Paul Sathio, “Atlet Gagal” yang Sukses Berbisnis Properti di Australia

Paul Sathio Paul Sathio, CEO Construction Crown Group

 

Kesuksesan Crown Group menggarap bisnis properti pencakar langit di Australia telah menjadi buah bibir. Tak hanya di Negeri Kanguru, tetapi juga sampai ke Indonesia. Pasalnya, Crown Group yang beromset triliunan rupiah per tahun itu didirikan oleh salah seorang warga negara Indonesia, Iwan Sunito.

Namun, ada satu sosok Indonesia lain yang bersama Iwan turut membangun Crown Group. Dialah Paul Sathio. Berbeda dari Iwan yang kerap tampil di depan media massa, sosok Paul bisa dibilang kebalikannya. Paul yang mantan atlet bulutangkis seangkatan Liem Swie King memang memilih untuk berperan di belakang layar dan berjibaku dengan tenggat konstruksi yang ketat.

SWA mendapat kesempatan langka mewawancarai pria kelahiran 1956 itu dalam acara Familiarization Trip Crown Group pada 21-27 Oktober 2017 di kantor pusat mereka di Market Street Level 29 Sydney, Australia. Itu rencana awalnya. Namun, pada hari yang dijadwalkan, 24 Oktober, Paul absen karena harus menangani urusan mendadak di salah satu proyeknya. Tanpa diduga, SWA menjumpai Paul keesokan harinya secara kebetulan di salah satu sudut jalan di Sydney, usai menyambangi proyek terbaru Crown Group, Apartemen Infinity di Green Square.

Paul yang menjabat CEO Construction Crown Group memang sosok yang sederhana. Dia cukup irit berbicara tentang bisnis. Namun, dia bersedia memaparkan sekelumit keterlibatannya dalam membangun Crown Group bersama Iwan sejak 1996. “Iwan biasa menjadi frontman untuk perusahaan. He likes it. Kalau saya, lebih baik orang tidak banyak tahu saya,” ujar Paul yang ketika ditemui mengenakan kemeja biru muda, celana pantalon, plus helm proyek di kepalanya.

Kedua karakter itu nyatanya saling melengkapi. Di bawah kepemimpinan Iwan dan Paul, Crown Group melaju pesat. Dari perusahaan dengan nilai proyek perdana AUS$ 28 juta menjadi Rp 5 triliun pada 2016. Agustus tahun ini, Crown baru saja meluncurkan apartemen terbaru dan proyek hotel bintang lima pertamanya di Parramatta, salah satu distrik di Sydney, yaitu Skye Hotel Suites dan V by Crown Group.

Selain itu, ada beberapa proyek properti yang sedang dikerjakan Crown Group secara bersamaan. Proyek-proyek itu adalah Waterfall di Waterloo, The Arc di CBD Sydney, Infinity di Green Square, Oasis di Ashfield, dan Skye by Crown Group. Bukan hanya di Sydney, proyek propertinya pada 2018 akan merambah ke Melbourne dengan membangun apartemen senilai US$ 130 juta, berisi 150 unit. Lalu, ada proyek apartemen 500 unit yang menghadap laut di Brisbane senilai AUS$ 250 juta.

Bahkan, beberapa tahun lagi, Crown Group akan merambah dua benua lainnya, Asia dan Amerika. Di Asia, tepatnya di kampung halamannya, Indonesia, Crown Group akan membangun proyek water front di Jakarta Utara bekerjasama dengan PT Pembangunan Jaya Ancol. Proyek apartemen 2.000-3.000 unit itu diperkirakan menelan investasi sekitar Rp 5 triliun. Sementara di AS, tepatnya di Los Angeles, pada 2020 Crown akan mulai membangun proyek apartemen 700 unit di lahan seluas 2.700 m2 dengan investasi US$ 500 juta.

Berbagai pencapaian Crown membuktikan bahwa duet Iwan dan Paul memang sangat klop. Paul memaparkan, Iwan yang lebih banyak memutuskan persetujuan dan berjalannya sebuah proyek. “Setelah proyek berjalan, saya memastikan bahwa setiap proyek bisa tercapai sesuai dan tepat waktu, juga dalam hal kualitas pekerjaan,” kata pemegang gelar Bachelor of Engineering in Civil Engineering dari University of Technology Sydney dan Masters of Engineering Science dari University of New South Wales itu.

Paul sangat teliti memastikan terpenuhinya tenggat waktu proyek dan kualitasnya. Sebab, menurutnya, di sinilah perusahaannya menjaga keuntungan yang ditargetkan dari setiap proyek. “Yang jelas, saya tidak mau dalam sebuah proyek kemudian tiba-tiba ada perubahan. Sebab, perubahan dalam proyek itu biaya tinggi. Ini bisa memengaruhi bujet,” katanya menegaskan.

Banyak penghargaan telah diraih Crown Group atas proyek-proyeknya. “Top Ryde City Living by Crown Group mendapat penghargaan sebagai The Best High Density Project di Australia, selain itu proyek di Parramatta untuk V by Crown dan Skye Hotel Suites sebagai The Best Metro High Density Development di Sydney,” ungkap Paul.

Di sela-sela kesibukannya membesarkan Crown Group, rupanya Paul tidak melupakan obsesi masa mudanya: menjadi atlet bulutangkis. “Saya ini atlet gagal,” katanya sambil tersenyum, mengungkap kecintaannya kepada cabang olahraga yang mempersembahkan emas perdana bagi Indonesia di Olimpiade itu.

Paul yang kerap memenangi kejuaraan bulutangkis di Bali semasa kecil bahkan terus menekuni bulutangkis setelah pindah ke Sydney untuk kuliah sejak 1976. Bahkan, dia sempat mengikuti pertandingan bulutangkis Australia Junior Open di Adelaide, dan berhasil menduduki posisi kedua. Di pertandingan lain seperti Canberra Open dan Sydney Open, Paul bahkan sukses menjadi jawaranya. Karena itu, tidak mengherankan dia kini menjadi sponsor pertandingan bulutangkis Australian Open.

Paul juga mensponsori pertandingan bulutangkis Australian Tournament Director. Kebetulan, penyelenggaranya teman baiknya saat kuliah. “Australian Open biasanya di Victoria, Melbourne. Teman saya itu menyarankan untuk ke Sydney, untuk mendorong tourism. Tahun ini saya menjadi main sponsor di Australian Open, tapi dalam 3-4 tahun ke depan namanya akan menjadi Crown Group Australian Open,” Paul menjelaskan.

Melihat perjalanannya selama ini, Paul merasa bangga perusahaan yang dirintis bersama karibnya telah tumbuh besar. Meski demikian, yang menjadi perhatiannya saat ini adalah menjaga pertumbuhan Crown Group tetap lestari. Pasalnya, dia dan Iwan merasa bertanggung jawab atas kelangsungan hidup karyawan dan mitra kontraktor Crown Group. “Saya selalu berpikir apa next project dan next project lagi, agar Crown Group family bisa tetap bersama. Saya berusaha agar subkontraktor yang bekerja bersama kami, sebagian sudah lebih dari 10 tahun, terus bersama. Keep on board together with us,” ungkap Paul seraya tersenyum. (Riset: Armiadi Murdiansyah)

Editor: Eddy Dwinanto Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)