Dari Obrolan Grup WhatsApp, Terbentuklah TELMI

Forum diskusi IoT dan Netwoking di IDS, Jati Padang-Pejaten Jakarta (20/6/2016) Foto: Syukron Ali/SWA) Forum diskusi IoT dan Netwoking di IDS, Jati Padang-Pejaten Jakarta (Foto: Syukron Ali/SWA)

Dijelaskan oleh Abdee Negara, kondisi musisi di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal tersebut ditengarai dengan maraknya pembajakan hak cipta atas lagu-lagu yang diciptakan oleh para musisi. Belum lagi lagu-lagu yang diputar secara bebas di pusat komersil baik itu hotel, mall, cafe ataupun restorant tanpa memberikan royalti kepada para musisi.

Kondisi tersebut yang mendorong lahirnya  Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Nasional (LMKN), sebuah lembaga independen yang bertugas menetapkan cara pendistribusian royalti dan besaran royalti untuk pencipta, pemegang hak cipta dan pemilik hak terkait dengan ditariknya royalti dari pengguna secara profesional, akuntable dan transparan.

Adapun alat yang dipakai untuk mendeteksi lagu-lagu yang diputar di tempat komersial adalah dengan TELMI (Telinga Musik Indonesia). Sebuah platform yang memanfaatkan Internet of Thing (IoT) untuk mengumpulkan data pemutaran lagu di berbagai lokasi komersial. Dengan begitu, dapat ditentukan dengan jelas dan fair royalti untuk musisi atas lagu-lagu yang diputar.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) Triawan Munaf, mengakui nama TELMI ia sendiri yang memberinya. “Biar lebih mudah diinget dan keren saya usul pakai nama TELMI,” jelas Triawan di depan peserta diskusi IoT yang diselenggarakan oleh Ideosource dan International Design School (IDS) di Jati Padang Pejaten, Jakarta (20/6).

Triawan melanjutkan, ide TELMI muncul dari obrolan grup WhatsApp 'Kawal eCommerce' yang terdiri dari berbagai pelaku eCommerce dan Kementerian terkait lainnya. Dengan hadirnya TELMI, diharapkan dapat membantu para musisi agar terus bergairah dalam melahirkan karya dan dapat meningkatkan pendapatan dan kemakmuran para musisi di Indonesia.

Sementara itu, Izak Janie dari Kresna Investment , menjelaskan, cara kerja TELMI sangat simpel. Caranya, memanfaatkan boks kecil berkonsep IOT. Boks tersebut terkoneksi melalui wifi dan secara rutin mendengarkan musik yang sedang diputar di tempat komersil.

Setiap satu menit 10 detik, potongan musik akan dikirim ke komputer pusat lalu dilacak dengan algoritma yang sudah disusun sedemikian rupa untuk mengetahui judul lagu, album, penyanyi hingga penciptanya.

“Semua konsep hardware dan software yang kami susun ini memiliki lisensi open source. Jadi dapat digunakan oleh siapa saja secara mudah untuk membantu mendata lagu di publik,” jelas Izak.

Selain TELMI, dalam forum diskusi IoT di Indonesia dan networking tersebut, hadir juga pelaku startup yang berbasis pada IoT, yaitu Omar Karim Prawiranegara CMO eFishery dan Edward Ismawan Chamdani dari Turingsense.

Di penghujung acara, Andi S Boediman, partner Ideosource mengatakan bahwa sudah saatnya potensi IoT diperhatikan untuk masa depan teknologi di Indonesia. Semakin banyak startup yang memanfaatkan IoT, maka dapat turut serta menyelesaikan masalah diberbagi bidang di Indonesia.

“eFishery dan Turingsense juga bagian dari startup yang kami investasi. Kami berharap akan banyak lagi muncul startup berbasis IoT untuk kami danai di masa akan datang,” jelas Andi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)