EV Hive Bidik Gaya Baru Bekerja Generasi Muda

CEO EV Hive, Carlson Lau.

Tren berubah seiring dengan perkembangan zaman dan hal ini terjadi di berbagai sektor industri. Beberapa tahun terakhir, fenomena yang terjadi pada generasi muda muncul pada cara mereka bekerja dan berkantor.

Generasi muda saat ini lebih suka menggabungkan tempat dimana ia bekerja dengan tempat bersenang-senang. Tempat ini memungkinkan dirinya untuk bersosialisasi secara luas dan selalu ingin suasana baru. Hadirnya co-working space menjadi jawaban atas keinginan generasi muda ini.

Salah satu pemain co-working space yang menikmati fenomena ini adalah EV Hive. Perusahaan rintisan ini dibangun oleh Carlson Lau (CEO), Jason Lee (CFO), dan Ethan Choi ( (CSO) pada 2015. Keberadaan EV Hive untuk memberikan space bagi usaha startup yang tidak bisa berdiri sendiri dalam membangun bisnisnya. “Mereka butuh tempat dan EV Hive dibangun untuk menyediakan ekosistemnya,” ungkap CEO EV Hive, Carlson Lau. 

EV Hive dibangun bukan hanya sebagai tempat bekerja bersama, tapi juga menjadi sebuah platform yang di dalamnya terdapat pelayanan untuk membantu startup untuk berkembang. Berbagai workshop diadakan untuk mendukung bisnis startup. Saat ini EV Hive hadir di 17 lokasi yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. “Ada 200-an perusahaan yang telah bergabung dengan EV Hive, mayoritas startup dan juga terdapat UMKM,” ujarnya. 

Ia mengungkapkan, awal mendirikan EV Hive, permodalan dibantu oleh beberapa Venture Capital, yaitu East Venture, Sinar Mas Digital Ventures (SMDV), Insignia Ventures, dan Intudo Ventures. “Sekarang dalam mengembangkan EV Hive kami memilih menggandeng pemilik gedung atau tanah untuk berinvestasi seperti PT Pos Indonesia (Persero) serta dengan Pemerintah DKI, Unit Pengelola Jakarta Smart City (JSC),” jelasnya. Kerja sama EV Hive dengan Pemerintah Provinsi DKI diwujudkan dengan dibukanya co-working space Jakarta Smart City Hive (JSCHive) di Karet Kuningan, Jakarta.

Carlson mengaku bisnis co-working space ini telah balik modal dalam dua tahun, namun ia tak bersedia untuk menyebutkan revenue-nya. Kota Medan telah dibuka EV Hive dan akan dibuka lagi untuk keduanya. Medan menjadi targetnya karena telah banyak startup yang berkembang disana dan membutuhkan dukungan. Oleh karena itu, EV Hive Medan dibua dan telah ada 100 startup tergabung.

Selain itu, EV Hive akan dibuka juga di Bandung dan Yogyakarta. Total EV Hive tahun 2018 akan ada 29 tempat tersebar di Indonesia. Sejak awal hingga membangun 17 co-working space, total investasi yang digelontorkan sekitar US$4 juta. “Peluang selalu ada, banyak yang mau bergabung, supply space kantor banyak. Tantangan terbesar mengembangkan ini adalah SDM,” ujarnya. Baginya mencari talent yang mendukung paling sulit. Saat ini ada 100 orang karyawan di EV Hive.

EV Hive selain menawarkan ruang kerja, juga memberikan pelayanan, membantu startup mendirikan perusahaan seperti perijinan, SDM, menyediakan akses modal, akses asuransi, dan membangun komunitas. “Jika startup butuh co-founder, kami memiliki komunitas yang spiritnya sama. Kami ada program EV Hive Connect yaitu database untuk startup. Dari situ kita dapat membantu startup untuk berkembang,” tuturnya. 

EV Hive yang dikelolanya telah mencapai okupansi hampir 100%. Dalam sebulan EV Hive berhasil mendekatkan para 10-20 startup untuk saling bekerja sama. EV Hive telah memiliki kurang lebih 8.000 komunitas yang bergabung dan mereka terlibat dalam 130 seminar (workshop) setiap tahunnya. Perusahaan ini menawarkan program flexi desk dengan biaya per bulan Rp1 juta. Program ini memberikan kesempatan mereka untuk dapat berkantor di EV Hive mana pun. “Banyak pengusaha meeting dimanapun di Jakarta, karena macet, dia bisa berhenti di EV Hive terdekat dengan tempat dia meeting,” jelasnya.

Saat ini EV Hive diklaim  menjadi co-working space terbesar di Asia Tenggara. Ke depan, ada rencana ekspansi bka di luar negeri, salah satunya di Filipina. Kedekatan EV Hive dengan anggotanya menjadi motor dalam mengembangkan bisnis ini. Ia tetap melihat potensi di Indonesia masih besar, sehingga pasar di sini akan menjadi perhatian karena diperkirakan ada 60 juta startup  yang berkembang di Indonesia.

 

 

Reportase: Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)