Ketika Dilanda Kesibukan Tanpa Waktu Refleksi

Judul         : Step Back

Penulis       : Joseph Badaracco

Penerbit     : Harvard Business Press, Juli 2020

Tebal         : 162 hlm.

Bagaimana cara menemukan kejernihan berpikir sementara kita selalu berada dalam kesibukan tanpa henti? Inilah pertanyaan inti yang ingin dijawab buku ini.

Refleksi merupakan hal yang sangat penting di dunia yang sangat kompleks, penuh dengan data, dan di bawah tekanan waktu. Di saat bersamaan, tekanan pekerjaan justru membuat kita menjadi semakin tidak memiliki waktu untuk melakukan refleksi.

Walaupun demikian, otak manusia pada dasarnya sulit beristirahat dan selalu berpikir zig zag. Manusia zaman dahulu yang selalu awas dan siap bertindak memiliki peluang untuk bertahan hidup yang lebih besar daripada yang berdiam diri dan merenung. Mengambil waktu untuk melihat dengan jernih merupakan pengecualian daripada norma.

Hasil studi juga membuktikan, banyak anak muda zaman sekarang yang melihat kesibukan sebagai “aspirational lifestyle”. Manusia zaman dahulu bisa pulang kantor dan menikmati makan malam tanpa harus membuka laptop. Namun, manusia zaman sekarang selalu memegang dan mengakses ponsel di mana saja dan kapan saja. Dengan perkataan lain, manusia sekarang memuja “produktivitas”.

Melakukan refleksi berarti mengambil langkah mundur untuk melihat apa yang benar-benar penting –apa yang kita alami, kita coba mengerti, atau sedang kita lakukan. Mengerti apa yang penting merupakan hal yang sangat krusial, terlepas dari apakah kita berada dalam dunia pekerjaan, kehidupan sehari-hari, ataupun pada saat mengalami masalah. Refleksi juga merupakan jalan untuk mengerti bagaimana cara kita hidup, apa yang kita peduli, dan apa arti kehidupan yang baik.

Walaupun demikian, banyak orang yang tidak mau melakukan refleksi. Salah satu eksekutif yang diwawancarai penulis buku ini malah mengatakan, “Masa kecil saya tidak bahagia sehingga saya tidak nyaman melihat masa lalu. Saya selalu melihat ke masa depan dan sangat berorientasi pada tujuan. Apa tujuan saya yang berikutnya? Pekerjaan saya.”

Buku ini menyarankan agar kita melakukan refleksi tidak hanya melalui durasi waktu yang lama, tetapi melalui refleksi “mosaik”. Mosaik adalah rangkaian pecahan batu atau gelas kecil yang membentuk sebuah pola yang indah. Penelitian penulis buku ini menemukan bahwa orang yang sukses melakukan refleksi dalam celah aktivitas.

Refleksi mosaik ini memungkinkan kita untuk mencapai banyak hal dalam hitungan detik atau menit kalau kita mengerti pendekatan fundamental cara melakukannya serta mengembangkan reflective pause dalam kehidupan kita sehari-hari.

Buku ini kemudian menjabarkan empat prinsip desain (design principles) untuk melakukan refleksi.

Pertama, tujuan kita seharusnya hanya sekadar “good enough”. Hal ini berbeda sekali dari cara pandang bahwa kita harus melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Refleksi tidak selalu harus dilakukan di “gunung” saja, tetapi refleksi adalah mengenai pendekatan yang bekerja setiap waktu.

Dalam praktiknya, buku ini menyarankan kita melihat kapan dan di mana kita biasanya melakukan refleksi sejenak, apakah ada aktivitas yang kita bisa sambil lakukan (piggybacked reflection), misalnya pada saat joging, partner diskusi (reflective conversation), ataupun dengan menulis.

Desain yang kedua adalah lihat ke bawah (downshift) sejenak. Cara pikir kita selalu didominasi cara pikir pragmatis atau analitis yang berorientasi pada output. Kita selalu fokus pada “apa masalahnya dan apa solusinya” semata. Prinsip kedua ini mengajarkan bahwa kita harus berpindah ke gigi yang lebih rendah sejenak. Biarkan pikiran bebas sejenak dan hindari tujuan yang berorientasi produktivitas.

Downshift ini dapat dilakukan dengan cara membiarkan pikiran berkelana (mental meandering), misalnya duduk diam dengan secangkir kopi tanpa melakukan apa pun ataupun mandi tanpa memikirkan apa pun; memperlambat (slow down), yaitu melakukan sesuatu hal dengan lebih lambat dan amati pengalamannya; menyatu dengan alam; ataupun dengan perayaan (celebration).

Desain ketiga, pikirkan masalah yang dialami dengan mandalam (pondering). Step back dan usahakan dengan nyata untuk melihat masalah atau situasi dari beberapa perspektif.

Bab ini dibuka dengan contoh seorang eksekutif yang ditawari menjadi penasihat Menteri Keuangan di Afrika Selatan. Dia memikirkan opsi tersebut dengan cara terbuka dan fleksibel dari berbagai sudut pandang. Dia tidak menganalisis opsi tersebut dan menemukan jawabannya langsung. Inilah arti pondering: melihat sebuah hal berkali-kali dari berbagai sudut dan kemungkinan.

Walaupun kelihatannya mudah, hal ini sangat sulit dilakukan karena manusia cenderung merespons dengan jawaban yang cepat dan pasti dengan memakai intuisi. Pondering yang dilakukan dalam waktu panjang maupun pendek akan membantu kita lebih memahami persoalan ataupun situasi sulit.

Untuk melakukan pondering, kita harus bersedia mengubah cara pandang kita. Salah satu eksekutif yang diwawancarai melakukannya dengan cara bangkit dari meja tempat kerja, mencoret-coret papan tulis putih dengan spidol aneka warna, berjalan dan menulis pikirannya lagi di papan tulis. Bergerak dari meja kerja akan memberikan sinyal kepada tubuh untuk mengubah cara pandang. Mencoret papan tulis dengan spidol aneka warna berarti “bermain” untuk merangsang kreativitas.

Cara lain untuk melakukan pondering adalah dengan mengajukan pertanyaan dan membayangkan diri kita berada di masa depan, ataupun berbicara dengan diri kita sendiri.

Desain yang terakhir adalah berhenti dan tanyakan apakah memenuhi standar (measure up). Berhenti untuk bersiap artinya step back sejenak, perhatikan semua opsi yang ada dan tanyakan opsi mana yang memenuhi standar kita dalam hidup dan pekerjaan.

Apa yang kemudian kita putuskan harus diuji dengan dua pertanyaan. Pertama, apakah keputusan dan aksi saya memenuhi standar saya dan standar yang orang lain harapkan dari saya? Kedua, apakah keputusan ini akan sesuai dengan impian jangka panjang saya akan diri saya?

Downshift, pondering, dan measure up sejenak dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti plug-and-play sampai menjadi kebiasaan atau pola pribadi dalam melakukan refleksi. Hal ini sangat cocok untuk profesional yang sangat sibuk.

Walaupun demikian, buku ini juga mengutarakan bahwa refleksi mosaik ini memiliki kelemahan karena waktunya yang pendek dan oportunistis sehingga kita tidak memiliki cukup waktu untuk benar-benar memahami isunya dengan mendalam. Insight yang didapatkan hanya bersifat sejenak tanpa ada pola yang jelas.

Solusi yang dipaparkan adalah kita harus melalukan step back lebih lanjut lagi untuk jangka waktu yang lebih lama. Refleksi yang lebih lama ini akan melengkapi refleksi mosaik.

Buku ini ditutup dengan kesimpulan yang indah. Tanpa refleksi, hidup kita akan mengambang. Dengan refleksi, kita akan memahami atau bahkan membentuk arah hidup kita.

Yang membuat buku ini menarik adalah ditulis dengan memakai triangulasi dari literatur, jurnal, dan diari seperti Ignatius Loyola, Montaigne, atau Marcus Aurelius, juga wawancara dengan seratusan peserta program pendidikan eksekutif di Harvard Business School, praktisi Buddhism, dan pelatih sepakbola.

Buku ini sangat pendek dan ringkas sehingga dapat dibaca dengan cepat. Walaupun demikian, ada baiknya buku ini dibaca dengan mode renungan karena buku ini memang ditulis untuk membuat kita berhenti sejenak dan berpikir. (*)

Edison Lestari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)