ICAEW: Investasi Pendidikan dan FDI Dorong Transisi Jangka Panjang Indonesia

Photo 2

Berdasarkan laporan terakhir yang dirilis oleh ICAEW, investasi di bidang pendidikan dan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment atau FDI) dapat mendorong transisi jangka panjang Indonesia menuju ekonomi berbasis barang manufaktur bernilai tinggi. Namun, sulitnya pengembalian investasi dalam jangka pendek telah memaksa Indonesia mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dari 5,6 persen ke 5,1 persen.

Laporan ICAEW, yang berjudul Economic Insight: South East Asia, memberikan gambaran kepada 142.000 anggotanya mengenai kondisi perekonomian terkini di wilayah ASEAN yang berfokus pada negara-negara, seperti Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

ASEAN akan menghadapi tantangan tahun ini, disebabkan oleh terjadinya aksi jual besar-besaran di pasar berkembang baru-baru ini yang berpotensi meningkatkan suku bunga di negara-negara maju sehingga memicu beralihnya para investor serta kemunduran ekonomi di China.

Negara-negara ASEAN yang kurang berkembang masih berjuang dengan ketergantungan pada barang-barang komoditas, sedangkan negara-negara yang lebih berkembang, seperti Filipina dan Indonesia, berusaha untuk bertransisi menuju ekonomi maju berbasis variasi produk ekspor.

Dua hal yang harus dimiliki untuk dapat bertransisi dari ketergantungan terhadap komoditas ekspor menuju barang manufaktur bernilai tinggi, antara lain: investasi pemerintah di bidang pendidikan dan keterampilan, serta investasi sektor swasta berskala besar di bidang produksi.

Mark Billington, Regional Director ICAEW untuk Asia Tenggara, mengatakan, “Investasi di bidang pendidikan dan keterampilan merupakan kunci dalam membangun ekonomi berasaskan ilmu pengetahuan. Meskipun Filipina dan Indonesia telah berhasil menyediakan pendidikan dasar untuk tingkat sekolah dasar dan menengah, pemerintah masih perlu meningkatkan investasi di bidang pendidikan untuk tingkat lanjut, terutama dalam mengembangkan keahlian di bidang ilmu pengetahuan dan teknik supaya dapat beralih menuju negara produsen barang bernilai tinggi.”

Ketika fondasi tersedianya tenaga kerja berpendidikan tinggi tercapai maka perkembangan sektor bernilai tinggi ini akan bergantung kepada masuknya investasi asing. Charles Davis, Economic Advisor ICAEW mengatakan, “Investasi bukan hanya membangun pabrik dan menciptakan kapasitas baru. Hal yang sama pentingnya adalah bahwa perusahaan-perusahaan asing mendirikan sektor baru di negara-negara kurang berkembang untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan keahlian para pekerja sehingga mereka dapat memproduksi barang-barang dan layanan atau jasa bernilai tinggi.”

Saat ini, stabilitas nilai Rupiah menunjukkan perkembangan yang baik, bahkan meningkat hingga 6 persen sejak awal tahun ini. Namun, ketidakpastian akibat penyelenggaraan Pemilihan Umum Presiden memunculkan beberapa risiko dan pelemahan kepercayaan investor dalam jangka pendek. Masuknya investasi asing langsung diperkirakan akan tetap melemah sebelum kembali bergairah pada 2015. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)