Bisnis Setelah Pandemi Sifatnya Irreversible

Entrepeneur Tanadi Santoso mengategorikan dampak Corona terhadap bisnis menjadi lima kelompok, yaitu deathly (airlines, yacht, dan travel agent), painful (hotel, mall, EO dan WO), less business (restoran, training, dan transportasi), stable (pendidikan dan industri yang menunjang penangangan wabah), dan positive business (pembuat masker, pembuat handsanitizer, Zoom).

Tanadi menyebut, bisnis terdampak bisa survive secara bertahap dengan memperhatikan sumber daya yang ada, seperti rekan kerja, kemampuan diri sendiri, kapasitas pabrik, hingga potensi karyawan. Kemudian, bisnis bisa bangkit dengan menghasilkan value lebih untuk revenue lebih pula.

Sementara itu, studi dari Harvard meramalkan pandemi baru akan berakhir di 2022. Sedangkan studi dari Budi Sulistyo yang dikutip oleh pakar pemasaran, Yuswohadi memperkirakan dengan penanganan social distancing longgar seperti yang sekarang terjadi, diperkirakan wabah baru berlalu sekitar Maret 2021.

Nagji-Tuff pada tahun 2012 merumuskan survival innovation strategy yang diikutsertakan dalam paparan Yuswohadi mengenai keberlanjutan bisnis. Survival innovation strategy yaitu survival core strategy, survival adjacent strategy, dan survival transformational strategy.

Dalam memperkuat core business di tengah wabah, beberapa bisnis kuliner mengeluarkan inovasi produk seperti kopi seliter dan frozen food. Bahkan Starbucks Indonesia telah mengeluarkan kopi siap minum satu liter, mengikuti tren kedai kopi lainnya.

Adjacent berupa pengembangan bisnis yang telah ada menjadi bisnis baru, dicontohkan Yuswohadi seperti travel meluncurkan layanan same-day delivery dan salah satu fast fashion mengeluarkan home leisure wear alias pakaian rumah. Sementara untuk strategi transformasi adalah perubahan besar-besaran yang menggaet market baru yang sebelumnya tidak ada. Contohnya adalah Facebook Gaming yang diluncurkan Facebook hingga layanan virtual experience dari Airbnb.

Munculnya new normal turut memaksa inovasi di seluruh sendi bisnis. Yuswohadi merumuskan sepuluh inovasi sendi bisnis yakni inovasi value,inovasi produk, inovasi promosi, inovasi channel, inovasi rantai pasok, inovasi layanan, inovasi digital, inovasi kolaborasi, inovasi user experience, hingga inovasi model bisnis.

“Sebagian besar bisnis akan masuk ke fase baru setelah pandemi yaitu next normal. Next normal ini sifatnya irreversible. Mungkin ada bisnis yang nantinya tidak berbeda jauh dari old normal yaitu sebelum pandemi, tapi saya perkirakan tidak banyak,” ujar Yuswohadi.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:
new normal

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)