Wayah S. Wiroto, Rangkap 3 Jabatan Direktur Sekaligus

Pembawaannya yang membumi, membuatnya tak kentara sebagai seorang yang bertitel direktur. Tutur sapanya yang bijak serta senyumnya yang hangat justru membuatnya lebih mirip seorang dosen yang mengajar di kampus-kampus. Begitulah Wayah S. Wiroto, orang yang mendapat kepercayaan Presdir Multistrada untuk memangku 3 jabatan sekaligus dalam perusahaan yakni Director of Corporate Planning and Learning, Director Akademi Komunitas Multistrada, dan Director HR PT Multistrada Arah Sarana Tbk.

Lantas bagaimana sepak terjang ayah dari Khansa (15), Kautsar (13), dan Kamal (11) ini dalam menjalankan setiap tanggung jawabnya? Berikut penuturan lelaki berjenggot yang punya hobi nonton, baca buku, serta wisata kuliner ini kepada SWA Online :

Apa latar belakang pendidikan Anda?

S1 saya di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jurusan Teknik Industri Pertanian, lalu S2 saya di Pusat Kajian Gizi SEAMEO, Bidang Gizi Masyarakat, Universitas Indonesia (UI). Kemudian S3 saya di Bonn University, Jerman ambil bidang Agrikultur lagi, tapi kali ini untuk ekonomi pembangunannya.

Bagaimana perjalanan Anda hingga bisa menapaki karier di Multistrada?

Awalnya saya bekerja di SEAMEO TROPMED sekarang namanya SEAMEO REFCON, sebuah pusat kajian gizi regional di Universitas Indonesia (UI). Di sana saya mendapatkan S2 saya, Master in Community Nutrition. Selama di sana saya mendapatkan exposure internasional saya karena waktu itu SEAMEO waktu itu bekerja sama dengan GTZ, sehingga saya mendapatkan kesempatan sebagai konsultan untuk field riset dan segala macamnya baik di ASEAN maupun Indonesia.

Kemudian, saya didaftarkan S3 ke Jerman sampai tahun 2002. sekembalinya saya dari Jerman, kemudian saya mulai meniti karier di Universitas Bina Nusantara (Binus). Di sana saya memegang jabatan sebagai Direktur Pemasaran. Hal tersebut berlaku dari tahun 2003-2007. Kemudian tahun 2005, pada saat Rektor Binus Meninggal (Alm. Ibu Widya), saya diminta oleh yayasan untuk terlibat di universitasnya. Waktu itu saya dipercayakan memangku jabatan sebagai Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama Internasional. Kemudian tahun 2007, posisi Direktur Marketing saya lepas, dan saya full sebagai Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama Internasional di Binus sampai tahun 2010. Setelah selesai masa jabatan saya pada tahun 2011, kemudian saya pindah ke sini dengan harapan dari Pak Pieter Tanuri (Presdir), supaya saya bisa membantu Beliau membangun sebuah learning center. Akhirnya saya bilang, ya sudah kita coba bangun corporate university untuk kebutuhan internal.

Akhir 2010 masuk di Multistrada dengan jabatan apa?

Saya mengepalai 2 unit yaitu Learning Center, yang merupakan cikal bakal corporate university kami serta satunya lagi bernama Corporate Planning. Jadi dalam Corporate Planning itu tadinya ada 2 departemen yaitu Office of Strategic Management dan Business Continuous Improvment. Tapi akhirnya kami lebur jadi satu menjadi Business Continuous Improvment. Bidang ini fokus pada setting up of balance score card, KPA System, evaluation performance. Kemudian di dalamnya saya memiliki tim yang fokus untuk improvment project seperti Kaizen, small group activity, dll. Intinya adalah bagaimana jika kami menghadapi sebuah permasalahan, tim Continuous Improvement ini masuk ke dalamnya. Mereka membantu sebagai fasilitator kepada tim-tm lainnya. Makanya kami bergerak hampir ke seluruh unit untuk membantu bagaimana mencapai target. Lalu di Januari 2013 ini saya diberi tanggung jawab tambahan lagi sebagai HR Director. Jadi sekarang jabatan saya di Multistrada ada 3.

Mengapa dari ranah akademisi langsung loncat ke korporasi?

Di Binus saya sudah berkarier 8 tahun. Saya juga melihat bahwa apa yang sudah kami lakukan sudah cukup banyak. Kerja sama internasional regenerasi proses sudah kami lakukan dengan baik. Kebetulan tidak sengaja Pak Pieter ingin membangun sebuah universitas, tapi universitasnya untuk PT Multistrada. Kami ngobrol, dan beliau memberikan tawaran, bagaimana kalau saya ikut membantu. Tantangannya sangat menarik karena ini dimulai dari nol lagi. Ya karena saya sangat menyukai tantangan tersebut, saya melihat juga tujuannya agak beda. Kalau Binus segmentasi pasarnya sudah jelas, yaitu ke masyarakat yang sudah mampu menyekolahkan anaknya di sekolah seperti Binus, tapi di sini kami masuk ke segmen berbeda. Jadi tantangan buat saya juga lebih besar. Akademi Komunitas ini akan memberikan akses ke rekan-rekan kita yang lulusan SMA/ SMK, tapi tidak memiliki kemampuan untuk lanjut ke S1. Kami menyediakan pendidikan ini dengan harapan bahwa setelah dari sini, mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dan sanggup mengembangkan diri.

Apa tantangan yang Anda hadapi pada posisi tersebut?

Jadi tatangan saya sekarang adalah menyiapkan bagaimana nanti pada saat menerima mahasiswa dari publik, costnya juga tidak boleh mahal. Padahal investasi 1 mesinnya saja kalau di pabrik, paling murah itu bisa sampai US$ 1,5 juta. Nah, bisa dibayangkan bahwa dengan investasi kami yang sebesar itu, kalau masyarakat/SDM-nya tidak mampu mengelolanya, maka akan tidak seimbang. Jadi kami harus cepat membangun mereka dengan baik. Dengan konsep seperti itulah, saya sangat tertarik membantu Pak Pieter untuk bisa merealisasikan visinya.

Apa saja tugas dan tanggung jawab Anda selama mengemban 3 jabatan tersebut?

Kalau HRD kan all of the HR issues. Untungnya saat ini saya sudah dibantu dengan tim yang kuat. Kalau untuk Cntinuous Improvement, saya punya tim yang sangat solid, very young, tapi mereka juga sangat kuat. Jadi bisa berjalan di lapangan dengan sendirinya. Saya paling hanya membantu pada saat mereka sedang reporting/evaluasi. Tapi yang turun ke bawah sebagai fasilitator adalah mereka sendiri. Kecuali ada proyek yang related bisa saya bantu.

Untuk learning, fully hunded percent di bawah pengawasan saya. Because this actually my first and major responsibility. Saya juga sedang membangun tim juga, makanya saya bekerja sama juga dengan UI, ITB, IPB, dll, supaya tim saya juga bisa melihat bagaimana sih sebuah institusi pendidikan yang resmi dan formal, maupun yang bersifat training. Dengan melakukan pendelegasian dan pembangunan tim, saya masih bisa melihat bagaimana kontribusi saya.

Untuk HRD, sebetulnya juga karena perubahan saja. Kebetulan GM kami suaminya pindah ke Australia, sehingga beliau juga harus ikut suami. Pada saat seperti itu, kekosongan tersebut akhirnya diberikan kepada saya. Kebetulan saya mengalami on the job training yang sangat cepat, karena pada saat itu, 25 September kami menghadapi demonstrasi, tekanan dari buruh, dll. Perubahan-perubahan itulah yang membuat saya sangat tertarik untuk bisa belajar jauh lebih cepat lagi.

4 tahun mengemban karier di Multistrada, apa saja pencapaian-pencapaian Anda?

Di Continuous Improvment, saya bersama tim mencetak balance score card pertama kali. Jadi di 2011 itu, kami melakukan evaluasi tentang bagaimana performance evaluation system yang ada di kami. Akhirnya kami sepakat menggunakan balance score card. Dan di 2012, kami menjalankannya sebagai evaluation system. KPA kami terapkan lagi dengan lebih baik, karena sekarang kami sedang mulai proyek supaya KPA departemen itu bisa kami turunkan untuk individual score card juga.

Kalau untuk learning, kami sudah menset up a lot of training yang berhubungan terhadap kebutuhan kami juga. Terutama untuk yang operator level. Yang paling melambangkan sebagai sebuah pencapaian itu adalah terbitnya Akademi Komunitas Multistrada ini. Harapan kami ini bisa dilihat lebih baik lagi, karena operator merasa berbeda kalau hanya mendapat sertifikat dari perusahaan. Tapi dengan adanya ini, maka mereka bisa dapat sertifikat sekaligus gelar resmi D1.

Dengan menjabat 3 posisi ini, bagaimana Anda meramu antara softskill dan hardskill, sehingga bisa balance?

Kalau dilihat dari pendidikan saya, agak gado-gado ya. Jadi saat ini yang saya lakukan dari sisi knowledge memang tidak ada sih. Karena background saya kan gizi dan agrikultur. Tapi dalam pendidikan S1 sampai S3 saya, yang paling berperan membantu saya adalah bagaimana membuat pola pikir dalam menganalisa, menentukan solusi, dan juga speed untuk menyelesaikan permasalahan. Dan saya rasa itu menjadi salah satu keunggulan saya hingga bisa mendapatkan kepercayaan seperti sekarang. Karena dengan posisi yang sudah levelnya direktur, saya tidak harus menguasai semuanya. Karena itu memang tidak mungkin. Tapi saya membutuhkan kemampuan manajerial dan leadership yang bisa membantu tim saya dalam menjalankan tugas. Terus terang kalau saya tidak memiliki tim yang kuat, saya tidak akan mampu melaksanakan hal ini. Tapi selain saya mendapatkan tim yang kuat, kamipun sangat erat dalam hal berkomunikasi, sehingga apapun yang menjadi permasalahan, biasanya saya yang mendapatkan informasi terlebih dahulu. Biasanya saya suka bilang begini : you are my friend if you come to me very early, but if you come to me very late, than you are my enemy. Kenapa? Karena misalnya besok pada saat kami presentasi nih, terus anak buah saya datang, Pak ini saya ada masalah seperti ini ini ini. Ya kalau tinggal sehari kan saya juga tidak memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi. Makanya saya bilang datanglah lebih cepat jika kamu menemukan masalah. Karena tugas saya adalah membimbing staf saya untuk bisa mencari solusinya.

Apa target dan rencana Anda ke depan?

That's a big challenge juga ya. Saat ini untuk HRD, saya ingin melakukan banyak perubahan supaya kami bisa masuk menjadi employeer of choice. Sekarang kami juga terlibat dengan berbagai macam survei Survei tersebut kami lakukan untuk membuat benhcmark. Kalau kita merasa sudah bagus, tapi kalau dibandingkan dengan teman-teman lain ternyata masih jauh, nah hal-hal seperti itu yang coba kami lakukan perbaikannya. Tantangan yang paling berat adalah menghadapi perubahan peraturan perundangan tentang upah minimum kerja. Karena ini akhirnya berujung pada tuntutan dari teman-teman kami di buruh.

Saya bisa mengerti mengenai hal itu semua tapi yang harus kita coba lihat adalah kenaikan upah minimum kerja kita berjalan cepat sekali. 2011 kita hampir naik 30%. 2012 kita juga hampir naik 30% lagi. Kecepatan itu harus diiringi dengan peningkatan produktivitas. Jadi sangat lain dengan program kami untuk membuat Akademi Komunitas ini. Makanya kami juga bilang bahwa : Ayo Anda harus masuk program ini supaya produktivitas naik. Karena kalau perusahaannya sudah tidak mampu membayarpun, kan yang akan rugi bukan hanya buruh, tapi semua yang bekerja di perusahaan tersebut.

Maka challenge terbesar kami saat ini adalah bagaimana membuat perusahaan ini menjadi nyaman sebagai tempat kerja, tapi juga bisa membuat rekan-rekan buruh itu tidak melihat perusahaan sebagai lawan, tapi sebagai seorang partner yang bisa diajak bekerja sama. Nah, saya masih punya waktu sampai akhir tahun ini sebelum nanti 2014 ada kebijakan baru lagi. Kalau ada kebijakan baru lagi dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah kan kami harus sudah siap.

Saya sangat mengharapkan that we train the best people that we have. Itu PR besar saya di HRD. Kalau untuk di learning, intinya cuma satu, saya ingin sebisa mungkin mencetak lulusan D1 yang semakin bagus dengan program yang lebih luas lagi. Karena saat ini kami baru ada 1 program. Kami akan buka 4 konsentrasi lagi di bidang manufacturing di bulan September. Sertifikasi profesi juga termasuk di dalamnya. Jadi kalau itu sudah berjalan, minimal pencapaian saya di situ sudah tercapai. Kalau untuk yang Continuous Improvement, di Corporate Planningnya, kami berharap bahwa kami bisa membantu teman-teman di dalam sehingga bisa mencapai pertumbuhan growth di atas 20%. Krena kami adalah unit yang menggaet KPA dan bagaimana terwujudnya pencapaian-pencapaian tersebut. Kalau itu bisa tercapai semuanya, itulah kebanggaan kami. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)