Bukopin Ingin Jadi Perusahaan Idaman di 2018

Bukopin Manajemen Risiko, Kepatuhan & PSDM PT Bank Bukopin Tbk., Irlan Suud.

Menciptakan employee engagement pada sebuah perusahaan wajib dilakukan. Bermacam cara perusahaan berusaha melakukannya, salah satunya yang dilakukan PT Bank Bukopin Tbk. (Bukopin) dengan menggandeng Hay Consultant untuk melakukan survei terkait employee engagement.

Menurut Manajemen Risiko, Kepatuhan & PSDM PT Bank Bukopin Tbk., Irlan Suud, upaya ini perlu untuk mengukur kaitannya dengan Employee of Choice (EOC). “Kami menargetkan menjadi EOC  tahun 2019 mendatang. Survei internal kami menunjukkan nilai 80 dalam hal engagement dengan karyawan, jauh di atas rata-rata industri. Kami mencoba untuk improve apa yang menjadi titik lemah dari penilaian, seperti confidence of leadership yang rendah, maka itu harus diperbaiki dengan kelas pelatihan leadership,” ungkapnya.

Irlan percaya bahwa engagement dan pemberdayaan yang bagus akan memengaruhi motivasi kerja, produktivitas, dan performance financial perusahaan. Namun, yang menjadi perhatian adalah hasil dari survei yaitu pay and benefit tidak menjadi yang paling utama dalam engagement karyawan. “Perusahaan yang baik tidak hanya meberikan gaji yang besar, tetapi kenyamanan bekerja, rasa dihargai, jenjang karier yang jelas, dan mendapat arah dari figure leader. Itu yang menjadi faktor employee engagement,” ujarnya.

Untuk menjadi EOC, Bukopin berusaha menjaga image positif bank dengan mengikuti dan mendukung GCG. Program pengembangan karyawan juga diberikan dengan mengasah kompetensi dan leadership seperti coaching, konseling, dan mentoring. Selain itu, Bukopin  memiliki scholarship di dalam dan luar negeri. Karyawan yang terpilih memiliki kesempatan untuk mengenyam ke jenjang yang lebih tingi. “Empat calon S2 akan berangkat keluar negeri pada tahun ini. Program ini bekerja sama dengan LPDP. Kami ingin SDM Bukopin memiliki jenjang pendidikan yang tinggi pula,” ujarnya. Bukopin juga menampung lulusan LPDP dan  melakukan order, misalnya dalam 5 tahun ke depan mereka membutuhkan tenaga digital banking, dari lulusan LPDP akan menjadi kandidat.

Diakuinya, Bukopin masih dalam masa transisi terkait dengan masuknya generasi baru dan teknologi meskipun hampir 60% adalah milenial. Beberapa cara kerja Bukopin sudah berubah dengan membuka outlet digital banking secara bertahap untuk menghadapi era digital. “Interaksi, kami coba untuk merubah pola pikir mengikuti atau menyesuaikan generasi milenial. Baby boomers dibekali dengan kompetensi untuk dapat bergaul atau menyesuaikan para milenial ini,” jelasnya. Rencananya bagaimana semua pola kerja bisa dilakukan dengan digital, dengan sistem IT yang mumpuni. Targetnya, 2021 Bukopin telah terdigitalisasi.

Segala upaya yang dilakukan Bukopin untuk menciptakan employee engagement berhasil mewujudkan turn over yang rata-rata. Namun yang terjadi adalah penurunan jumlah karyawannya akibat dari tidak perform. Kini total aset Bukopin terakhir pada 2016 sebesar Rp105,406 triliun dengan total equity Rp9,538 triliun. Laba hingga bulan Juli 2017 sebesar Rp545 miliar, turun 16% year on year.

 

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)