Cara Kawan Lama Hadapi Era Digital dan Millenial

CEO Kawan Lama Group, Kuncoro Wibowo.

Telah berkecimpung di ranah bisnis selama 62 tahun, banyak pasang surut yang telah dialami oleh Kawan Lama Group. Kini bisnis Kawan Lama diteruskan oleh generasi kedua dan akan segera bertransisi ke generasi selanjutnya.

Bertahannya Kawan Lama hingga sekarang tak lepas dari sifat adaptifnya dalam mengikuti perkembangan zaman. Di era digital sekarang, fenomena pola berbelanja yang bergeser tak bisa dipungkiri. Maka dari itu, perusahaan harus mengikuti arus dan menangkap peluang bisnis tersebut. Menurut CEO Kawan Lama Group, Kuncoro Wibowo, perusahaan yang ia nahkodai telah memiliki sistem dan infrastruktur yang sesuai dengan era digital.

Menurut Kuncoro, Kawan Lama telah mengadaptasi digital marketing dengan menciptakan Ruparupa.com sebagai platform memasarkan barang produksinya kepada costumer. “Selain Ruparupa.com, kita juga memiliki Klikmro.com untuk barang kebutuhan maintenance. Offline tetap kita pertahankan juga untuk industrial produk. Kehadiran Klikmro.com sangat membantu UKM, karena kami menjual produk yang mereka butuhkan dalam jumlah yang sedikit tapi terjamin kualitas, keaslian, dan harga kompetitif,” ujarnya.

Kesiapannya untuk masuk digitalisasi telah dibuktikan sejak awal dengan keberadaan Krisbow.com dan Kawanlama.com. Krisbow.com telah ada sejak 2013 sebagai awal Kawan Lama masuk ke industri e-commerce B2B, sedangkan Kawanlama.com hadir di tahun 2015 untuk pasar B2B. “Untuk Ruparupa.com lebih fokus ke B2C. Kami tidak membangun marketplace, tetapi hanya menyediakan channel baru untuk menyalurkan produk Kawan Lama. “Hal ini terwujud dari dinamika pola berbelanja saat ini. Kebutuhan yang dasar yang tidak membutuhkan technical information atau consultative selling dapat dijalankan melalui digital procurement,” tambahnya.

Cara konvesional masih memegang peranan penting. Beberapa produk Kawan Lama membutuhkan technical consultant , sehingga diperlukan interaktif antar seller dan buyer. Meskipun era digital telah dimulai sejak 5 tahun lalu, tantangan dalam hal logistik dan supply chain belum maksimal dalam penerapannya secara digital. Kawan Lama sebisa mungkin mensinergikan kedua cara, konvensional dan digital, untuk dapat berjalan ke depan.

Dalam industri produk Kawan Lama mempunyai 17 cabang di seluruh Indonesia dan 300 retail kecil dan besar yang tersebar di 35 kota seluruh Indonesia. “Untuk supply chain kami memiliki beberapa distribution center di area timur (Surabaya), area Sumatera (Medan), dan Jakarta ada 2 lokasi yaitu di Jakarta Barat dan Jakarta Timur,” ungkapnya. Penambahan distribution center akan dilakukan di kota besar lainnya, yaitu memperbesar distribution center yang ada di Surabaya. Selain itu Kawan Lama berencana ekspansi lokasi distribution center di Jawa Barat, Semarang atau untuk wilayah timur (Manado) untuk mempermudah konsumen yang berbelanja online.

Upaya yang dilakukan Kawan Lama adalah wujud nyata untuk meningkatkan kepuasaan pelanggan dan meningkatkan loyalitas bisnis mereka. Membership juga diberikan kepada pelanggan dengan fasilitas point rewards dengan diskon dan penawaran tertentu. “Kami juga memiliki mobile apps untuk ACE dan Informa, tidak lama lagi Ruparupa.com dan Chatime akan mengikuti. Dari situ pelanggan dengan mudah dapat mengetahui penawaran apa saja dari Kawan Lama Group,” ungkapnya. Tak berhenti menggerakan bisnisnya ke retail, lifestyle, dan F&B, Kawan Lama akan lebih mengembangkan pembangunan mall yang juga dijadikan sebagai penunjang produknya, salah satunya adalah Living World Alam Sutera.

Keberlangsungan bisnis Kawan Lama tak pelak dari filosofi perusahaan yang dijalankan selama 62 tahun. Tugas mereka memindahkan tampuk kekuasaan ke generasi selanjutnya beserta filosofi perusahaaannya. Peran generasi muda yang lebih mengenal digital akan mendapat support inovasi dari pendahulunya. “Tantangan bagi mereka adalah untuk growing next generation. Karena banyak perusahaan keluarga yang tidak bertahan. Jangan sampai generasi pertama mendirikan dan membangun, generasi kedua mengembangkan, ternyata generasi ketiga hanya menikmati saja,” ungkap Kuncoro.

 

Reportase: Tiffany Diahnisa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)