KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan Triwulan II 2019 Terjaga dengan Baik

Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI dan Perry Warjiyo Saat Acara Press Conferece.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkapkan bahwa hasil monitoring dan assesment terhadap stabilitas sistem ekonomi Indonesia untuk Triwuan II/2019, hasilnya terjaga dengan baik.

Adapun tiga faktor yang memengaruhi adalah: pertama, ketidakpastian pasar keuangan global yang melambat akibat pelonggaran moneter yang dilakukan bank sentral negara maju dan berkembang. Kedua, portofolio investasi yang masih kompetitif. “Nilai portofolio yang kompetitif ini menarik capital inflow di Indonesia,” ujar Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia.

Sri Mulyani menjelaskan, perkembangan prositif di sektor riil setelah Pemilu juga menumbuhkan optimisme di kalangan investor. “Hal ini juga berdampak pada naiknya aliran modal asing yang mmeperkuat nilai tukar rupiah dan kinerja pasar obligasi dan pasar saham,” ujarnya melanjutkan.

Namun, menurutnya, Indonesia masih harus tetap waspada dengan berlangsungnya ketegangan perdagangan antara US dan Tingkok yang dapat melebar ke negara lain. Ketegangan ini akan berimbas pada melemahnya prospek pertumbuhan ekonomi global dan dapat menekan harga komoditas termasuk gas dan minyak. Sedangkan dari sisi domestik, tantangan yang dihadapi adalah mempertahankan momentum pertumbuhan dan memperbaiki difisit transaski berjalan.

Sementara itu, Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, mengatakan stabilitas moneter terhitung baik dengan nilai inflasi yang tergolong rendah, yakni berada di angka 3,2%. Kepercayaan investor membuat nilai tukar Rupiah juga menguat, secara year to date (ytd) mengalami apresiasi hingga 2,4%. Modal asing juga mengalir deras melalui berbagai instrumen keuangan. “Sampai 26 Juli, aliran modal asing yang masuk mencapai rp193,2 triliun, dimana Rp120,1 triliun ke SBN dan Rp72,1 triliun ke saham,” kata Perry.

Selaras dengan menteri keuangan, Perry juga akan mendukung dan mendorong momentum petumbuhan ini dengan membuat kebijakan akomodatif yakni menurunkan giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 bps pada Juni 2019 dan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada bulan ini.

Selain itu, sistem pembayaran juga kini telah diarahkan ke dalam sistem keuangan digital. “Kami telah me-launching QRIS dan SKNBI. Dimana mulai 1 September SKNBI setiap jam sattlement-nya dari 5 jadi 9 kali. Dari Rp500 juta bisa sampai Rp1 miliar dan biayanya dari Rp5.000 menjadi Rp3.000,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)