Kiprah Sorak Gemilang Persada Pentaskan Pertunjukan Musikal Kelas Dunia

Mervi SumaliBeberapa waktu lalu, ada pemandangan berbeda di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Bersamaan dengan masa pertunjukan performance art bertajuk Mama Mia yang digelar selama beberapa malam di Teater Jakarta, halaman parkir TIM dipenuhi jejeran mobil MPV dan SUV premium, seperti Innova, Fortuner, Pajero Sport, Alphard, Mazda CX5, BMW X-5, dan Hyundai H-1.

Kelihatan sekali, penumpang mobil-mobil premium itu adalah keluarga-keluarga mapan --umumnya mengajak anak-anak mereka-- yang ingin bernostalgia, menonton seni pertunjukan musikal yang membawakan lagu-lagu dari grup band ternama tempo dulu asal Swedia, ABBA. Tiket pertunjukan Mama Mia memang tidak bisa dibilang murah untuk kebanyakan masyarakat, berkisar Rp 850 ribu-2 juta. Fenomena tersebut, boleh dibilang, menunjukkan makin tumbuhnya jumlah pencinta pertunjukan seni musikal di Jakarta, khususnya dari kalangan menengah-atas.

Adalah Sorak Gemilang Persada (SGP) yang mendatangkan pertunjukan musikal Mama Mia ke Jakarta. Perusahaan impresariat ini berkiprah sejak 2012. Menurut Mervi Sumali, CEO SGP, sebenarnya selain performance art berkelas internasional semacam Mama Mia, perusahaannya juga menggelar pertunjukan berkelas nasional, yang mementaskan karya-karya putra Indonesia dan melibatkan partisipasi anak-anak Indonesia.

Buat SGP, Mama Mia bukanlah pertunjukan musikal kelas dunia pertama yang digelarnya. Selain Mama Mia, SGP sudah menggelar beberapa pertunjukan musikal internasional, yaitu My Little Pony Musical-Rainbow Rocks, Madagascar, Hi5 House Hits, Hi5 House of Dream, The Sound of Music, Barbie, dan Barney Space Adventure.

Mervi merendah ketika dikatakan bahwa lewat SGP ia dinilai telah membawa sesuatu yang baru ke Tanah Air, khususnya buat masyarakat Jakarta. Menurutnya, di dunia, terutama di negara-negara maju, sudah banyak yang melakukan hal seperti yang dikerjakan SGP. “Untuk di Jakarta memang termasuk baru,” ujarnya.

Bagi Mervi, misi SGP bukanlah untuk mengejar keuntungan, melainkan lebih untuk menyediakan hiburan keluarga yang bagus dan mendidik. “DNA kami adalah menyediakan acara untuk keluarga. Dan, harus ada unsur edukasinya,” katanya. Ia mencontohkan, ada keluarga penonton yang setelah menyaksikan The Sound of Music, menampilkan di akun Instagramnya gambar seorang ayah dan anaknya bermain piano dan bernyanyi bersama. Lalu, dari pertunjukan Mama Mia, tak sedikit suami-istri yang bernostalgia karena dulu waktu semasa pacaran sering mendengarkan bersama lagu-lagu romantis dari ABBA. “Jadi, event-event kami ini membuat ikatan hubungan antar-anggota keluarga lebih kuat,” ujarnya mengklaim.

Selain itu, lewat performance art ini, pihaknya ingin membuat anak-anak Indonesia mengerti dunia seni dan panggung, serta membuat partisipasi mereka dihargai. “Kalau kami membuat pertunjukan musikal, banyak sekali anak-anak Indonesia yang dilibatkan,” ujarnya. Bukan hanya dari talent penyanyinya, tetapi juga penata busana, penata panggung, dan sebagainya. Di sini, misalnya, mereka bisa terlibat mendesain baju atau membuat wardrobe. “Kita belum memiliki pendidikan formal yang mengajarkan hal-hal seperti ini, sehingga kami memberikan kesempatan pada anak-anak untuk mengembangkan bakat mereka,” kata perempuan lulusan jurusan ekonomi yang tak punya latar belakang bidang seni ini.

Sekarang SGP diperkuat tak lebih dari 10 tenaga tetap. “Kami banyak menggunakan tenaga freelance,” kata Mervi. Dalam satu pertunjukan, rata-rata SGP bisa mempekerjakan 30 tenaga inti. Bila dihitung dengan kru lainnya, total bisa menggunakan sekitar 100 orang untuk satu event yang tergolong besar.

Boleh dibilang, pertunjukan musikal terakhir yang digelar SGP, Mama Mia, cukup sukses. Namun, menurut Mervi, pencapaiannya masih kecil bila dibandingkan pertunjukan musikal yang digelar di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat, yang bisa menjual tiket 100% alias sold out. Adapun pertunjukan Mama Mia di Jakarta beberapa waktu lalu pencapaiannya 65-70% dari total kapasitas tempat (seat) yang disediakan. Cara promosi yang dilakukannya mayoritas lewat media digital, terutama media sosial, plus beberapa placement di media cetak, radio, dan billboard.

Menurut Mervi, rata-rata pencapaian jumlah penonton pertunjukan musikal internasional lain yang digelarnya juga sekitar angka itu. Kendati demikian, ia melihat pencapaian itu sudah oke, mengingat pasar yang dituju adalah niche market. “Tidak semua orang mau dan mampu menonton pertunjukan musikal. Jadi, memang ini untuk orang-orang yang jiwa seninya ada dan mau membeli tiket,” ujarnya.

Mervi juga menilai, secara umum animo masyarakat cukup luar biasa. Alasannya, industri pertunjukan seperti ini di Tanah Air masih sangat muda. Berbeda dengan konser musik yang sudah bisa dibilang industri pertunjukan yang sudah cukup dikenal masyarakat. Selain itu, katanya, faktor penunjangnya juga belum cukup baik; di Jakarta, hanya ada dua fasilitas teater yang memadai, yakni Teater Jakarta dan Ciputra Artpreneur Theatre. Ia lalu membandingkan dengan Singapura yang memiliki banyak teater berukuran besar, dan didukung tata cahaya (lighting system) dan tata suara (sound system) yang luar biasa.

Di tahun 2018 SGP menggelar tiga performance art, sedangkan tahun depan direncanakan bisa menggelar empat pertunjukan. Namun, Mervie memastikan setiap tahun akan menggelar pertunjukan musikal yang berskala nasional dan yang berskala internasional. Untuk satu judul performance art, misalnya musikal, biasanya masa tayangnya sekitar dua minggu.

Mervi mengaku tidak ingin menggelar banyak event berskala internasional. Alasannya, event internasional dengan merek yang sudah terkenal membutuhkan pengurusan yang panjang dan melelahkan. “Total butuh 18 bulan sampai deal,” katanya mengenai assessment yang dilakukan pihak pemilik brand pertunjukan internasional. Pasalnya, penyelenggara dari Indonesia belum cukup punya nama di dunia internasional. Ia mencontohkan, ketika hendak mementaskan Mama Mia, sang technical director-nya sampai datang sendiri ke Indonesia untuk mengecek kesanggupan dan kesiapan SGP memproduksinya di Indonesia.

Kita kan masih membangun suatu industri,” kata Mervi. “Saat ini kami baru belajar musical performance dari London yang sudah melakukannya selama ratusan tahun,” katanya lagi. Ia merasa membangun industri seperti ini bukanlah hal mudah. Sejauh ini, ia mengakui, langkah SGP mendapat dukungan dari Pemerintah DKI Jakarta (Dinas Pariwisata), juga media dan para blogger. (*)

Joko Sugiarsono & Anastasia A. Suksmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)