Cihuy Chips, Bisnis Keripik Ubi Cilembu Ala Mahasiswa

Rachmad Mahendra, CEO Cihuy Chips

Kepenatan saat ujian membuat seorang mahasiswa bernama Rachmad Mahendra, atau yang biasa dipanggil Mahen, memutuskan untuk berjalan-jalan ke Desa Cilembu, Sumedang.

Saat berada di sana, tanpa sadar hujan pun turun. Ia akhirnya berteduh di rumah warga setempat. Salah satu suguhan di rumah warga yang menarik perhatian Mahen adalah keripik ubi cilembu.

Mahen melihat peluang bisnis di sana, di mana warga setempat bisa membuat keripik yang enak, namun tidak tahu bagaimana cara memasarkannya. Ia pun membentuk kerja sama dengan salah satu warga petani. “Kalau sekarang, kami sudah bekerja sama dengan kelompok wanita tani di sana, sebanyak empat keluarga,” tutur Mahen saat diwawancarai oleh SWA Online melalui telepon.

Para petani lokal Desa Cilembu bertani, kemudian langsung mengolah hasilnya menjadi keripik. Sebelum berkerja sama dengan Mahen, keripik tersebut dijual ke tengkulak oleh petani. Pengolahan yang dilakukan bisa menaikkan harga ubi dari Rp7.000 menjadi Rp30.000.

Setelah bekerja sama, Mahen membumbui keripik tersebut, mengemasnya, dan memasarkannya. Keripik ubi cilembu tersebut Mahen beri nama Cihuy Chips yang dijual seharga Rp 15.000 per bungkusnya dengan empat rasa, di antaranya karamel, keju balado, keju original, dan cokelat. “Rasa tersebut merupakan pesanan dari kami. Untuk resep karamel kami cari dari internet.” jelasnya.

Adapun Cihuy Chips memberikan standar produksi pada petani, misalnya minyak hanya boleh dipakai untuk dua kali penggorengan, setelah selesai digoreng, dilakukan proses spinner supaya minyak turun. Proses spinner tersebut bisa membuat keripik lebih tahan lama.

Pembagian pendapatan untuk petani dihitung per kemasan, yaitu Rp3.000 untuk keripik dan Rp300 untuk jasa mereka mengemas. “Sementara itu, untuk perizinan kami dibantu oleh program Kabupaten Sumedang dan kelompok wanita tani. Cihuy Chips sudah mendapatkan sertifikat halal dan PIRT,” tutur Mahen.

Usaha ini dibangun bulan April 2016 dengan modal awal Rp45.000 untuk membeli satu kilogram keripik dan Rp 25.000 untuk pengemasan. “Waktu itu kami masih mengemasnya dengan plastik es dan kami beri label. Pertama kali kami hanya pasarkan ke teman-teman dan langsung terjual habis. Hasil penjualan digunakan lagi untuk penjualan selanjutnya,” ungkap Mahen.

Saat ini, penjualan Cihuy Chips mencapai 4.000 bungkus per bulan dengan omzet Rp40 juta. Produk tersebut dipasarkan secara online, sehingga penjualannya bisa mencapai Singapura, Aceh, Medan, Sulawesi, Kalimantan, hingga NTT. “Kami membentuk sistem kerja sama dengan distributor dan reseller. Bedanya, setiap distributor itu minimal melakukan pengambilan produk sebanyak 200 bungkus, sementara reseller 25 bungkus.” Distributor mendapatkan harga khusus, yaitu sebesar Rp10.000 per bungkus dan Rp12.000 untuk reseller. Selain dipasarkan melalui online, distributor, dan reseller, Cihuy Chips juga sudah memasuki pasar ritel 212 Mart.

Pemuda yang merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian ini mengaku bahwa keunggulan dari produknya menjadi satu-satunya produk ubi cilembu yang dipasarkan secara nasional. “Kalau misalkan orang ingin mencari keripik ubi cilembu, otomatis mereka mencari Cihuy karena kami yang pertama,” tuturnya. Adapun segmen pasar Cihuy Chips adalah pelajar SMP, SMA, dan universitas.

Beriklan menjadi salah satu strategi Mahen dalam memperkenalkan Cihuy Chips pada calon konsumen. “Untuk promosi, kami beriklan di Instagram. Kami juga mempunyai donasi, di mana setiap satu bungkus yang terjual, 2,5% dari harganya akan kami sumbangkan pada orang yang membutuhkan.”

Untuk memperbesar usaha, ia mengaku ada kendala pada dana. “Permintaan semakin banyak, namun uang masih kurang. Akhirnya, kami melakukan lobby pada penyedia kemasan agar pendanaan dapat dipermudah,” ujarnya.

Mahen belum merasakan ada kompetisi di pasar. Hal tersebut dikarenakan Cihuy Chips adalah pemain tunggal di segmen keripik ubi cilembu.

Tim Cihuy Chips menargetkan tahun depan dapat memasuki pasar ritel. “Kalau masuk ritel, produksi sudah harus mencapai 20-50 ribu bungkus per bulan. Sebenarnya, sudah ada beberapa ritel yang menawarkan kerjasama, namun kami belum menyanggupi karena kami masih dalam tahap pengembangan modal," ujar Mahen.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!