Istini Tatiek Siddharta: Kunci Suksesnya, Komunikasi yang Baik

Satu lagi wanita Indonesia yang berhasil unjuk gigi di ladang pria: Istini Tatiek Siddharta. Wanita tangguh kelahiran 1962 ini didaulat menjadi Direktur Utama PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJ) pada Januari 2016 dan menangani bisnis perkebunan kelapa sawit, sagu, dan sebagainya yang lazimnya digeluti kaum pria.

Istini Tatiek SiddhartaWanita yang menikmati ketika masuk kebun ini mengakui, bisnis perkebunan kepala sawit sangat keras. “Untuk hadapi semua tantangan, kuncinya saya pegang prinsip saja. Kalau keinginan kita baik, meskipun bisnis kelapa sawit sering dituduh perampok dan perusak hutan tetapi kita tahu tidak melakukan itu, ya biarkan saja,” katanya kepada SWA di kantornya, Gedung Atrium Mulia, Jln. H.R Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Lulusan akuntansi dari Universitas Indonesia dan MBA dari John Anderson School, University of California, Los Angeles, AS, ini sesungguhnya baru lima tahun terakhir terjun di bisnis kelapa sawit. Sebelumnya, dia banyak berkecimpung di bidang keuangan. Mantan akuntan publik ini mulai bergabung dengan ANJ sebagai direktur keuangan grup perusahaan pada 2001. Sebelum menjabat sebagai dirut, Istini menempati posisi wakil dirut (2012-15).

Ketika Istini menjabat direktur keuangan, ANJ baru mengukuhkan diri masuk ke bisnis kelapa sawit. Saat itu, fokus bisnis perusahaan mengalami pergeseran. Holding perusahaan yang semula menaungi lembaga keuangan, pertambangan, kesehatan dan agribisnis, akhirnya memutuskan fokus di sektor yang disebut terakhir. Ketika transformasi ANJ dimulai pada 2012, dia yang bertanggung jawab memilih unit-unit bisnis yang akan di-spin off. “Saya cari dan memimpin spin off itu, hingga ANJ IPO,” ungkapnya.

Tantangan besar dia alami ketika awal mengomandani ANJ pada 1 Januari 2016. Selain paradigma bisnis perkebunan (terutama kelapa sawit) sedang berubah, industri komoditas juga melorot. Harga crude palm oil (CPO) turun drastis. Padahal, ANJ sedang berekspansi. Tak mengherankan, ANJ pada 2015 memang sempat merugi. Penyebab penurunan lainnya adalah perusahaan terpaksa menghentikan pengembangan di Papua karena terus-menerus dikritik lembaga swadaya masyarakat.

Namun Istini percaya, dalam hal apa pun, kunci kemajuan perusahaan terletak pada orang dan proses komunikasi. Termasuk ANJ yang telah memiliki 7.300 karyawan. Karena itu, prinsipnya dalam melakukan perubahan, setiap orang di dalam perusahaan harus memahami alasan, arah serta efek perubahan terhadap diri mereka. Pesan yang disampaikan harus jelas dan mampu memahami perasaan karyawan, sekaligus menyiapkan mereka menghadapi perubahan. Itu sebabnya, dia terus mendengungkan visi dan misi perusahaan, serta mengabarkan bahwa perusahaan sudah berada di jalur yang benar. Shareholder juga sudah dua kali jalan bareng kami ke kebun. Begitu jadi presdir, saya kunjungi semua satu-satu,” ungkap Istini yang juga mendirikan Divisi Komunikasi ANJ ketika awal memimpin.

Kepemimpinan Istini di ANJ langsung membuahkan hasil gemilang. Pada 2016, kinerja ANJ melejit dibandingkan tahun sebelumnya dengan laba US$ 9 juta, padahal pada 2015 rugi US$ 8,5 juta. “Di kelapa sawit baru bisa dirasakan hasilnya sekitar 30 tahun, dari replanting hingga panen. Maka, harus selalu berpikir jangka panjang. Ini semua hasil kerja tim. Apa pun yang dijalani saat ini merupakan hasil kepemimpinan sebelumnya, juga sebaliknya,” katanya menegaskan.

Kini, lahan ANJ yang sudah berproduksi di Sumatera Utara, Belitung dan Kalimantan serta lahan yang dikonservasi mencapai lebih dari 4.000 hektare. Di Papua, lahan ANJ mencapai 91 ribu ha; 30 ribu ha di antaranya merupakan lahan basah dan gambut. Jenis lahan gambut, tutur Istini, tidak disentuh ANJ karena merupakan daerah dengan keragaman biota yang kaya. “Lagi pula, wet land tidak cocok buat sawit. Yang penting bukan profit sekarang, tetapi sustainable profit, ini yang selalu saya pegang,” katanya.

Lahan ANJ di Papua yang sudah ditanami sampai akhir tahun lalu mencapai 5.600 ha. “Di Papua, uang kami sudah masuk banyak sekali. Lebih dari US$ 150 juta, hanya untuk kelapa sawit. Tetapi satu sen pun belum kembali. Untuk sagu, tambah lagi US$ 50 juta. Jadi, total yang masuk ke Papua mencapai US$ 200 juta,” ungkapnya blakblakan.

Rencana selanjutnya, ANJ meneruskan proses penanaman di Papua dengan target penambahan 3.000 ha per tahun. Grup ANJ juga sedang merintis perkebunan edamame di Jember, Jawa Timur, yang merupakan transformasi dari perkebunan tembakau. ANJ pun serius menggarap sagu di Papua yang saat ini kebunnya seluas 40 ribu ha. Pabrik ANJ berkapasitas produksi 1.250 ton per bulan. “Edamame kami sudah panen sejak tahun lalu. Tiap minggu panen 20 ton,” kata Istini yang kedua anaknya kini duduk di bangku SMP.

Nunik Maharani Maulana, Group Head Corporate Communications ANJ --salah satu anak buah yang melapor langsung ke Istini-- menuturkan, atasannya merupakan sosok pemimpin yang tidak suka menonjolkan diri. “Kalau Ibu bilang bahwa cara memimpinnya situasional, memang benar. Bisa keras juga lembut di saat yang dibutuhkan,” ungkapnya.

Nunik pun melihat bosnya selalu mendorong anak buahnya bekerja secara tim dan efektif. “Ibu rutin mengagendakan waktu untuk one on one meeting dengan siapa saja yang direct report ke dia. Jadi, Ibu memang pemimpin yang peduli dan memberdayakan karyawannya,” katanya memuji.(*)

Reportase: Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)