Home Credit Layani 90 Juta Pengguna Tokopedia

Andy Nahil Gultom, Chief External Affairs, Home Credit Indonesia (kiri)

Hadir di Indonesia sejak tahun 2013, Home Credit memulai bisnisnya dengan strategi point of sales (POS) yang jumlahnya kini telah mencapai 18 ribu titik. Nasabah Home Credit juga telah mencapai angka yang terbilang besar, yakni 3,6 juta. Kendati sudah menguat di sektor tersebut, Perseroan tidak lantas enggan mengikuti zaman. Keniscayaan zaman digital sudah dilacak manajemen Home Credit.

Perusahaan pembiayaan multiguna internasional tersebut semakin fokus dalam mengembangkan lini bisnis online. Hal ini ditandai melalui kerjasama strategis dengan salah satu perusahaan unicorn e-commerce di Indonesia,Tokopedia, dalam menyediakan fasilitas pembiayaan online.

Peningkatan transaksi belanja online yang kian tajam menjadi alasan Home Credit untuk melebarkan sayap ke pembiayaan online. Menurut studi terkini dari Morgan Stanley, e-commerce menyumbang 8% dari total penjualan ritel di Indonesia tahun lalu, dan diprediksi akan mencapai 18% pada tahun 2023.

Hal ini didorong oleh perubahan perilaku pelanggan yang semakin memanfaatkan teknologi untuk kenyamanan berbelanja. Pemerintah memproyeksikan nilai transaksi e-commerce di Indonesia akan mencapai Rp 130 miliar di tahun 2020.

Tomas Prosek, Chief Digital Officer, Home Credit Indonesia menjelaskan, “Kami menyadari perkembangan teknologi yang begitu pesat turut mengubah perilaku masyarakat, salah satunya perubahan terhadap perilaku belanja. Untuk itu langkah kemitraan strategis kami dengan Tokopedia akan menjawab kebutuhan pelanggan untuk membeli barang impian kapan saja, dimana saja, tanpa perlu datang ke gerai di seluruh cakupan wilayah Home Credit beroperasi. Selain itu, sejalan dengan industri e-commerce dalam menyediakan opsi pembayaran online, kami yakin kemitraan dengan Tokopedia ini akan meningkatkan pertumbuhan bisnis kedua belah pihak.”

Andy Nahil Gultom, Chief External Affairs, Home Credit Indonesia turut menambahkan bahwa kemitraan ini akan memberikan solusi inovatif kepada pelanggan, memudahkan pelanggan yang belum memiliki akses ke perbankan, sehingga mereka dapat membeli barang impiannya melalui layanan pembiayaan yang disediakan oleh Home Credit dengan cara mencicil tanpa memerlukan kartu kredit.

“Terdapat 40% masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses perbankan yang selama ini lebih banyak menggunakan sistem cash on delivery dalam transaksi belanja online. Sebagai perusahaan pembiayaan terdepan dan memimpin di kategori dan layanan consumer durables, kami terus berkomitmen untuk menyediakan akses pembiayaan yang cepat, mudah dan terpercaya bagi masyarakat yang membutuhkan akses pembiayaan non bank ataupun kartu kredit,” ujar Andy.

“Kerja sama Home Credit dan Tokopedia ini juga ditandai dengan diluncurkannya Kampanye #MulaiYangKamuMau dimana kami ingin menekankan bahwa tidak ada batasan untuk mewujudkan impian. Hal ini merupakan wujud komitmen kami untuk menjadikan segala hal yang diinginkan dalam jangkauan,” tambah Andy.

Leontinus Alpha Edison, Co-Founder sekaligus Vice Chairman Tokopedia mengatakan, “Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci dari keberhasilan. Dengan 90 juta pengguna aktif Tokopedia setiap bulannya, kami terus berinovasi demi mempermudah pengguna. Kini melalui kerjasama dengan Home Credit, kami berharap agar semua orang dapat memiliki produk impian mereka dengan lebih mudah.

Lewat kerja sama Home Credit dan Tokopedia, pelanggan bisa mendapatkan pembiayaan dengan nominal Rp 1,5 juta hingga Rp 10 juta dengan tenor 3-12 bulan untuk pembelian berbagai macam produk.

Pertumbuhan bisnis Home Credit semakin bertumbuh seiring berjalannya waktu. Total pembiayaan yang disalurkan perseroan mencapai Rp 9,5 triliun (unaudited) pada tahun 2018, naik nyaris dua kali lipat dari tahun 2017, yakni Rp 5,1 triliun. Sementara pada tahun 2016, total pembiayaan yang tercatat sebesar Rp 1,7 triliun.

“Secara global, pertumbuhan bisnis Home Credit di setiap negara kurang lebih sama. Bahkan, kalau di China besar sekali. Indonesia posisinya bersama dengan Vietnam dan Filipina. Secara nilai, Vietnam jauh lebih besar dan Indonesia sedikit di atas Filipina. Karena kami masuk Indonesia lebih dulu masuk, 2013,” tutur Andy.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)