Accenture: HR Perlu Transformasi Digital

Human Resources (HR) sedang mengalami transformasi. Perkembangan teknologi dalam dunia bisnis sudah menjangkau bidang HR dengan pesat dan cepat. Perusahaan inovatif saat ini berlomba-lomba untuk mengadopsi HR Technology untuk menjadi lebih kompetitif.

Seperti diketahui banyak sekali aktivitas dan pencatatan serta transaksi berulang dalam kegiatan maupun operasional di divsi HR. Aktivitas tersebut jika dilakukan dengan cara-cara tradisional tentunya akan banyak memakan waktu dan membuat organisasi menjadi tidak efisien sehingga kalah bersaing untuk tumbuh dengan perusahaan yang lebih inovatif.

Adanya solusi dari otomasi proses robotik (Robotic Process Automation/RPA) dapat mengatasi inefisiensi operasional dan meningkatkan skalabilitas. Teknologi tersebut, menurut Mike Sweeney, ASEAN T&O Lead dari Accenture, sedang menjadi trend di dunia HR. “Tentu yang saya maksud di sini bukan robot fisik, melainkan sebuah sistem sofware yang otonom, karyawan virtual yang dapat mengeliminir eksekusi manusia, cognitive computing dan sebagainya,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, dengan sentuhan teknologi tersebut maka perusahaan bisa mendapatkan berbagai benefit mulai dari, kemampuan kontrol yang lebih baik dari segi segi auditabilitas, mengeliminas human error, meningkatkan produktivitas, hingga menekan biaya dan kepuasan pegawai yang lebih tinggi.“Melalui RPA, perusahaan-perusahaan di Asia dapat mengotomatisasi banyak proses berulang, baik di front office maupun back office, dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas agar menjadi lebih kompetitif dalam lanskap digital masa kini.,” ungkapnya.

Secara lebih dalam ia mencontohkan otomasi proses robotik bisa dilakukan dalam proses memproduksi dokumen dan manajemen antrian kerja, alokasi biaya rekrutmen, penyiapan karyawan baru, benefit enrollment, Hingga proses leave Administration.

Diadopsinya RPA ini menurut Mike sangat penting karena ke depannya karena kecenderungan perusahan-perusahaan untuk membutuhkan model liquid workforce atau tenaga kerja fleksibel dalam bisnisnya. “Banyak perusahaan besar telah menerapkan hal tersebut,” ujarnya.

P & G misalnya menggunakan tenaga kerja adaptif untuk mengantarkan produk lebih cepat dan dengan biaya lebih rendah daripada konvensional metode 60% dari waktu. P & G juga menggunakan program crowdsourcing inovasi untuk mendorong pertumbuhan penjualan tahunan sebesar US$ 3 miliar. Begitu juga dengan Walmart yang merekrut anggota baru ke tim analisisnya dengan menggunakan crowdsourced. Bukan tidak ke depannya metode crowdsourching ini akan makin marak, bukan hanya untuk layer bawah tapi juga menengah bahkan atas. “Crowdsourching contohnya seperti Uber, mereka tidak menjadikan pengemudinya sebagai karyawan tetap namun mitra atau tenaga kerja fleksibel,” dia menguraikan penjelasannya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)