Jurus Stellar Kapital Besarkan Bisnis Venture Capital

Stellar Kapital berdiri pada 2014 sebagai perusahaan modal ventura yang investasinya ke perusahaan rintisan (startup) teknologi dan sektor riil. Lembaga kapital ventura di bawah naungan PT Stellar Kapital Indonesia ini fokus untuk mengisi kesenjangan pendanaan tahap awal dan Seri A.

Aditya Keo SantosoUmumnya, perusahaan rintisan kesulitan mendapatkan modal di tahap awal dan fase pendanaan Seri A. Stellar Kapital mengisi kesenjangan ini dengan mengalokasikan dana untuk diinvestasikan ke perusahaan tersebut. Nilai investasi yang disediakannya berkisar US$ 200 ribu-1 juta ((Rp 2,7 miliar-13 miliar).

Investasi Stellar Kapital ke perusahaan startup cukup fleksibel karena bisa ditanamkan di perusahaan rintisan yang penghasilannya stabil walau fase pertumbuhan bisnisnya relatif lambat. Atau, di startup yang penghasilannya agak rendah, tetapi pertumbuhan bisnisnya berpotensi tinggi.

Stellar Kapital dikelola oleh beberapa mitra, yaitu Aditya Keo Santoso, Rendy Soedarjo (mantan VP Ciptadana Capital dengan latar belakang investment banking), William Muliawan (pengacara yang berpengalaman memberikan konsultasi pajak dan hukum), dan Nigel Khoo (mantan Partner Saratoga Capital dan mantan CEO Maybank Private Equity). Embrio pendirian Stellar Kapital dimulai ketika Rendy berjumpa dengan Aditya Keo yang kala itu sedang pelesiran di Las Vegas. Selanjutnya, Aditya Keo bersama Rendy serta beberapa kolega lainnya sepakat mendirikan perusahaan pengelolaan aset (hedge fund) di tahun 2014. “Namanya Stellar,” ujar Aditya.

Pengalaman Aditya yang pernah berkarier di perusahaan Silicon Valley diaplikasikan untuk mengembangkan bisnisnya ini. “Lalu, kami mengembangkannya ke financing, memberi pinjaman uang, modal kerja kepada wirausaha, uangnya lebih cepat dibandingkan hedge fund,” kata Aditya, Co-Founder & Chairman Stella Kapital. Lulusan jurusan keuangan di salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat yang pernah berbisnis di sana itu kembali ke Indonesia pada 2013 dan sempat mencicipi bisnis batu bara serta berinvestasi di proyek film. Dia mengoptimalkan jejaring bisnis di Tanah Air untuk menjalin kemitraan dengan Stellar Kapital.

Di fase awal Stellar Kapital beroperasi pada 2014, investasinya lebih banyak dialokasikan ke perusahaan sektor riil dibandingkan perusahaan rintisan. “Perbandingannya 5:1, jadi kami belum berani banyak berinvestasi ke startup,” kata Aditya. Seiring dengan menjamurnya perusahaan startup di Indonesia, porsi investasinya pun lebih banyak ke perusahaan rintisan.

Contohnya, mereka berinvestasi dan menjadi pemegang saham mayoritas di Freeware Spaces, perusahaan penyedia co-working space yang berlokasi di sejumlah kawasan strategis, antara lain di Kemang dan Gedung Equity Tower, Jakarta. Alasan Stellar Kapital membenamkan modal ke Freeware Spaces itu, menurut Aditya, adalah untuk menciptakan ekosistem dan mengenal perusahaan startup yang kerap membentuk jejaring bisnis di co-working space. “Saat ini, kami berinvestasi di perusahaan startup yang jumlahnya 12-13. Sedangkan investasi kami di perusahaan sektor riil, ada di 3-4 perusahaan,” kata pria berusia 29 tahun itu.

Portofolio investasi Stellar Kapital di perusahaan rintisan digital yakni Uang Teman (peer to peer lending), Sepulsa (penyedia jasa pembayaran telepon dan tagihan rekening), DanaNikah (penyedia pembiayaan pernikahan), Rajamobil (marketplace jual-beli mobil), Tado, Pomona, Travelio, JPx (startup online-to-offline), dan Freeware Spaces. Di perusahaan rintisan sektor riil, ada Divestekno (penyedia jasa dan barang di industri pendukung migas), Platinum (produsen briket kelapa), dan Stellar Parking (penyedia jasa manajemen parkir)

Investasi Stellar Kapital di perusahaan startup itu, menurut Rendy, Co-Founder & CEO Stellar Kapital, diklaim unik lantaran sektor industrinya berbeda-beda satu dengan yang lain. Perusahaan modal ventura ini fokus berinvestasi di perusahaan startup digital dan nondigital yang masa operasional dan bisnisnya di tahap awal. Rendy menambahkan, perjalanan kariernya di Ciptadana Capital (2005-10) cukup menjadi bekal dalam merancang model bisnis Stellar Kapital.

Mereka sudah memetik hasil dari investasi di berbagai perusahaan tersebut. Investasi di Uang Teman, misalnya, merupakan salah satu contoh portofolio investasi terbaik karena kinerja keuangan Uang Teman tumbuh setiap bulannya. “Kalau invest di startup, kami mencari profil owner yang agresif. Kalau real sector, kami lebih melihat mindset dan goal-nya jangka panjang,” kata Rendy.

Laju investasi yang cukup mulus ini memberikan imbal hasil ke Stellar Kapital. Capital gain yang diperolehnya diputar kembali untuk diinvestasikan. “Kami belum membagi dividen karena setiap keuntungan itu kami invest lagi,” ungkap Rendy yang kini berusia 37 tahun. Baru-baru ini, Stellar Kapital meluncurkan pendanaan bertajuk Stellar Tech Fund II. Pendanaan ini menargetkan imbal hasil bagi investor dari investasinya di suatu perusahaan startup bisa diraih setelah lima tahun.(*)

Reportase: Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!