Trends Economic Issues zkumparan

Tujuh Shock Ekonomi Akibat COVID-19

Wabah COVID-19 memberikan dampak yang cukup besar terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar 2,3%, dan skenario terburuknya minus hingga 0,4%.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, mengatakan, dampak tersebut salah satunya terlihat dari confidence level konsumen yang mengalami penurunan.

“Amerika Serikat sudah turun 22,04%, Indonesia yang selama ini angkanya di atas 100% bahkan 120%, bulan Januari-Februari turun 15,33%,” ujarnya dalam webinar Mahir Academy by Rumah Perubahan berjudul The Outbreak: Challenges & Opportunities.

Dengan demikian, kata dia, terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat di mana konsumen mulai mengurangi mengonsumsi barang-barang yang bisa ditunda seperti barang elektronik, mobil, dan home appliances. Konsumen lebih fokus pada kebutuhan pokok dan kesehatan, serta membayar kewajiban seperti listrik, air, dan uang sekolah.

Menurut Founder dari Rumah Perubahan tersebut, beberapa kajian menunjukkan potensi tujuh shock atau guncangan besar yang harus diwaspadai oleh para pelaku usaha. Pertama, travel and entertainment shock. Lockdown maupun pembatasan mobilitas orang membuat bisnis seperti maskapai, bandara, hotel, hingga olahraga di deretan terdepan yang terpukul oleh corona.

Kedua, retail and manufacture shock. Di berbagai belahan dunia, mal-mal berhenti beroperasi yang mengakibatkan penjualan ritel mengalami penurunan, bahkan pabrik-pabrik dihentikan produksinya karena sepinya permintaan.

“Lalu akan terjadi pula yang disebut personal debt shock. Kita akan mengalami kesulitan untuk membayar cicilan dan utang. Oleh karena itu, lembaga-lembaga yang memberikan pinjaman harus siap-siap mengalami suatu ujian. Dan kita perlu memikirkan bagaimana cara untuk mengatasinya,” lanjut dia.

Keempat, supply chain shock. Era perdagangan bebas membuat rantai pasok global saling berkait. Oeljy karena itu, ketika aktivitas ekonomi terhenti di suatu negara, perusahaan yang mengandalkan pasokan bahan baku impor akan terdampak.

“Tiongkok berhubungan dengan Jerman sebagai mata rantai produksi supply chain dari manufaktur. Begitu China lockdown dan kemudian dimatikan produksinya, dampaknya juga ke Jerman. Jerman menjadi kehilangan confident. Selain Jerman, Tiongkok juga berkaitan dengan negara-negara lain seperti Amerika, Korea, Jepang, dan Indonesia. Jadi dampak shock ini terjadi meluas,” jelasnya.

Kelima, currency shock. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya cukup stabil di kisaran Rp 14.000 per doar AS, terus melemah. Hingga hari ini 02 April 2020, nilai tukar rupiah sudah menembus Rp 16.650 per dolar AS. “Ini juga terjadi pada hampir semua mata uang global. Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki utang berdenominasi dolar AS harus waspada,” katanya.

Keenam, believe shock. Menurut Rhenald, di awal kemunculannya, banyak orang under estimate terhadap corona. Pejabat, pelaku usaha, pengamat, bahkan media, awalnya percaya bahwa dampak corona bisa diredam. Tapi nyatanya, kini sulit dikendalikan. Akibatnya, level of confidence pelaku usaha maupun konsumen tergerus. “Karena itu, paket stimulus pemerintah harus segera direalisasikan untuk meringankan dampak guncangan,” tuturnya.

Menurut Rhenald, saat ini juga mulai muncul sinophobia yakni perasaan anti terhadap bangsa yang sedang menjadi korban atau di dalam negerinya memiliki banyak pandemi. Akibatnya, beberapa negara menolak kedatangan bangsa-bangsa tertentu.

Ketujuh, health shock. Banyak orang yang tidak menyangka perkembangan outbreak ini begitu cepat. Aksi panic buying pun tidak terhindarkan. Orang-orang berebut membeli produk-produk kesehatan yang menyebabkan sejumlah toko dan mal kehabisan barang-barang. Produksi juga tiba-tiba langsung melejit.

“Tapi kita jangan lupa bahwa semua ini mengakibatkan negara-negara begitu banyak stimulus. Untuk itu, sekarang saatnya kita harus saling bersatu, bagaimana kita memanfaatkan dan mengembangkan stimulus ini. Kita perlu langkah mitigasi dan strategi agar ekonomi bisa melalui masa sulit ini,” ujar Rhenald.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved