Apakah Investasi di Industri Film Menguntungkan?

Hal inilah yang yang akan dilakukan pemerintah dengan mendorong pengusaha-pengusaha dalam dan luar negeri untuk membuka bioskop-bioskop secara merata. Sehingga keberdaaan layar bioskop yang merata juga dapat mendistribusikan film secara merata juga. Menurut Triawan, konsumsi bioskop juga masih tinggi di era digital saat ini. “Beralihnya format digital boleh saja terjadi, namun jumlah penonton yang ingin memiliki experience setiap akhir minggu, menonton bersama keluarga, teman-teman, ternyata meningkatnya luar biasa,” ujarnya.

Saat ini jumlah layar bioskop di Indonesia sekitar 1.500 layar. Komposisi idealnya minimal sekitar 5.000 layar untuk jumlah penduduk Indonesia. Seperti Korea Selatan dengan jumlah penduduk 60 juta memiliki hampir 3.000 layar bioskop, sedangkan Indonesia memiliki jumlah penduduk jauh lebih besar dibanding Korsel.

Berbicara masalah produksi dan kreativitas, Bekraf dan Kemendikbud memiliki peran untuk membangun sekolah film lebih banyak lagi. Saat ini telah ada sekitar 15 universitas yang memiliki program tersebut, namun yang harus dimiliki adalah sekolah film khusus. “Rencana ini didukung dengan minat anak muda yang besar dan tinggi ke arah ekonomi kreatif. Oleh karena itu, tidak perlu ada kekhawatiran lagi untuk membuka sekolah film,” ujar Triawan.

Upaya untuk menggali peluang industri film ini, menurut orang tua dari Sherina Munaf ini, dapat diwujudkan dengan menambah layar bioskop dan pendidikan untuk pengembangan SDM. Baginya, penambahan layar bioskop membuat produksi tidak akan suffer, distribusi film juga ada perimbangan jumlah layar sehingga tidak tergantung satu grup saja. “Peluang film Indonesia sangat luar biasa, di 2015 penontonnya 16 juta, saat ini telah mencapai sekitar 42 juta di akhir tahun 2017. Ke depan yang terpenting layarnya semakin banyak maka otomatis penonton akan lebih banyak,” ungkapnya.

Upaya Bekraf untuk menggerakan geliat perfilman Indonesia dengan menggelar Akatara Indonesia Film Financing Forum 2017 (15-16/11/2017). Bersama Badan Perfilman Indonesia (BPI), forum ini menjembatani kepentingan investor dan perusahaan film untuk menjaring minat investor dalam membuka akses pendanaan perfilman nasional. Di ajang tersebut, Bekraf dan BPI mengundang sekitar 50 investor dari dalam dan luar negeri. Tingkat kesusksesannya industri film lebih menguntungkan dibandingkan proyek rintisan digital yang kini sedang marak.

“Ini forum terbuka yan mempertemukan oran-orang yang memiliki ide film dengan penyandang dana yang selama ini belum menyadari bahwa proyek film bisa sangat menguntungkan,” kata Triawan. Target kedepannya, Bekraf akan berkordinasi dengan BKPM (Badan Kooordinasi Penanaman Modal) untuk kebijakan investasi film. Selain itu juga bersama Pemda karena kebijakan pajak film ada ditangan masing-masing Pemda.

 

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.coi.id

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)