Ratna Kurniawati, Wanita Karier yang Peduli ASI

Aktivitas mengurus anak termasuk menyusui kadang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian besar wanita pekerja. Termasuk di antaranya Ratna Kurniawati, Marketing Manager, Health and Wellness (H & W) Consumer Lifestyle, PTPhilips Indonesia. Pasalnya, selain harus menunaikan tugasnya sebagai pemasar, ibu muda ini juga musti memberikan ASI kepada buah hati ke-2-nya yang baru berumur 6 bulan. Tapi bukan Ratna namanya kalau harus mangkir dari jadwal menyusui lantaran padatnya pekerjaan. Justru di posisinya sekarang, ia bisa nyambi berkampanye ASI karena programnya inline dengan salah satu program pemerintah ini. Lantas bagaimana kiat wanita kelahiran Semarang, 5 April 1978 ini mengatur waktunya antara karier dan keluarga? Berikut penuturannya kepada SWA Online :

Boleh tahu latar belakang pendidikan Anda sebelum akhirnya  join ke Philips?

Background pendidikan saya adalah Teknik Kimia dari di Universitas Islam Indonesia (UII). Selesai kuliah, memang planning saya adalah tidak mau bekerja kantoran yang daily harus duduk di belakang meja. Kemudian saya coba bekerja di marketing team-nya Kalbe Farma. Kebetulan saya ditempatkan di luar Jawa selama 1 tahun. Di sana, produk yang saya ampu kebanyakan dari produk-produk ethical (yang diresepkan dokter). Jadi saya yang approach ke dokternya, approach ke rumah sakitnya, dll.

Karier Anda setelah itu?

Kemudian saya mendapat posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya dan ditempatkan di Jakarta. Waktu itu saya kebagian posisi marketing di Bintang Toedhjoe. Jadi, mostly dari ethical ke consumer product, dimana saya harus banyak eksekusi semua program head office. Karena kami masih di level cabang. Intinya eksekusi bagaimana daily-nya untuk membangun awareness brand saya di market

Dua setengah tahun kemudian saya pindah ke head office salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, Dexa Medica Group. Di sana saya menempati posisi sebagai Business Executive. Beberapa produk yang saya pegang mostly adalah produk medical devices, alat-alat kesehatan. Tapi sebenarnya konsep marketing dan sales-nya sendiri sudah pernah saya pelajari dari awal saya bekerja. Di situ saya banyak belajar mulai dari Business Executive, dipromosikan menjadi Business Manager dan Sales Manajer, dan terakhir Customer Sales Service Manager karena saya ingin belajar service side sendiri di sebuah distribution company. Kurang lebih 5 tahun saya ada di perusahaan itu.

Ratna Kurniawati, Marketing Manager, Health and Wellness (H & W) Consumer Lifestyle, Foto : Gustyanita Pratiwi
Ratna Kurniawati, Marketing Manager, Health and Wellness (H & W) Consumer Lifestyle (Photo by Gustyanita Pratiwi)

Kenapa Anda selalu mencoba hal-hal baru dengan perusahaan yang berbeda?

Karena saya sendiri punya prinsip dalam 1 tahun harus ada progress, maka saya berusaha untuk mendapatkan promosi di posisi lain. Jadi dari Dexa saya dihire ke US company. Di sana saya menangani medical devices lagi sebagai Business Development Manager (BDM). Jadi BDM itu sendiri sebenarnya mengelola bisnis secara total di Indonesia starting dari bisnis pertama sampai dia seatle. Jadi asal mula dia ada di Indonesia, kami yang develope semuanya. Di US company itu saya bertahan selama 2 tahun. Kemudian saya dihire Philips sampai Marketing Manager untuk consumer lifestyle khususnya di Health and Wellness ini.

Tahun berapa Anda bergabung dengan Philips?

Saya joint di Philips tahun 2011 sampai sekarang.

Jadi kebanyakan memang Anda fokus di kesehatan?

Kebanyakan di medical device sebenarnya. Tapi nature business-nya sebenarnya sama saja karena yang harus kami highlight adalah di sales and marketing-nya. Apapun produknya, saya pikir semuanya sama. Cuma nature dari customer yang kami approach saja beda. So far sih saya tidak ada kesulitan.

Anda membawahi seluruh Indonesia?

Kalau untuk Health and Wellness, saya yang punya bisnis ini jadi memang national weather responsible-nya. Jadi divisi di Consumer Lifestyle itu ada Personal Care, Domestic Appliances, dan Health and Wellness. Nah, yang terakhir ini produk-produknya seperti pompa asi bayi, peralatan makan bayi, sikat gigi elektrik, dll.

Ide atau terobosan yang ingin disampaikan di posisi sekarang?

Sebenarnya saya ingin mengkampanyekan ASI ekslusif tadi. Karena kebetulan kami berpartner dengan WHO dan Depkes. Jadi kesuksesan pelaksanaan ASI ekslusif di Indonesia masih sangat jauh di bawah target yang diharapkan pemerintah. Terutama ibu-ibu pekerja. Mereka itu akan mulai berkurang atau berhenti menyusui saat mulai masuk kerja. Itu problem yang harus di-soft.

Kendalanya apa?

Salah satunya yaitu mereka tidak nyaman memeras ASI di kantor. Apalagi di public area seperti terminal, stasiun, dll. Di kantor sendiri, dengan pressure pekerjaan yang datang bertubi-tubi, mereka mulai tidak konsen untuk memberikan ASI. Padahal sebenarnya motivasi itu harus datang dari ibunya sendiri kan? Dimana kami mengkampanyekan bahwa : jadi wanita pekerja pun, ibu harus tetap memberikan ASI. Saya sendiri sedang menyusui loh. Anak saya sudah 6 bulan dan kemana-mana selalu bawa tas. Tas itu isinya ASI. Dimanapun itu harus disempatkan. Walaupun di toilet, yang penting ada tutup, saya harus sempatkan untuk anak.

Jadi kampanye Philips memang sejalan dengan hati Anda?

Kebetulan memang kampanye divisi saya adalah breast feeding. Ini memang sejalan dengan program pemerintah. Jadi benar-benar inline. Saya sudah pernah bertemu dengan stakeholder, termasuk Depkes, dan mereka sangat mendukung program ini sebenarnya. Memang susah sih menyusui itu. Saya akui sangat susah. Kalau sedang stres, air susu tidak keluar. Dikejar deadline atau apa, nggak keluar. Apalagi kalau ada meeting, nyusuinnya nanti-nanti aja deh. Akhirnya pulang-pulang dapat dikit. Tapi tetap itu harus rutin dilakukan setiap 2-3 jam sekali. Atasan pun sebenarnya harus memahami bahwa itu kebutuhan. Jadi kalau saya setengah jam memeras, tolong dipahami. Dan itu yang harus ditanamkan. Dari Depkes juga kesusahan juga. Bagaimana meningkatkan kesadaran pemberian ASI. Saya sih inginnya gerakan satu juta ibu menyusui. Tapi ada 1 departemen yang menghitung sehingga okey, tahun ini kita targetkan 1 juta, besok 2 juta, dst.

Sebagai wanita karir, bagaimana mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga?

Challenging banget. Sebenarnya kalau dibilang saya harus berperan ganda, memang iya. Saya di rumah, harus mengurus anak, menyusui, sedangkan di kantor banyak deadline nih. Kalau orang disuruh memilih? Pasti kebanyakan memilih keluarga. Tapi untuk menjadikan keluarga sejahtera misalkan kualitas pendidikan anak bisa lebih baik, tentunya saya harus punya knowledge dan mindset yang lebih baik kan? Darimana dapatnya? Harus dari pekerjaan, karena saya banyak bertemu orang, jadi lebih banyak masukan buat saya. Menurut saya itu suatu konten yang tidak pernah bisa saya dapatkan kalau saya hanya stay di rumah. Jadi menurut saya, keduanya harus balance sih.

Ambisi dan target Anda ke depan?

Karir pastinya ingin mencari pencapaian yang lebih baik lagi. Kalau posisi pasti akan mengikuti, karena nilai jual kita akan semakin tinggi kalau kita punya banyak koneksi dan prestasi. Itu pasti. Saya selama ini tidak pernah berusaha untuk mencari, tapi ya alhamdulilah mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi saya. Kedua, kalau dari keluarga, tentunya ingin bisa membesarkan anak-anak sesuai dengan dengan cita-cita dan impian saya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)