Trends

Imbas Karantina Wilayah, 6.000 Ton Telur Tertahan Masuk DKI & Jawa Barat

Ilustrasi pekerja merapikan telur di sebuah gudang
Ilustrasi pekerja merapikan telur di sebuah gudang (Foto Istimewa)

Ketua Presidium Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi mengatakan sebanyak 6.000 ton telur masih tertahan di gudang produsen di Jawa Timur dan Jawa Tengah akibat kebijakan karantina wilayah mandiri. Telur-telur tersebut saat ini tak bisa didistribusikan ke pedagang sehingga sulit diserap pasar.

“Jumlah 6.000 telur itu hitungan produksi sehari. Sementara, ini sudah tujuh hari daerah-daerah banyak yang karantina sehingga stok telur masih tertahan,” ujar Musbar saat dihubungi, Senin, 30 Maret 2020.

Telur-telur ini sedianya akan dikirimkan ke Jawa Barat dan DKI Jakarta. Menurut Musbar, saat ini distribusi pengiriman ke dua provinsi itu paling terhambat lantaran beberapa lokasi telah melakukan isolasi wilayah.

Padahal, menurut Musbar, DKI Jakarta dan Jawa Barat adalah pasar terbesar bagi produsen ternak ayam dan telur di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari keseluruhan pengiriman telur sebanyak 12 ribu butir per hari, porsi pasar untuk kedua provinsi itu mencapai 50 hingga 60 persen.

Kondisi ini, kata Musbar, tidak hanya menyebabkan terjadinya penumpukan pasokan di gudang, tapi juga membuat telur di Jakarta dan Jawa Barat langka. Menyikapi hal ini, ia lalu meminta pemerintah memberikan kejelasan terkait karantina wilayah supaya terdapat aturan yang jelas.

Dia menyebut, semestinya keputusan itu juga lebih dulu dikoordinasikan dengan pemerintah daerah tingkat I dan II. “Jadi ada protokol yang jelas untuk pengiriman barang ini bagaimana,” tuturnya.

Selanjutnya, jika pemerintah sudah mengetok keputusan terkait karantina wilayah, ia berharap distribusi logistik ke daerah-daerah dikawal petugas. “Pengawalannya juga langsung 10-20 truk. Jangan satu per satu, nanti jadinya buka-tutup buka-tutup,” ucapnya.

Di sisi lain, ia menyarankan pemerintah daerah membuat depo-depo logistik, khususnya untuk wilayah DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Dengan begitu, rantai pengiriman barang dari produsen ke konsumen tak akan seret.

Selain lantaran karantina wilayah, Musbar mengungkapkan sulitnya distribusi telur turut diakibatkan oleh tutupnya sejumlah pasar. Tak hanya itu, ia mengakui sejumlah sopir telah menolak tugas karena khawatir terpapar virus corona.

Sumber: Tempo.co


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved