PT Toba Surimi Industries: Juragan Besar Ikan dari Medan

Mengelola usaha di bidang perikanan sebenarnya bukanlah cita-cita Gindra Tardy. Sejak kecil, orang tuanya selalu berpesan agar dia mau menjadi karyawan di perusahaan besar. Untuk itulah, menuntut ilmu setinggi-tingginya dan memiliki karier cemerlang di perusahaan besar merupakan misi Gindra di masa muda.

Namun siapa sangka, nasib membawanya ke peruntungan yang lain. Pria yang memiliki hobi merakit elemen listrik itu justru sekarang jadi pengusaha besar. Perusahaannya, PT Toba Surimi Industries, telah menjelma jadi juragan besar ikan asal Medan, Sumatera Utara. Jumlah karyawannya telah mencapai 650 orang. Kapasitas produksi per tahun pabriknya mencapai 4 ribu ton, terdiri dari 20 jenis produk, mulai produk olahan rajungan pasteurisasi (pasteurized crabmeat), olahan seafood beku (frozen seafood), hingga makanan olahan kalengan (canned sterilized seafood).

Nilai ekspor Toba Surimi saat ini tercatat di kisaran US$ 20-30 juta per tahun. Perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1998 itu memang aktif mengekspor ke berbagai belahan dunia seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Jepang, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Australia, Afrika Selatan, dan lain-lain. Beberapa buyer ternama menjadi pelanggan setia Toba Surimi, seperti Bumble Bee dan Chicken of the Sea dari AS.

Selain di Medan, Toba Surimi memiliki pabrik di beberapa kota besar lainnya, termasuk di Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Perusahaan ini pun telah menjadi tempat bernaung ratusan nelayan binaan yang tersebar di Aceh, Sibolga, Tanjung Ledong, Batam, Kepulauan Riau, dan Tanjung Balai. Toba Surimi memfasilitasi para nelayan binaannya dengan peralatan menangkap ikan dan cold storage untuk penyimpanan hasil laut.

Gindra Tardy, Pendiri PT Toba Surimi Industries Gindra Tardy, Pendiri PT Toba Surimi Industries

Jumlah tangkapan per hari Toba Surimi kurang lebih 15 ton. “Setiap laut memiliki kualitas ikan yang berbeda. Namun dengan teknik pengolahan yang terstandardisasi, tentu tidak akan terasa berbeda di lidah konsumen,” ungkapnya.

Mengenai kunci sukses Toba Surimi, menurut Gindra, lantaran rutin mendiversifikasi produk. Ia merujuk kasus yang terjadi tahun lalu ketika Kementerian Perikanan dan Kelautan mengeluarkan Permen No. 1/2015 tentang larangan ekspor kepiting, lobster dan rajungan. “Toba Surimi tetap eksis kendati kami mengakui larangan ini merupakan pukulan berat bagi industri,” ungkapnya. Ia menyebutkan, beberapa perusahaan yang tidak mendiversifikasi akan mengalami kemunduran, bahkan gulung tikar.

Meski telah menjadi raja ekspor hasil laut beku dan kalengan, Toba Surimi terus berekspansi dan berinovasi. Beberapa tahun ke depan, Gindra berencana akan mendaftarkan perusahaannya untuk melantai di bursa. Langkah ini bertujuan agar generasi penerusnya dapat mengembangkan perusahaan dengan sistem manajemen profesional yang transparan dan terbuka. Saat ini putrinya sudah mulai ia libatkan dalam operasional perusahaan sehari-hari. Kendati masih terus dipantau. “Semua harus dimulai dari minat dan ketekunan belajar untuk mencari tahu,” kata Gindra. (Reportase: Julfini/Riset: Hana Bilqisthi)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)