BI Prediksi Dunia Usaha di Kuartal II Membaik

Yati Kurniati, Direktur Eksekutif Departement Statistik Bank Indonesia saat pemaparan. (Foto: Anastasia/SWA).

Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) untuk kuartal II 2018. Isinya tentang perkiraan arah pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2018, sebagai peta bagi dunia bisnis dan usaha di Indonesia.

Bank sentral memperkirakan di kuartal II ini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik secara signifikan dibanding kuartal sebelumnya. Adapun sektor yang diperkirakan tumbuh secara positif adalah industri pengolahan, perdagangan dan perniagaan, restoran dan hotel, sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan.

“Bulan Ramadhan dan libur panjang mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal II ini, khususnya di sektor perdagangan, restoran, dan hotel.” ujar Yati Kurniati, Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia. Dia menambahkan, kenaikan ini sejalan dengan peningkatan penggunaan kapasitas produksi terpakai sebanyak 78,4% dari kuartal sebelumnya. Jika dibandingkan dengan penggunaan kapasitas utilisasi di kuartal yang sama tahun lalu, yakni sebesar 77,01%, kuartal II mendatang akan jauh lebih baik.

Sektor pertanian, industri, listrik, air, dan gas menjadi sektor yang paling tinggi dalam penggunaan kapasitas. Sehingga dia mengatakan perlu adanya peningkatan suntikan investasi untuk perluasan volume kapasitas. “Penggunaaan kapasitas di sektor tersebut sudah mencapai 85,7%, biasanya perusahaan ketika sudah memakai 80% sudah harus meluaskan kapasitasnya,” ujarnya.

Adanya perbaikan dunia usaha juga terlihat dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II tahun 2018 sebesar 20,89%, meningkat dari kuartal sebelumnya, sebesar 8,23%.

Industri manufaktur juga diramalkan akan membaik di kuartal II menndatang. Hal ini terlihat dari Prompt Manufacturing Index (PMI) fase ekspansi dengan indeks sebesar 52,4%, naik 0,8% dibanding kuartal sebelumnya. Untuk diketahui, jika indeks berada di angka 50% itu artinya akan ada ekspansi usaha. “Kami memperkirakan ekspansi yang terjadi di Q2 akan lebih besar dibanding Q1,” kata dia. Ekspansi industri pengolahan, tegasnya, akan didorong oleh adanya peningkatan volume pesanan.

Sementara untuk penjualan eceran pada bulan Juni 2018 meningkat sebesar 6,8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Hal ini seiring dengan masih tingginya permintaan musiman Ramadhan dan Idul Fitri. Adapun permintaan paling banyak berasal dari sektor makanan. “Kami perkirakan penjualan ritel pada kuartal II tahun 2018 akan meningkat,” ujarnya menegaskan. Peningkatan ini juga sejalan dengan SBT kegiatan usaha di sektor perdagangan. Peningkatan penjualan eceran diprediksi akan bersumber dari komoditas bahan bakar, makanan, minuman, dan tembakau.

Sementara itu, melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, memberi efek yang cukup signifikan bagi pelaku usaha yang menggunakan bahan baku impor. Namun, Yati menjelaskan sebagian besar dari mereka belum memutuskan untuk menaikan harga jualnya.

“Dari survei,  mereka belum merubah harga jual, tapi menurunkan margin keuntungannya. Tapi mereka tidak mau rugi juga.” kata dia. Adapun sektor yang mungkin akan banyak terdampak dari pelemahan Rupiah adalah industri kimia, farmasi, dan tekstil. Industri ini dinilai yang paling banyak menggunakan bahan baku impor.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)