E-Commerce Sudah Ketinggalan Zaman, Saatnya Digital Commerce

Teknologi telah mengubah sektor ritel, kekuatan yang semula berada di tangan brand berpindah ke tangan konsumen. Konsumen saat ini memiliki akses ke berbagai informasi sehingga terpapar pada lebih banyak pilihan. Secara signifkan hal ini telah mengubah lanskap pasar, memungkinkan pesaing untuk tampil sebagai pemimpin baru.

 

Di 2020, digital commerce kawasan ASEAN diperkirakan tumbuh secara eksponensial mencapai US$ 32 miliar dalam 3 tahun ke depan. Tapi apa yang mendorong ekspansi eksponensial ini?

Mohammed Sirajuddeen, Managing Director & Digital Commerce Lead for APAC, Africa, Middle East & Turkey, AccentureMohammed Sirajuddeen, Managing Director & Digital Commerce Lead for APAC, Africa, Middle East & Turkey, Accenture

Mohammed Sirajuddeen, Managing Director & Digital Commerce Lead for APAC, Africa, Middle East & Turkey, Accenture memparkan bahwa demografi memainkan peran utama dalam mendorong pertumbuhan ini. 50% dari populasi ASEAN berusia di bawah 30 tahun, dan memasuki masa potensi kemampuan belanja tertinggi mereka.

 

Penggunaan perangkat seluler dan internet semakin meningkat tanpa henti, dengan 800 juta koneksi mobile dan 480 juta pengguna internet diperkirakan akan dicapai pada 2020. Kemakmuran yang meningkat, didukung oleh pertumbuhan PDB yang pesat melebihi 5% akan menghasilkan 70 juta rumah tangga menjadi konsumen baru.

 

“Pemerintah di seluruh kawasan ASEAN diproyeksikan akan berinvestasi sebesar US$ 200 miliar antara periode 2015 hingga 2020 di bidang infrastruktur digital. Hal ini menekan sektor swasta untuk meningkatkan kemampuan digital mereka. Antara 2014 dan 2016, perusahaan-perusahaan di ASEAN menginvestasikan US$ 3 miliar dalam digital commerce untuk empat tahun ke depan, jumlah ini diperkirakan meningkat lebih dari tiga kali lipat, menjadi US$ 10 miliar,” kata Siraj panggilan Mohammed Sirajuddeen.

 

Perubahan Konsumen Asia

Faktor pendorong di balik semua perubahan ini terletak pada konsumen. Pola hidup di kawasan Asia semakin sibuk, konsumen ingin terbebas dari aktivitas yang memakan waktu sehingga bisa lebih meluangkan waktu untuk sesuatu yang berharga bagi mereka, misalnya, waktu bersama keluarga.

 

Dengan perangkat yang dilengkapi teknologi terbaik saat ini, konsumen menginginkan pengalaman layanan daring maupun offline yang lebih baik. Hampir satu dari empat pembelian daring sekarang dilakukan menggunakan ponsel pintar dan pada tahun 2020 sekitar 65% dari semua transaksi akan dilakukan secara daring.

 

Jatuhnya penjualan perusahaan dengan sistem bisnis konvensional merupakan bukti bahwa pembeli sudah mulai beralih ke perangkat pintar. Konsumen mencari informasi dan membuat keputusan berdasarkan ulasan dari banyak sumber dan membandingkan harga melalui aplikasi dan situs web untuk menemukan penawaran terbaik.

 

Bentuk e-commerce ini diprediksi akan berubah pada tahun 2020, seiring perkembangan teknologi untuk mempersiapkan kita menghadapi tahap berikutnya – surga bagi para pembeli - dimana konsumen bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan sebelum mereka menginginkannya.

 

Pada saat itu, perpaduan Internet of Things dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) akhirnya akan membuat rumah tangga lebih cerdas (dilengkapi dengan teknologi terdepan). Perangkat rumah tangga akan mengotomatisasi seluruh proses belanja dan di saat yang bersamaan mengantisipasi dan mengingatkan saat persediaan makanan sudah mulai habis. Perangkat dengan bantuan suara akan memberikan prediksi dan membantu menyelesaikan pembelian melalui metode pembayaran yang lebih praktis.

 

“Aktivitas belanja dapat diintegrasikan sepenuhnya ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita menggunakan waktu tanpa harus melakukan ritual persiapan yang membosankan,” ujar Siraj.

 

 

Era Baru Digital Commerce

Jadi mengapa e-commerce menjadi ketinggalan zaman? Hal ini terjadi karena apa yang berhasil di masa lalu belum tentu efektif saat ini. Hanya dengan mempromosikan produk di platform daring dan menghabiskan dana untuk strategi pemasaran saja tidaklah cukup untuk menarik konsumen Asia yang tengah berkembang pesat.

 

Model bisnis ini merupakan paradigma yang sudah jauh tertinggal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Perusahaan terkemuka telah beralih dari metode penjualan daring konvensional dalam 18 bulan terakhir karena hanya menawarkan aktivasi, pengalaman pelanggan dan data yang terbatas.

 

Perusahaan saat ini sudah banyak menerapkan digital commerce dalam menjalankan bisnis daring. Digital commerce memungkinkan mereka menghasilkan kebutuhan, mengendalikan rantai pasokan, meningkatkan pengalaman pelanggan dan menyediakan data yang cukup untuk menganalisa agar usaha pemasaran menjadi lebih terarah, efektif dan terpadu.

 

Rumah mode Ralph Lauren telah mengadopsi strategi terintegrasi untuk menciptakan hubungan emosional yang lebih dalam dengan pelanggannya. Butik andalan di area Manhattan dilengkapi ruang ganti (fitting room) interaktif untuk mengenali barang yang dibawa pelanggan dengan teknologi identifikasi frekuensi radio (RFID). Cermin cerdas (smart mirrors) secara otomatis menampilkan barang-barang di layar, memberikan rekomendasi sesuai dengan ukuran dan warna yang tersedia.

Fitur lain dari cermin mencakup enam pilihan bahasa dan fitur tombol "panggil pegawai" untuk memanggil karyawan butik. Di bagian belakang, data RFID dianalisis untuk membantu pengecer membuat keputusan dan prediksi terkait merchandising, seperti informasi tentang pakaian yang sering dicoba oleh konsumen namun tidak dibeli.

 

Buah Kemenangan dari Keberanian

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen saat ini dan di masa depan, perusahaan perlu mengembangkan platform digital commerce dan panduan pemasaran mereka, serta mengevaluasi strategi daring dan perangkat teknologi yang mereka miliki saat ini. Hal ini dapat dicapai melalui teknologi pendukung seperti analisis data, sistem pengelolaan konten dan produk web, pembayaran, manajemen pesanan dan perencanaan logistik untuk memberikan pengalaman pelanggan terbaik di kelasnya.

 

 

Saat ini penerapan e-commerce sudah tidak relevan. Kita perlu menghadapi era baru perdagangan digital untuk memenuhi tuntutan konsumen Asia yang terus berkembang.

 

Digital Commerce di Indonesia

Leonard Nugroho, Managing Director Technology Consulting Accenture menjelaskan meski belum ada perusahaan di Indonesia yang sudah sepenuhnya menerapkan digital commerce, namun sejumlah perusahaan di berbagai industri di sini sudah mulai mengarah ke digital commerce. Artinya saat ini sudah banyak perusahaan di Indonesia yang memikirkan untuk menjadi digital commerce. “Beberapa perusahaan di consumer goods, keuangan/banking, telko, tansportasi ada yang sudag mengikuti alur menjadi perusahaan digital commerce,” katanya

Leonard Nugroho, Managing Director Technology Consulting Accenture (berdiri)

Jadi ujung dari digital commerce adalah perusahan banyak menggunakan sistem seperti pada bagan “Accenture Digital Commerce Control Tower” di atas untuk memberikan pelayanan terbaiknya dengan menghadirkan customer experirence secara digital. “ Kalau di Indonesia, 3-5 tahun lagi sudah banyak perusahaan yang menjadi digital commerce,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)