Masril Koto: Kenali Dulu Lingkungan Sosialnya Sebelum Beraksi

Masril Koto, pendiri Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani, di Nagari Koto Tinggi, Sumatera Barat, adalah tokoh yang sukses di bidang social entrepreneur. Institusi yang didirikannya kini memiliki aset lebih dari Rp 250 miliar, memiliki 550 unit cabang, dan mempekerjakan 1.500 karyawan. Bagaimana Masril Koto mulai menggulirkan bisnis sosialnya? Berikut ini penuturan Masril Koto kepada Mochamad Januar Rizki:

Bagaimana cara memilih bidang permasalahan yang dientaskan dalam bisnis sosial?

Sebaiknya mengerti dulu arti sosial enterpreneur. Artinya, bagaimana kita melihat prospek di dalam suatu masalah. Misalnya, orang-orang banyak bercerita tentang masalah lingkungan tapi hanya mengumpat-umpat saja. Namun ada orang yang berpikir berbeda. Orang tersebut berbuat sesuatu dengan mencari solusi. Contoh, bank sampah atau lembaga keuangan petani yang saya lakukan. Ini berawal dari masalah namun bisa diselesaikan.

Tidak hanya sampai di situ, namun ada aspek-aspek yang harus diperhatikan. Cenderung, perusahaan yang memberikan CSR kepada masyarakat dengan membuat unit usaha. Namun tidak dilakukan pendampingan. Ini sama saja dengan sedekah. Social enterpreneur itu harus melakukan pendampingan hingga unit usaha itu bisa berkelanjutan.

Terkait hal tersebut, untuk memilih sektor yang ingin dientaskan harus tahu lingkungan sekitar terlebih dahulu. Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang ingin diberdayakan. Seorang pemberdaya jangan membawa pikirannya sendiri atau merasa tahu. Jangan berpikir usaha orang yang ingin dibantu gagal karena kekurangan modal, lalu dibantu dengan memberikan modal. Padahal, belum tentu usaha tersebut gagal karena kekurangan modal. Seharusnya, seorang atau tim yang ingin memberdayakan masyarakat dengan sosial enterpreneur harus melakukan pendekatan kepada masyarakat tersebut. Sehingga tahu titik masalah dari masyarakat tersebut.

masril_koto

Menurut Anda, bagaimana kiat-kiat untuk memulai usaha?

Terlebih dahulu lakukan pendekatan dengan masyarakat yang ingin diberdayakan sehingga tahu masalah utamanya. Ketika masalah sudah didapat, baru kita berpikir bagaimana cara menyelesaikannya dengan bisnis sosial apa yang harus dilakukan. Untuk mengetahui usaha apa yang ingin dilakukan, minta pendapat dari masyarakat yang ingin diberdadayakan. Mengetahui faktor budaya masyarakat sangat berpengaruh.

Bagaimana memotivasi sehingga banyak orang terlibat dalam program?

Buat program yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Ketahui dahulu budaya masyarakatnya untuk melakukan pendekatan. Seorang pemberdaya atau sosial enterpreneur bertindak sebagai pemancing saja. Pancing masyarakat tersebut untuk mencari tahu solusi permasalahannya. Sehingga mereka akan tertarik dengan sendirinya dari solusi masalah yang didapat. Buat program-program yang dipikirkan bersama-sama. Setelah keluar rekomendasi dari permasalahan baru dikelola secara wirausahawan.

Bagaimana melibatkan tokoh-tokoh sehingga menjadi magnet penggerak?

Tokoh-tokoh sebagai magnet penggerak diperlukan. Sebab, kita tidak bisa bekerja sendirian. Selain modal, paling terpenting adalah ilmu-ilmu yang didapat dari tokoh tersebut. Saya baru tahu SOP itu dari orang-orang di Jakarta.

Supaya orang-orang tersebut tertarik terhadap bisnis sosial yang kita lakukan adalah permasalahan yang menarik. Lalu, mereka melihat bagaimana cara menyelesaikannya. Terakhir adalah pengorganisasian yang rapih. Setelah saya terapkan SOP, banyak orang-orang yang ingin membantu lembaga keuangan yang saya lakukan.

Bagaimana bisnis sosial itu bisa mandiri, sehat, teraudit dan berkelanjutan?

Untuk bisnis tersebut bisa mandiri persiapkan kader. Setiap anggota harus diberdayakan supaya tidak ada ketergantungan dan mereka juga bisa diandalkan. Kemudian, agar bisnis tersebut sehat harus buat SOP supaya ada aturan main di komunitas tersebut. SOP mengatur antar pemberdaya sendiri maupun dengan orang yang diberdayakan dalam komunitas tersebut.

Pembukuan juga harus dilakukan. Namun jangan terburu-buru. Usaha saja belum berjalan sudah dilakukan pengauditan yang baku. Ini membuat orang-orang langsung takut sehingga enggak mau bergabung. Saya pertama kali buat pencatatan sejenis pembukuan panjangnya mencapai satu meter. Ini hanya catatan sederhana saja. Setelah usaha tersebut berjalan dan masyarakat juga paham pentingnya pembukuan baru dibuat pembukuan yang baku.

Supaya berkelanjutan usaha tersebut tentunya harus profit. Kalau hanya sosial saja kecenderungannya tidak berkelanjutan. Namun jangan berpikir untuk terlebih dahulu, usaha saya tidak ada gaji selama enam bulan pertama.

Lalu, juga harus tahu kemampuan diri. Saya pernah mendapatkan tawaran pinjaman Rp 60 miliar untuk mengembangkan usaha. Namun saya tolak. Saya merasa enggak mampu mengembalikan atau bertanggung jawab ke depannya.

Bagaimana sosialisasi dari program-program dan mengemas program yang direncanakan?

Saya libatkan keseluruhan komunitas dari pemberdaya maupun masyarakat yang diberdayakan. Salah satunya dengan pertemuan-pertemuan sehingga kita tahu permasalahan masyarakat. Ketika kita tahu masalahnya tersebut, baru buat program yang dibutuhkan. Sehingga masyarakat juga mau terlibat. Misalnya, banyak anak-anak dan ibu yang meninggal karena melahirkan buatlah tabungan hamil. Lalu, untuk anak-anak putus sekolah buatlah tabungan pendidikan.

Bagaiamana manajemen keuangan yang dilakukan?

Buat satu orang bendahara yang mampu bertanggung jawab. Itu lah pentingnya SOP tadi, jadi tahu aturan mainnya. Sehingga tahu sebagai apa dan siapa saya di sana. Kalau tidak ada aturan tersebut akan menciptakan konflik di akhirnya. Saya pernah mengalami konflik tersebut. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)