BCA Learning Institute Mengadopsi Metode CorpU

Tahap terakhir dari Learning Value Chain adalah learning evaluation. Menurut Novie, BCA mengadopsi Kirk Patrick Model yang memiliki empat level. Level 1 adalah reaksi, yakni mengukur reaksi peserta terhadap program pelatihan secara keseluruhan (materi, intstruktur, kursus, dan sebagainya). Level 2, pembelajaran, yaitu mengukur perubahan sikap, peningkatan pengetahuan dan ketrampilan.

Sementara, untuk level 3, mengukur perubahan perilaku peserta program CorpU. Dan, level 4, mengukur hasilnya yang mencakup peningkatan produksi, penurunan biaya, penurunan angka kecelakaan kerja, penurunan turnover, karyawan, serta peningkatan penjualan dan laba.

Novie menambahkan, evaluasi pada level 1 dilakukan dengan tools EAP, level 2 dengan pre-test dan post-test, level 3 dengan survei 360 derajat, serta level 4 dengan coaching clinic, dan monitor pencapaian KPI. Hanya saja, tidak semua program  pelatihan dilakukan evaluasi sampai level ke-4. “Yang jelas, ketika mendesain program pelatihan, sudah ditentukan evaluasinya sampai level beberapa. Bukan karena tidak konsisten, tapi karena memang sudah ditentukan sejak awal hanya sampai level tertentu,” ujarnya.

Sementara itu, learning technology terdapat video conference untuk menyampaikan materi, lalu yang terbaru adalah BCA e-library untuk meminjam buku secara online, yakni berupa e-book yang bekerja sama dengan Kompas. Kemudian, terdapat mobile learning, gamification, augmented reality, virtual reality, knowledge management portal, e-learning, online community, canteen management system, dan MyVideo.

Untuk leadership development/learning di BCA juga berjalan sangat baik. Sebagaian besar leader di BCA adalah growth from within. Level manager, 89% diambil dari dalam. Menurutnya, jika leader diambil dari dalam akan lebih melekat dengan nilai-nilai BCA dan nantinya perlu menginternalisasi lagi kepada yang berada dibawahnya. Strategi yang dijual ketika merekrut calon talent terbaik adalah mengedepankan employee value proposition (EVP) BCA, yaitu friendly working environment dan continous improvement.

Setelah mereka menjadi karyawan, BCA selalu merencanakan development strategy dengan melakukan identifikasi, pemetaan, perencanaan pengembangan, realisasi pengembangan dan evaluasi. Khusus untuk karyawan yang masuk dalam key talent, ada dua program besar bagi mereka yang akan dipromosikan ke level berikutnya. Pertama, mereka akan diikutkan dalam program pengembangan karier, dari staf hingga ke manager senior. Kedua, jika memang ada kebutuhan untuk akslerasi, mereka akan diikutkan program acceleration development.

BCA berhasil mengadopsi dan mengimplementasikan metode CorpU dalam pengembangan SDM dengan baik karena didukung oleh knowledge management system. Sebab, pada dasarnya CorpU adalah knowledge base. Di BCA, knowledge management framework dibangun dengan menggunakan dua kendaraan, yakni  Community of Practice (CoP) dan KM Center. “BCA mewadahinya dengan menggelar BCA Innovation Award. Contohnya Virtual Assistant (VIRA) BCA, setelah itu dimasukan ke KM Center untuk dievaluasi dan dimonitor,” ujarnya.

Menurutnya, KM Center dan CoP BCA cukup aktif, telah terwujud sekitar 400 CoP. Pada saat sosialisasi, di situlah akan menjadi knowledge, lalu didokumentasikan di KM Center. “Ini juga dapat dipakai dalam learning development, misalnya untuk mengetahui knowledge yang baru,” ungkap Novie.

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)