Iqbal Farabi Menebar Jala di Berbagai Lini Bisnis

Jika ada orang yang memberi masukan bahwa berbisnis itu harus fokus, maka masukan itu jelas tidak dipakai oleh Iqbal Farabi. Di bawah bendera PT Benang Komunika Infotama (Bcomm), entrepreneurberusia 33 tahun ini justru menebar jala di berbagai lini bisnis.

Bahkan saat ditanya core bisnis Bcomm, beginilah jawaban lulusan S2 Hukum ini: “Telco Network Service, IT Solution, Integrated Media, pertambangan, restoran termasuk juga franchise Takigawa di Batam dan Binus Jakarta, fotografi, event organiser, hingga jualan kompor nabati.”

Awal mendirikan Bcomm, tepatnya September 2003, Iqbal percaya betul jika berbisnis itu harus fokus. Baru sejak tahun 2007, perusahaan yang bermarkas di Arteri Pondok Indah ini mau menangkap berbagai peluang bisnis yang ada.

“Saya mengambil ilmu dari pengusaha-pengusaha China, India dan negara lainnya yang justru tak pernah ragu menebar jala. Akhirnya saya mulai menebar jala juga. Dapat ikan tongkol, tim tongkol yang menjalankan. Dapat ikan teri, tim teri yang menangani. Dapat ikan kakap, tim kakap yang menggarap. Yang terpenting adalah fokus terhadap bisnisnya, bukan fokus pada bidang usahanya,” jelas pengoleksi uang koin kuno ini.

Selain tidak pernah ragu menebar jala, dalam berbisnis ia juga mempercayai prinsip “ATM” (amati, tiru dan modifikasi). “Misalkan ada peluang di bisnis restoran, saya melihat apa yang sedang tren. Kemudian saya mempelajari ilmu restoran. Saya bentuk tim yang khusus fokus menggarap bisnis restoran, bentuk Research & Development-nya. Tentukan sanggup atau tidak membuat brand sendiri. Jadi buat saya dalam berbisnis adalah amati, tiru dan modifikasi,” kata pria kelahiran 2 februari 1978 ini.

Dan tak lupa, sebagai seorang entrepreneur, bagi bapak tiga anak ini selalu mempunyai mimpi. Ketika mimpi itu sudah bisa digapai, harus memiliki mimpi baru lagi. Ia mencontohkan, jika sahabatnya, Anindya Bakrie, lahir tertawa terbahak-bahak, maka Iqbal menangis tersedu-sedu.

“Bapak saya seorang PNS biasa, namun sejak kecil saya selalu punya mimpi. Ketika SD saya bermimpi ingin punya uang jajan, saya lalu menjual jawaban dari pekerjaan rumah (PR) ke teman-teman. Bermimpi kuliah, saya lalu mencari-cari beasiswa dan akhirnya bisa kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta. Bahkan saya ditawari melanjutkan S3 saya oleh UPH, namun saya memilih berwirausaha,” ujar pria asal Sumatera Barat yang mengaku mengidolakan Jusuf Kalla dan Chairul Tanjung. (Lila Intana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)