Gaikindo Lanjutkan Pembahasan Standar Euro 4 di Kuartal I

Pembahasan proses dan tahapan mengenai BBM Euro 4 akan dilanjutkan dalam 2-3 bulan mendatang, menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Pembahasan BBM Euro 4 dikaji intensif antara produsen otomotif bersama dengan pemerintah. Nantinya, ketersediaan BBM Euro 4 akan menjadi acuan bagi pabrikan otomotif yang ramah lingkungan dan meningkatkan daya saing industri otomotif di pasar ekspor.

Saat ini, Indonesia masih menggunakan BBM Euro 2 sehingga para produsen otomotif yang beroperasi di Indonesia menyesuaikan produknya dengan ketersediaan bahan bakar tersebut. Akibatnya, Indonesia kewalahan ketika ingin mengekspor mobil ke negara tujuan ekspor yang menerapkan pajak karbon dan standar emisi bahan bakar di atas Euro 2. “Indonesia masih menggunakan Euro 2 dan kami membutuhkan waktu 2 tahun untuk membuat mobil baru berbahan bakar yang emisinya di atas BBM Euro 2 dan 4 tahun untuk menyesuaikan mobil-mobil lama yang sedang diproduksi sesuai standar BBM Euro 4 karena produsen otomotif harus menyesuaikan komponennya,” jelas Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo di sela-sela acara Frost & Sullivan : Proyeksi Industri Otomotif 2017 di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Euro 2 mengharuskan bahan bakar mobil menggunakan bensin atau solar dengan kadar sulfur di bawah 500 ppm (part per million). “Sedangkan Euro 4 harus di bawah 500 ppm. Jika tidak terpenuhi, mobil bisa mogok. Namun, mobil Euro 2 yang menggunakan BBM Euro 4 tidak akan mogok,” tuturnya. Indonesia menerapkan BBM Euro 2 sejak tahun 2005. Uni Eropa pada 2005 menerapkan standar emisi Euro 4 yang mewajibkan semua kendaraan menggunakan bensin atau solar berkadar sulfur masing-masing kurang dari 50 ppm.

Menurut Kukuh, Gaikindo bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Indonesia tengah mengkaji BBM Euro 4 sekaligus mobil rendah emisi karbon (low carbon emission/LCE). “Dalam 2-3 bulan ke depan kami akan melanjutkan kajian standar Euro 4 dan LCE,” ungkap Kukuh. Kebijakan BBM Euro 4 telah diadopsi oleh negara maju dan berkembang lainnya. Indonesia tertinggal dari Thailand (BBM Euro 4) dan Singapura (BBM Euro 5). Kualitas emisi kendaraan bermotor di Indonesia setara dengan Laos dan Myanmar yang masih menggunakan Euro 2 dan Euro 3. Penerapan standar Euro 4, Kukuh menyebutkan, akan meningkatkan permintaan global terhadap kendaraan bermotor yang diproduksi di Indonesia.

Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) secara bertahap akan menghapus BBM jenis premium seiring rencana menggalakkan penggunaan BBM Euro 4. Penerapan standar Euro 4 masih akan diskusikan kepada pemangku kepentingan yang penerapannya masih dikaji lebih lanjut untuk dilaksanakan di akhir 2018 atau awal tahun 2019. “Saya beberapakali mengikuti  rapat dengan Pertamina, kemungkinan BBM Euro 4 tersedia di tahun 2023,” imbuh Kukuh.

Selain itu, Kukuh mengemukakan daya saing industri otomotif adalah skema pajak yang lebih sederhana. Gaikindo mengingatkan penurunan tarif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk mobil sedan dan mobil bertransmisi 4x4. Pelaku industri mengusulkan tarif PPnBM diturunkan menjadi 10% dari 30%. Tujuannya agar produsen memiliki daya saing dari segi harga untuk diekspor dan memperluas pasar ekspor. Sebab, pasar otomotif global didominasi pasar sedan.

Pengurus Gaikindo periode 2016-2019. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Kukuh menyebutkan Australia merupakan salah satu pasar potensial yang bisa diterobos oleh produsen otomotif. Sebab, menurut Kukuh, pasar mobil di Australia sebanyak 1,2 juta per tahun dan negara itu tidak memproduksi mobil. “Jadi, peluang Indonesia mengekspor ke Australia sangat besar, tapi kami harus mempersiapkan produknya yang sesuai standar BBM di sana dan modelnya yang lebih banyak meminta sedan dibandingkan MPV,” jelasnya. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2014 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai PPnBm, tarif pajak untuk mobil 4x4 berkisaran 20-125%. Kukuh mengharapkan pemerintah bisa mengikuti kebijakan pajak di negara-negara lain, yakni membagi PPnBm untuk mobil menjadi hanya dua jenis, yaitu kendaraan penumpang dan kendaraan niaga. “Agar skema pajaknya lebih sederhana,” tukasnya.

Pasar Otomotif Nasional

 Gaikindo, menurut kukuh, menargetkan penjualan mobil di 2017 naik 6% daripada tahun lalu sebanyak 1,05 juta unit. “Sedangkan ekspor diharapkan naik 7%,” ucapnya.  Frost & Sullivan, lembaga konsultan dan riset, memprediksi pasar otomotif Indonesia tahun 2017 bakal mencapai 1,11 juta unit, naik 5% dibandingkan 2016. Faktor pendorong pertumbuhan penjualan mobil di tahun ini adalah tingginya daya beli masyarakat, belanja negara, pembangunan infrastruktur, iklim investasi yang sehat dan pertumbuhan ekspor nasional yang bakal lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Wakil Presiden Senior bidang Tranportasi Frost & Sullivan, Vivek Vaidya, meyakini perekonomian Indonesia akan membaik sehingga mendorong penjualan mobil. “Tahun 2017, kami memprediksi penjualan mobil mencapai 1,13 juta unit dari 1,06 juta unit di 2016,” ucap Vaidya.Peluncuran model-model terbaru di tahun ini akan berdampak positif terhadap industri otomotif. Proyeksi Frost & Sullivan dan  Gaikindo ini belum terkonsolidasi lantaran hasil akhir penjualan mobil masih disusun dan menunggu laporan penjualan dari sejumla agen tunggal pemegang merek. Kukuh menimpali tantangan industri otomotif ke depannya adalah isu energy dan lingkungan, teknologi dan keamanan kendaraan serta perdagangan bebas. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)