Trisila Juwantara Mengubah “Hama” Menjadi Primadona

Trisila Juwantara Trisila Juwantara, Pendiri CV Yuasafood Brkah Makmur

Sebagai negara tropis, Indonesia kaya tanaman buah eksotis. Salah satunya, carica Dieng (carica candamarcensis). Tanaman yang kerap disebut pepaya Dieng itu hanya ditemukan tumbuh dan berbuah dengan baik di dataran tinggi Dieng, pada ketinggian 1.750-2.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Di negara lain, buah carica (baca: karika) yang berasal dari dataran tinggi Andes, Amerika Selatan, itu diketahui hanya tumbuh di Cile dan Peru.

Keunggulan itu dimanfaatkan oleh Trisila Juwantara, pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 1969. Dengan bendera CV Yuasafood Berkah Makmur, dia merintis bisnis olahan buah carica, 16 tahun silam. Nama merek produknya, Buavica.

Kini, dari kantor merangkap pusat produksinya di Jl. Dieng KM 3,5, Desa Krasak, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Trisila sukses melambungkan berbagai hasil olahan carica Dieng ke berbagai supermarket di kota-kota besar Indonesia dengan produksi mencapai puluhan ton per bulan.

Lulusan STM Pembangunan (Jurusan Teknologi Hasil Pertanian) itu ingat betul, kondisi saat awal memulai bisnis berbanding terbalik 180 derajat dibanding saat ini. Dulu, Trisila mengenang, tanaman carica dipandang sebelah mata. Bahkan, dianggap layaknya “hama” karena menutupi sinar matahari yang dibutuhkan tanaman kentang, salah satu tanaman primadona petani Dieng kala itu. Karena itu, harga carica sangat rendah. Padahal, carica mengandung vitamin A dan C yang tinggi serta kaya serat dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Trisila tergerak memberikan nilai tambah pada buah yang lebih enak dikonsumsi setelah diolah itu. Apalagi, penanaman carica bisa mengurangi potensi tanah longsor.

Selain itu, carica juga mengurangi pencemaran sungai sebagai dampak penggunaan pestisida pada tanaman kentang. “Tes market kami juga menyatakan bahwa semua orang dari segala usia, semua gender, dengan berbagai latar belakang sosial budaya dan kultur masyarakat, menyukai hasil olahan buah carica, yakni cocktail carica,” papar mantan karyawan PT Dieng Jaya Wonosobo, pabrik pengalengan buah dan jamur merang yang merupakan anak usaha Grup Mantrust yang kini telah tutup itu.

Trisila juga melihat, pasar internasional terbuka lebar karena tidak ada pesaing buah sejenis. Dari beberapa uji pasar yang dia lakukan, calon pembeli sangat menyukai rasa dan manfaat buah tropis dalam bentuk koktil carica. Setelah melalui uji coba produksi di SMKN 1 Temanggung, dia berhasil menemukan formula produksi carica yang tepat.

Trisila kemudian memproduksi carica in syrup (koktil carica) dengan standar kualitas dan sertifikasi keamanan pangan berdasarkan risiko skala internasional, yakni HACCP. Belakangan produknya berkembang, antara lain koktil carica kemasan kaleng, botol kaca, plastik, tub, cup kemasan air mineral, serta sirup, selai, jus, keripik, hingga dodol carica. “Kami juga melakukan inovasi packaging dengan karton flut, duplek, plastik, isi 24, 12, 6, dan 8 per dus,” ujarnya.

Buavica menyasar segmen menengah-atas, dari anak-anak sampai dewasa. Jalur distribusinya tentu saja disesuaikan, yakni melalui supermarket, pusat oleh-oleh, restoran, pengusaha katering, dan hotel. Berbagai kegiatan promosi pun digelar, di dalam dan luar negeri. Dari pameran dan ekshibisi hingga aneka forum business matching. Demi meraih segmen wisatawan, Yuasafood mendirikan pusat oleh-oleh di Dieng. Tak lupa, Trisila mendaftarkan carica Dieng sebagai produk unggulan daerah, one village one product (OVOP), yang diakui pemerintah tingkat kabupaten, provinsi, dan pusat sebagai produk yang bagus dan berkualitas. Ia mendaftarkan produk carica sebagai produk spesifik (local wisdom) di Kementerian Hukum dan HAM RI bidang Indikasi Geografis sejak 2012.

Berkat kegigihannya, produksi Yuasafood kini mampu tumbuh dari hanya 100 kg menjadi 45 ton buah segar per bulan, dengan 55 tenaga kerja. Namun, yang lebih menggembirakan, semangat kewirausahaan dan pertanian masyarakat dalam pengembangan carica tumbuh pesat. Jumlah UKM yang bergerak di bidang pertanian, produksi, dan penjualan carica melesat dari 13 menjadi lebih dari 150 yang tersebar di Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, Kendal, Pekalongan, dan sekitarnya.

Pemasaran Buavica pun sudah menembus Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat (Mataram), Lampung, Pekanbaru, dan saat ini mulai merambah Batam dan Kalimantan. “Kini kami juga sedang penjajakan untuk masuk pasar Timur Tengah, Asia, dan Eropa melalui kegiatan pameran tahunan pasar malam di Amsterdam; pameran terbesar di Eropa, SIAL Paris; dan Thaifex di Thailand,” ungkap Trisila.

Dia bertekad terus berinovasi mengembangkan olahan carica, dari minuman pulpy sampai produk baru berbahan baku lokal lainnya dengan teknologi freeze dried. “Selain itu, kami juga menyiapkan second layer bisnis selain bisnis utama dengan memproduksi keripik jamur, keripik buah, manisan cabe, manisan salak, dan lain-lain dari bahan lokal yang tersedia,” paparnya.

Menurut Sumardy, konsultan pemasaran sekaligus CEO The Buzz n Co, kunci sukses bisnis manisan terletak pada diferensiasi produk. “Dia harus menemukan buah yang unik karena pasar telah dibanjiri berbagai manisan buah komoditas yang di mana pun sama saja,” tuturnya. Sumardy berharap Trisila terus berkembang. Caranya, dengan menjaga standar kualitas, meningkatkan skala produksi, serta terus berinovasi karena produknya mudah ditiru pesaing.(*)

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian/Riset: Armiadi Murdiansyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)