Jurus Bank Bukopin Memacu Pendapatan Fee Based Income

Maraknya perkembangan industri teknologi finansial (fintech) belakangan ini dikhawatirkan akan menjadi ancaman bagi industri perbankan. Paling tidak, saat ini sudah 54 perusahaan fintech yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga akhir tahun ini sebanyak 164 fintech sudah harus tercatat di OJK, meskipun sudah ada 34 fintech yang sudah masuk pipeline atau proses mencatatkan diri di OJK.

Bagi bank konvensional, kehadiran para star up fintech harus disiasati. Bank Bukopin misalnya, justru melihat industri fintech sebagai mitra yang andal untuk berkolaborasi, meskipun kehadiran fintech mengkhawatirkan banyak pihak. Melalui BNVLabs, Bank Bukopin menggandeng pelaku startup di bidang fintech untuk bersama- sama membangun ekosistem teknologi finansial di Tanah Air. Bank Bukopin bekerja sama dengan pengembang startup fintech KIBAR dalam mengembangkan BNVLabs.

Menurut Adhi Brahmantya. Direktur Operasi dan Teknologi Informasi PT Bank Bukopin, Tbk, BNVLabs menjadi inkubator bagi start up lokal di bidang fintech. Di BNVLabs, kami berupaya menyediakan kebutuhan bagi para start up fintech untuk mengembangkan bisnisnya.

Adhi menambahkan, di BNVLabs para startup akan dibantu untuk mendapatkan akses pasar, business support, program pengembangan kapasitas, end to end ecosystem connection hingga fasilitas co- working space. Inovasi teknologi menjadi salah satu langkah terobosan yang dilakukan Bank Bukopin untuk dapat tetap kompetitif menghadapi peta persaingan industri keuangan yang semakin ketat.

Salah satu inovasi yang dilakukan Bank Bukopin adalah dengan meluncurkan aplikasi perbankan digital Wokee. Menurut Rivan A Purwantono Direktur Konsumer PT Bank Bukopin Tbk, pihaknya terus berupaya memacu penetrasi Wokee dan menyasar generasi milenial sebagai target pasar utama. Wokee merupakan aplikasi perbankan digital yang dapat di-download melalui ponsel. Aplikasi tersebut menyediakan beragam aplikasi perbankan digital terbaru seperti tarik tunai tanpa kartu ATM, pembukaan rekening secara online, split bills, transfer, cash management, transaksi public utilities, transaksi belanja menggunakan QR Code, dan beragam fitur lainnya, cukup melalui aplikasi di ponsel.

Dengan Wokee, nasabah tidak perlu lagi membawa kartu ATM, cukup dengan Wokee nasabah bisa melakukan tarik tunai tanpa menggunakan kartu ATM dan belanja di merchant-merchant dengan media Pay by QR Code. "Wokee satu satunya aplikasi dengan 2 fitur sekaligus yakni tabungan dan wallet, next generation dari wokee adalah topup dari wallet langsung dari server," kata Rivan.

Meskipun aplikasi ini diluncurkan sejak pertengahan Desember lalu, saat ini sudah sekitar 5 ribu yang mendownload aplikasi ini. Sedangkan nilai transaksi masih relatif kecil yaitu sekitar Rp 6 miliar. "Baik dari pengguna Wokee dan nilai transaksi perlahan-lahan mengalami peningkatan, dimana transaksi terbesar sekitar 70% untuk pembayaran listrik dan juga transfer antar bank," kata Risvan.

Digitalisasi produk dan layanan ternyata juga menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong peningkatan layanan dan loyalitas nasabah di Bank Bukopin.

Digitalisasi dilakukan dari hulu hingga ke hilir, dari proses bisnis hingga ke produk dan layanan. Beragam produk dan layanan berbasis teknologi digital telah dikembangkan Bank Bukopin, mulai dari branchless banking, cash management, mobile banking, internet banking, dan beragam produk lainnya.

Langkah terobosan lain yang Bank Bukopin adalah dengan memacu pendapatan dari fee based income. "Terobosan ini menjadi kata kunci bagi Bank Bukopin untuk memastikan kualitas pelayanan yang prima dan up to date ke seluruh nasabah, serta untuk memacu pertumbuhan bisnis Perseroan,” kata Rivan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)