Pergulatan Si Anak Desa Membesarkan Grup Krisna

//Dengan mengibarkan bendera Krisna Bali Oleh-oleh, Gusti Ngurah Anom berhasil menjadi pengusaha terkemuka di Bali. Bisnisnya yang semula hanya di bidang konveksi dan oleh-oleh, kini semakin beragam. Apa rahasia keberhasilannya?//

Gusti Ngurah Anom alis Ajik Cok, Pendiri dan Pemilik Grup Krisna

Kemegahan saat grand opening Krisna Bali Souvenir Center di Kabupaten Gianyar tergambar dari tarian yang ditampilkan dengan melibatkan ratusan penari, jumlah undangan yang hadir mencapai sekitar 4.000 orang, tata panggung yang megah, dan diakhiri dengan penampilan artis Ibukota Syahrini, pada Rabu, 18 Juli 2018. Ini adalah gerai Grup Krisna (Krisna Holding Company) yang ke-26, atau ke-4 dari rencana membuka enam gerai di tahun 2018, yang berdiri di atas lahan seluas 3 hektare. Letaknya pun tidak di pusat perkotaan, melainkan di sebuah desa bernama Blangsinga, Kecamatan Blahbatu (Gianyar).

Di hari yang sama (pada pagi dan siang hari), Grup Krisna juga meresmikan Krisna Eco Village (destinasi wisata pendidikan dengan konsep taman) di Desa Tangguwisia, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, serta Krisna Water Park yang dibangun di atas lahan seluas 3,5 ha di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Water park ini menjadi wisata air satu-satunya di Bali yang memiliki kolam ombak.

Kabupaten Buleleng di Bali Utara sebetulnya bukan tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Bali karena akses transportasi yang sangat terbatas. Karena itu, membangun objek wisata di daerah tersebut merupakan pertaruhan besar. Untuk menuai hasil dari investasinya itu, tentu perlu perjuangan yang tidak ringan. “Niat saya adalah membantu pengembangan wisata di Bali. Selanjutnya, biar Tuhan yang mengaturnya,” kata Gusti Ngurah Anom, pendiri Krisna. Ia tak peduli, meskipun ada yang mengatakan dirinya “gila”. Apalagi, Buleleng adalah kota kelahirannya, sehingga ia pun merasa terpanggil untuk mengembangkan daerah tersebut.

Bagi pengusaha yang akrab dipanggil Ajik Cok ini (“ajik” adalah panggilan anak kepada bapak di Bali), kerja keras adalah hal yang biasa ia lakukan sejak memulai bisnis. Ia mengemukakan, dalam mengembangkan bisnis, dirinya tidak merasakan tantangan berat. Sebab, tantangan paling berat sudah dilaluinya ketika dia baru keluar dari kampung halamannya. “Saya lahir dari keluarga miskin, begitu merantau, bekerja sama orang dan dapat penghasilan, saya merasa senang,” ujarnya mengenang. Begitu membuka usaha sendiri, tantangan berat tidak dia rasakan lagi. Walau begitu, suka dan duka tetap ada. “Saya bahagia saja, apa pun kejadian di usaha saya, baik-buruk, saya tidak pernah marah. Tanyakan saja ke karyawan saya,” tutur Ajik Cok.

Sekilas menengok ke belakang, Ajik Cok yang lahir di Desa Tangguwisia, Kecamatan Seririt, Buleleng berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Saat ia kanak-kanak, keluarganya kerap kesulitan untuk memenuhi keperluan sekolahnya. Hingga suatu hari, ayahnya, Gusti Putu Raka, mengatakan tidak sanggup lagi menanggung biaya sekolah. Ajik Cok yang baru tamat SMP memutuskan meninggalkan rumah dan mengadu nasib ke Denpasar karena ingin mengubah nasib.

Saat pergi meninggalkan rumah, ia tidak bilang kepada siapa pun. Tekad besarlah yang mendorongnya melangkahkan kaki untuk merantau ke kota. Pekerjaan pertama yang digelutinya adalah menjadi tukang cuci mobil. “Pendapatannya lumayan, dan tidak mungkin bisa saya dapat kalau tetap tinggal di desa,” katanya. Pekerjaan ini dijalaninya selama sekitar dua tahun, dan ia berhenti menjadi tukang cuci mobil karena kondisi badannya menurun akibat terlalu sering bekerja sampai tengah malam. Akhirnya, ia bekerja di tempat konveksi milik Made Sidharta, yang di kemudian hari pengusaha ini menjadi mentornya dalam membesarkan Grup Krisna hingga bisa seperti sekarang. Dalam berbagai kesempatan, Ajik Cok kerap menyebut Made Sidharta sebagai sosok yang berperan besar dalam menjadikan dirinya sebagai pengusaha papan atas di Bali.

Ajik Cok Bersama dengan Priyantono Rudito (Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran Strategis) dan Vita Datau (Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata, pada saat peresmian Krisna Water Park Lovina, Buleleng-Bali.

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)