Lulusan Al-Azhar Mesir Ini Sukses Berbisnis Ayam Organik | SWA.co.id

Lulusan Al-Azhar Mesir Ini Sukses Berbisnis Ayam Organik

Luqman Hakim berkali-kali merasakan getirnya menjadi pengusaha. Ia seringkali merugi di bisnis ikan lele dan ternak ayam. Ketika mengelola bisnis ikan lele, Luqman merugi ratusan juta rupiah lantaran mengalami praktik bisnis yang tidak sehat ketika berbisnis lele di tahun 2009-2010. Setiap kali panen, harga lele dari tambaknya ini turun drastis karena pasar lele dikuasai segelintir pebisnis lele yang memainkan harga untuk menjatuhkan bisnis kompetitornya. Luqman beralih menjadi peternak ayam. Alih-alih mencari untung, Luqman malah dibekap kerugian yang cukup besar. Faktor penyebabnya tak jauh berbeda saat menekuni bisnis ikan lele. “Saya harus berhadapan dengan perusahaan besar yang mendominasi pasar-pasar tradisional dan risiko fluktuasi harga,” ujar Luqman.

Luqman Hakim (kiri), bersama dua temannya membesarkan peternakan ayam organik. (Foto : Dokumen Pribadi)

Lulusan S-1 Fakultas Hukum Islam, di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1996-2000) ini mengubah haluan bisnisnya. Dia mencari pasar yang tidak digarap oleh pemain besar. Pilihannya jatuh  ke peternakan ayam organik. Luqman berguru ke Balai Penelitian Ternak di Ciawi, Bogor, Jawa Barat untuk mempelajari teknik menternak ayam organik, antara lain membuat pakan ayam herbal, mencari formulas khusus untuk meramu bahan-bahan herbal menjadi pakan ternak hingga menurunkan tingkat kematian (moralitas) ayam ternak di kandang.  Untuk urusan herbal, Luqman sudah tidak asing lagi berkutat dengan bahan-bahan alami ini. Sebab, dia pernah memiliki klinik herbal di pusat perbelanjaan ITC Depok, Jawa Barat.

Di Balai Penelitian Ternak itu, Luqman dibimbing oleh akademisi dan peneliti yang kompeten, salah satunya adalah Profesor Dr. Desmayati Zainudin. “Sekitar tahun 2010 atau 2011  saya dibimbing membuat jamu herbal untuk pakan ayam organik, mencari dosis yang terpat untuk ayam ternak,” ujarn Luqman. Dia juga mempelajari teknik meningkatkan produktivitas dan tingkat kematian ayam ternak.

Singkat cerita, pengetahuan Luqman semakin meningkat dalam mengelola peternakan ayam. Dia bersama teman-temannya membuka peternakan ayam organik di Purwakarta, Jawa Barat. Keuntungan dari ayam herbal ini adalah nilai jualnya yang lebih tinggi daripada ayam konvesional. Harga ditingkat peternak ditetapkan sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Luqman mendistribusikan ke pasar-pasar tradisional dan penjual ayam. “Tahun pertama hasil panen kami belum bagus karena harganya turun, di tahun kedua yakni pada 2011 hasil panen kami lebih bagus karena harganya sedang naik,” ungkapnya. Sejak subuh-malam hari, Luqman menjajakan ayam organik kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Di tahap awal, Luqman seringkali menghadapi risiko bisnis, antara laian minimnya pembeli sehingga penyimpanan ayam potong di mesin pendingin (cold storage) banyak yang terbuang lantaran sudah tak layak konsumsi. Luqman pun merugi hingga puluhan juta rupiah. Titik balik bisnis Luqman menunju titik terang tatkala Luqman mendirikan bisnis ayam goreng organik bermerek Herbal Chicken di tahun 2013. Jadi, ayam organik dari peternakan diserap Herbal Chicken. Ketekunan Luqman diganjar hasil yang memuaskan tatkala isterinya, Redia Frisna, mendirikan usaha resto khusus ayam goreng organik bermerek O’Chicken pada 2012. Bisnis isterinya terpisah dengan bisnis ayam ternak dan Herbal Chicken-nya Luqman. Peternakan ayam organik Luqman ini di bawah naungan  PT Elha Narita Perkasa, yang didirikan Luqman bersama kedua temannya dari alumnus Pesantren Gontor, yaitu Yayan Suryana dan Irfan Fauzi

Saat ini, bisnis Luqman mencakup hulu-hilir ayam organik, yaitu memproduksi pakan ternak ayam organik, rumah pemotongan ayam (RPA) dan distribusi ayam organik ke Herbal Chicken serta O’Chicken. Distribusi ayam organiknya juga menjangkau pasar-pasar modern di wilayah Jabodetabek, perkantoran, rumah sakit, dan sekolah-sekolah. Menurut Luqman, ayam organik adalah jenis ayam potong yang dibudidayakan dari menetas hingga panen yang dikembangbiakkan dengan pakan dan minuman yang tidak mengandung bahan kimia.  ayam yang dibudidaya dengan cara organik ini akan memiliki tampilan yang lebih segar dan rasa yang lebih enak dari ayam biasa. “Setiap panen, kami rutin menguji sample ayam ternak organik di laboratorium Ciawi,” tutur Luqman. Uji laboratorium itu mencakup tes kadar protein, kolesterol dan kandungan bakteri.(*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Gandeng Telin, Indigo.id Perluas Akses Aliansi Global

Pada akhir pekan lalu (8-10 Maret 2017) berlokasi di Hyatt Hotel, Nusa Dua, Bali telah diadakan BATIC (Bali Annual Telkom...

Close