Penjualan Kondominium di Jakarta Bakal Cetak Rekor

Ternyata hunian berbentuk vertikal, yaitu kondominium, semakin digemari  masyarakat Jakarta. Perusahaan konsultan properti yang berkantor pusat di Amerika Serikat, Jones Lang LaSalle, berpandangan, kondisi itu didorong oleh, salah satunya, rendahnya suku bunga bank. Permintaan yang tinggi itu pun disambut oleh pihak pengembang, yang menyediakan suplai kondominium cukup kencang.

Anton Sitorus Anton Sitorus

“Penjualan unit-unit kondominium strata di pasar primer, maksudnya yang langsung dari developer sepanjang triwulan II ini mencapai 4.280 unit. Kalau dibandingkan dengan triwulan yang kemarin pun sekitar 4.300-an, nggak jauh beda. Dan kalau kita lihat secara historis jumlah ini bisa dibilang merupakan rekor, jadi meskipun dibandingkan dengan periode sebelumnya tahun 2004-2005 ketika peak pasar kondominium terjadi, itu beberapa waktu belakangan ini relatif lebih tinggi,” terang Anton Sitorus, Head of Research (Indonesia) Jones Lang LaSalle, di Jakarta, Rabu (17/7/2013).

Melihat data berupa grafik yang ditampilkan oleh Jones Lang LaSalle sepanjang tahun 2007 hingga sekarang ini, memang terlihat kenaikan yang cukup signifikan dalam penjualan kondominium di Jakarta sejak triwulan III tahun 2012. Hingga pertengahan tahun ini saja, Anton mengatakan jumlah unit kondominium yang sudah terjual ada lebih dari 8.000 unit.

Perusahaan berpandangan, tingginya penjualan properti berbentuk vertikal itu terjadi seiring dengan perkembangan kota Jakarta menuju kota bertaraf internasional. Suku bunga bank yang rendah juga menjadi pendukung naiknya permintaan.

“Selain karena faktor meningkatnya permintaan dan suku bunga, kami juga melihat developer makin gencar dalam bangun kondominum-kondominium baru. Belakangan ini beberapa developer besar meluncurkan proyek baru dengan jumlah unit yang besar. Bisa ratusan bahkan ribuan unit dalam satu proyek saja,” ujar dia.

Mengenai suplai kondominium, Anton menyebutkan, dari sekitar 4.000 unit yang diluncurkan sepanjang triwulan II, proporsinya berimbang antara yang segmen menengah dan bawah-menengah. Kalau di triwulan sebelumnya, terang dia, kondominium kelas menengah lebih mendominasi, maka di triwulan kedua, proyek kondominium kelas bawah-menengah lebih banyak. “Proyek lower-middle kurang lebih di bawah Rp 13 juta per meter persegi, Rp 13-24 juta tergolong sebagai middle. Di atas Rp 25 juta kami golongkan upper,” terang dia.

Karena permintaan kondominium begitu deras, harganya pun mengalami kenaikan. Sejak awal hingga pertengahan tahun ini, kenaikan harga bervariasi antara 11-17 persen. Kenaikan tertinggi khusus di triwulan II terjadi di segmen menengah. “Sampai dengan Juni, harga kondominium yang kami pantau untuk kelas upper sekitar Rp 30 juta, kelas middle sekitar Rp 20 juta, sedangkan kelas lower-middle Rp 12 juta per meter persegi.”

Suplai kondominium pun akan terus berlangsung. Dia mengatakan, sampai dengan tahun 2016, akan ada tambahan sebanyak 37.800 unit. Angka tersebut termasuk yang diluncurkan pada triwulan II sekitar 4.000 unit. Dari jumlah 37.800 unit tersebut, sebanyak 70 persennya sudah terjual.  Ia mengatakan, “Di mana kalau kami lihat berdasarkan segmen, kelas middle dan upper tingkat penjualan hampir sama 80-an persen, sedangkan lower-middle tingkat penjualan 60 persen.”

Melihat situasi yang demikian, konsultan properti ini pun melihat penjualan kondominium bisa mencetak rekor di tahun ini. “Tahun lalu, kami mencatat sebagai rekor tertinggi penjualan kondominium di jakarta. Tahun ini sampai dengan pertengahan tahun saja, sudah melebihi setengah daripada penjualan di tahun lalu. Bisa jadi tahun ini, penjualan unit kondominium lebih tinggi lagi. Bisa jadi tahun ini akan menjadi rekor penjualan kondominium lagi,” tandas Anton. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)