Jurus Edhi Pertahankan Bisnis Furnitur

Edhi SutiknoAda yang bilang bisnis furnitur tidak menarik. Pasalnya, jumlah pemainnya begitu banyak, karakter bisnisnya “easy come, easy go”, entry barrier-nya pun tipis pula. Namun, benarkah demikian?

Bisa jadi. Namun, anggapan itu tak berlaku buat Edhi Sutikno. Terbukti, bisnis yang sudah dirintisnya 24 tahun lalu lewat bendera Karyayudha Tiaratama hingga kini tetap eksis. Sedikitnya Rp 8 miliar per bulan diraupnya.

Di awal rintisan, CEO dan pemilik Karyayudha ini memulai bisnis dengan cara bermain ke luar: menggarap pasar Jepang, Korea, dan Amerika. Awalnya, saya justru hanya bermain untuk pasar ekspor. Baru belakangan saja menggarap pasar lokal,” dia mengungkap. Untuk menembus pasar luar negeri, dia masuk lewat pameran dagang furnitur. “Saya terjun sendiri memasarkan ke luar negeri. Terkadang saya juga bekerjasama dengan mediator, namun semua proses negosiasi langsung dengan saya,” Edhi berkisah.

Produk furnitur Edhi menyasar segmen kelas menengah. Jenis yang diproduksinya adalah furnitur rumah tangga seperti kursi, meja, lemari, dan tempat tidur, termasuk aksesorinya. Untuk desain produk, awalnya dia mengerjakan sendiri. Belakangan, tim pengembangan desain membantunya.

Yang menarik adalah bagaimana Edhi mempromosikan dan menjual produknya. Pada saat awal memulai usaha, dia banyak melakukan promosi langsung lewat pameran, sedangkan dalam beberapa tahun terakhir dia mengandalkan media online.

Media digital digunakannya baik sebagai media promosi maupun kanal di market place. Sebagai pemain di market place, Karyayudha aktif bekerjasama dengan beberapa pengelola market place seperti Lazada dan Tokopedia. “Awalnya, coba-coba saja menggunakan platform online itu, tapi ternyata peningkatannya cukup besar. Kami pakai jalur itu sampai sekarang,” katanya. Bahkan, dia melanjutkan, penjualan online menjadi kontributor utama penjualan. Memang, dia juga membuka gerai di Mal Aeon Serpong dan Transmart, tetapi kontribusinya masih kalah dari jalur online.

Karena basis penjualan online yang kuat itu, Karyayudha tak merasa perlu punya gerai fisik dalam jumlah banyak. Saat ini pabriknya di Waru, Sidoarjo, multifungsi. Selain sebagai pusat produksi dan kantor, juga sebagai ruang pajang. Selebihnya mengandalkan kanal online.

Media sosial juga jadi kanal penting. Karyayudha gencar mempromosikan produknya melalui Instagram, menggunakan akun @ifurnholic, dengan jumlah pengikut lebih dari 450 ribu orang. Dalam sehari akun ini mem-posting 2-3 produk furnitur dengan model kekinian, termasuk model-model Skandinavia yang belakangan ngetren. Kekuatan medsos itu oleh Edhi dikombinasikan dengan strategi layanan yang baik. Dia hanya mengenakan ongkos kirim Rp 100 ribu untuk seluruh tujuan pengiriman di Pulau Jawa. Adapun pengiriman ke luar Jawa, biaya ongkos kirim disesuaikan jarak.

Dengan jurus itu, kinerja Karyayudha pun kinclong: tumbuh 25% dalam setahun. Sebanyak 180 orang --baik di tim pemasaran, kreatif, maupun produksi-- menjadi karyawannya. “Intinya, ini karena kerja keras. Tiap calon pelanggan mesti dilayani dengan baik dan kalau ada keluhan pelanggan, mesti cepat ditanggapi,” Edhi mengungkapkan rahasia sukses usahanya. Jadi, siapa bilang bisnis furnitur tak menarik? (*)

Sudarmadi & Chandra Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)