Fokuslah agar Produktif

Hyperfocus

Judul : Hyperfocus, How to Be More Productive in A World of Distraction

Penulis : Chris Bailey
Penerbit : Pengiun Random House, 2018
Tebal : 241 hlm.

Andy Iskandar

Chris Bailey, yang lahir dan besar di Kanada, sejak SMA sudah terobsesi tentang bagaimana agar dapat hidup secara produktif. Obsesi ini terus berlanjut sampai dia lulus kuliah pada 2013. Sebenarnya pada saat dia lulus kuliah, ada dua perusahaan yang berminat merekrut dia menjadi karyawan tetap dengan gaji yang menarik, tetapi Chris memilih melakukan penelitian dan menghidupi bagaimana caranya agar dapat hidup secara produktif.

Proyek tersebut dia sebut sebagai A Year of Productivity yang dia lakukan selama setahun, dan apa yang dia pelajari selama proyek tersebut telah dibukukan dan menjadi buku pertamanya, The Productivity Project (terbit tahun 2016).

Hyperfocus merupakan buku kedua Chris. Buku ini masih berhubungan erat dengan cara hidup yang produktif, sesuai dengan passion yang dimilikinya. Buku ini terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Hyperfocus dan Scatterfocus. Hyperfocus berbicara bagaimana agar pikiran kita, dalam selang waktu tertentu, dapat fokus melakukan satu pekerjaan yang penting. Dengan hyperfocus, kita akan mampu menyelesaikan pekerjaan penting yang sulit dengan waktu yang lebih singkat sehingga produktivitas kita akan meningkat.

Adapun Scatterfocus berbicara bagaimana agar pikiran kita, dalam selang waktu tertentu, dapat “mengembara” (wander) tetapi tetap sambil berpikir tentang solusi/ide untuk masalah yang kita alami. Dengan scatterfocus, kita akan mampu mendapatkan ide/solusi untuk masalah yang sedang kita hadapi sehingga kreativitas kita akan meningkat. Jadi secara singkat, hyperfocus berkaitan dengan produktivitas dan scatterfocus berkaitan dengan kreativitas.

Mari kita bahas ide-ide menarik yang terdapat dalam kelima bab yang mengulas hyperfocus.

Matikan model autopilot. Hal yang mahal sekaligus dapat menjadi keunggulan kita saat ini adalah atensi/fokus perhatian kita. Saat ini kita sering mengatur atensi kita dengan cara autopilot, artinya apa pun yang saat ini menarik perhatian kita, secara otomatis kita akan beralih ke hal tersebut. Misalnya, ketika Anda sedang mengerjakan pekerjaan Anda lalu tiba-tiba ada bunyi dari ponsel Anda, entah itu berupa pesan ataupun sekadar bunyi dari media sosial Anda, secara otomatis atensi Anda akan beralih dari pekerjaan ke ponsel. Mode ini membuat produktivitas Anda menurun karena peralihan atensi yang bolak-balik antara pekerjaan dan hal menarik lainnya.

Batas atensi Anda. Kita memiliki ruang atensi (attention space). Hanya hal-hal yang ada di ruang atensi inilah yang dapat kita kerjakan karena berada dalam atensi kita untuk diperhatikan. Sayangnya, ruang atensi ini terbatas kapasitasnya sehingga kita memang tidak dapat mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Itulah sebabnya mengapa multitasking untuk pekerjaan-pekerjaaan yang sulit (kecuali untuk hal-hal mudah yang sudah menjadi hal yang biasa bagi kita) sering dikatakan sebagai sebuah mitos karena memang secara ilmiah tidak dimungkinkan. Keputusan kita untuk memasukkan jumlah dan tipe pekerjaan yang tepat ke dalam ruang atensi kita merupakan “seni” dan kunci produktivitas kita.

Kekuatan hyperfocus. Aspek yang penting dari hyperfocus yaitu pilihlah hanya satu pekerjaan penting dan berarti untuk memenuhi ruang atensi Anda. Untuk dapat melakukan hyperfocus, ada empat hal yang perlu kita lakukan. Pertama, pilihlah objek yang penting untuk kita berikan atensi. Kedua, hilangkan sebanyak mungkin gangguan internal ataupun eksternal yang ada. Gangguan internal misalnya berupa hal-hal lain yang muncul di pikiran kita yang membuat fokus kita terganggu. Adapun gangguan eksternal misalnya berupa televisi, ponsel, ataupun notifikasi surat elektronik. Ketiga, fokus pada objek atensi tadi. Dan keempat, terus-menerus membalikkan fokus kita kembali kepada objek tersebut.

Menjinakkan gangguan. Ada empat tipe gangguan atau interupsi yang digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Untuk gangguan yang ada dalam kategori di luar kontrol dan menganggu, kita harus menghadapinya dan kembali fokus setelah selesai. Untuk gangguan yang ada dalam kategori di luar kontrol dan menyenangkan, kita nikmati dan kembali fokus setelah selesai. Adapun untuk gangguan yang ada di dalam kontrol kita (baik menganggu maupun menyenangkan), kita harus menentukan sikap kita sebelum hal itu terjadi sehingga ketika kita tetap dapat fokus pada pekerjaan kita ketika hal itu terjadi. Dan, ternyata kebanyakan gangguan yang terjadi sebenarnya berada dalam kategori di dalam kontrol kita.

Menjadikan hyperfocus sebagai kebiasaan. Jadikanlah hyperfocus sebagai bagian dari kebiasaan kita, baik di kantor ketika berhubungan dengan pekerjaan maupun di rumah ketika menjalin hubungan dengan keluarga kita. Teruslah berlatih untuk melakukan hyperfocus setiap hari sehingga menjadi kebiasaan positif yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita.

Sekarang mari kita bahas ide-ide menarik yang terdapat dalam kelima bab yang mengulas scatterfocus.

Bagian kreatif yang tersembunyi dalam otak kita. Scatterfocus adalah saat di mana pikiran kita secara senjaga dibiarkan “mengembara” (wander). Kata kuncinya adalah disengaja dan “mengembara”. Disengaja artinya kita memang menyediakan waktu untuk melakukan hal tersebut. “Mengembara” adalah kondisi di mana pikiran kita dibiarkan rileks, tetapi tetap sambil berpikir tentang solusi/ide untuk masalah yang kita alami, misalnya apakah Anda pernah mengalami mendapatkan ide ketika sedang mandi mungkin atau sedang nonton film atau berolahraga? Itu sebenarnya kondisi scatterfocus.

Memulihkan atensi kita. Semakin sering kita melakukan scatterfocus yang disenjaga untuk mengisi kembali energi mental kita, semakin besar energi yang akan kita dapatkan untuk kembali melakukan tugas penting kita. Lakukan scatterfocus (dalam rangka break) selama 5 atau 10 menit setelah melakukan hyperfocus selama 90 menit.

Menghubungkan titik-titik. Kita semua memiliki banyak titik, dalam arti informasi/ilmu, yang ada dalam otak kita. Ketika kita melakukan hyperfocus, kita hanya terfokus menggunakan beberapa informasi yang kita miliki untuk menyelesaikan pekerjaan penting kita. Namun, ketika kita dalam kondisi scatterfocus, pikiran kita akan menggali dan menghubungkan titik-titik yang berada di luar ruang atensi kita untuk mencari solusi/ide bagi permasalahan kita.

Mengumpulkan titik-titik. Kita perlu berhati-hati untuk mendapatkan titik (informasi) karena banyak informasi yang secara nilai hiburannya tinggi tetapi secara kegunaan kecil, misalnya informasi gosip. Dan, memang ada juga informasi yang secara kegunaan tinggi tetapi nilai hiburannya rendah, misalnya informasi dari buku. Perbanyaklah mengumpulkan informasi yang memiliki nilai kegunaan yang tinggi meskipun nilai hiburannya rendah.

Bekerja bersama. Hyperfocus dan scatterfocus sekilas terlihat berlawanan tetapi sebenarnya saling melengkapi dan mendukung. Ketika kita fokus, kita memakai dan sekaligus mengumpulkan titik; ketika kita scatter atensi kita, kita sedang menghubungkan titik-titik tersebut. Hyperfocus membuat kita mengingat lebih banyak yang akan menciptakan koneksi yang lebih berguna ketika kita dalam kondisi scatterfocus. Scatterfocus juga berfungsi untuk mengisi kembali energi yang akan kita butuhkan pada saat dalam kondisi hyperfocus. Jadi, hyperfocus dan scatterfocus merupakan kawan yang saling menopang untuk hidup yang lebih produktif dan kreatif.

Buku ini memberikan wawasan baru mengenai pentingnya kondisi fokus dan kondisi relaks untuk membuat hidup kita lebih produktif. Banyak data ilmiah hasil penelitian yang disajikan dalam buku ini untuk memperkuat konsep hyperfocus dan scatterfocus ini. Buku ini juga dilengkapi dengan tip-tip praktis dan detail bagaimana kita menjalankannya. Gunakan produktivitas dan kreativitas agar kita dapat sukses di tengah dunia yang penuh dengan gangguan dan persaingan ini. Dan, jawabannya dapat Anda temukan di buku ini. (*)

*) Penulis adalah seorang trainer dan life coach; penulis buku Insightful Presentation, Practical Problem Solving, dan I’m a Leader; trainer senior dari Business Wisdom Institute; alamat surel: iskandar.andy@gmail.com.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)