager (GM) dan manajer di jaringan restonya. “Kami memberikan kepercayaan penuh dan (menerapkan) sistem level of authority agar seluruh jajaran manajerial brand tersebut dapat mengembangkan jiwa dan kreativitas, serta memenuhi harapan pelanggan merek yang menjadi tanggung jawabnya,” tuturnya. Ia yakin dengan sistem level of authority yang dijalankan, jajaran manajemen pasti mampu mengatasi berbagai persoalan di lapangan.

Di Grup Boga, semua GM diposisikan sebagai pemimpin dari sebuah strategic business unit dan diberi otoritas. “Karena itu, sebelum memberikan tanggung jawab kepada seorang GM untuk mengelola merek tertentu, kami selalu memastikan bahwa orang tersebut memang mempunyai karakteristik yang sesuai dan pemahaman yang mendalam terhadap jiwa dan semangat dari brand yang menjadi tanggung jawabnya. Dibantu prinsipal kami, para GM harus menerjemahkan ciri khas merek tersebut yang menjadi harapan pelanggan dan berinovasi,” Kusnadi memaparkan.

Kusnadi bersyukur bisnis restonya bisa berkembang dengan baik meski kondisi ekonomi makro masih kurang menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir. Grup Boga tetap selalu tumbuh di atas 15% per tahun. Banyak pennghargaan yang sudah diterima oleh resto-restonya dari dunia kuliner Indonesia ataupun level Asia. Hanya saja, ia akui, merek-merek resto yang dikelola punya kemampuan tumbuh yang berbeda. Walaupun manajemen memberikan kesempatan kepada semua merek untuk tumbuh, tetap saja ada beberapa yang lebih menonjol dan tumbuh lebih cepat. Kini, salah satu yang menimbulkan kepuasan tersendiri baginya, usahanya sudah menjadi penghidupan bagi lebih dari 3.000 karyawan.

Yang pasti, ia akan terus menghela bisnisnya agar senantiasa tumbuh. Semua merek akan dipacu untuk membuka cabang baru. Dan, ia akan menghadirkan merek-merek resto baru di Indonesia. Contohnya, tahun 2015 Grup Boga mendapatkan lisensi untuk merek resto Shaburi, sedangkan pada 2016 mendapatkan lisensi merek resto Kintan Buffet.

Kusnadi optimistis bisnis resto masih akan sangat menjanjikan karena saat ini masyarakat Indonesia melihat makan di resto sebagai gaya hidup dan hal ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Jangan heran, di Medan, Grup Boga memiliki tiga gerai Sushi Tei yang semuanya eksis.(*)

Editor : Tiffany Diahnisa
Journalist : Teguh Sri Pambudi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Duet Pasutri Membesarkan London Beauty Centre

  Memulai bisnis dari menjual krim kecantikan, pasangan suami-istri Anton Yuwono dan Watji Niwati melebarkan sayap ke bisnis perawatan kecantikan...

Close