Agar Unicorn Sustain Jangka Panjang

Ignatius Untung Ketua Umum idEA dan Hendrik Tio Pendiri Bhinneka

Keberadaan unicorn di Indonesia dipandang Kepala Badan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro akan mampu membuat dana masuk ke Indonesia. Sebab, para investor akan menanam dananya secara langsung pada unicorn.

Hanya saja, tidak mudah menjaga sustainability unicorn. Dalam sebuah diskusi dengan IDEA (Asosiasi e-commerce Indonesia) dan pendiri Bhinneka, terungkap poin-poin penting yang harus diperhatikan agar unicorn tetap sustain.

Ignatius Untung, Ketua Umum IDEA, menerangkan, ada beberapa fase perkembangan ecommerce di Indonesia. Bhinneka bersama KasKus disebutnya lahir di fase pertama, termasuk pionir di e-commerce.

Unicorn baru lahir di fase kedua dan ketiga (2010-2016). Gelombang kedua melahirkan unicorn seperti Tokopedia, Bukalapak, Tiket.com, dan Traveloka.

“Pada fase pertama perkembangan e-commerce di Indonesia, masuk dalam masa pre-stage, entry barrier-nya besar tapi high sustainability, walau kala itu berat cari pendanaan. Contohnya Bhinneka sudah 26 tahun usianya. Walau ada perubahan dalam pengelolaan bisnis di Bhinneka namun tetap sustain. Demikian juga dengan, KasKus berubah secara sistem bisnisnya,” terang Untung.

Pola marketing dulu di fase awal, lanjutnya, lebih pada menekankan kreatifitas marketing dan the power of WOM (worth of mouth). Sedangkan fase kedua, lebih mudah dapat pendanaan, sebagai starting point early majority unicorn.

Isu yang banyak diperbicangkan Pemeintah untuk memperbanyak startup mendorong bermunculannya pemain baru. Juga ide-ide baru muncul untuk melahirkan startup. Makanya lebih banyak pendatang-pendatang baru, makin ramai dengan berbagai bidang dengan tujuan mencapai unicorn.

Gelombang ketiga, terjadi pivot, karena banyak perushaaan tidak menemukan monetasi bisnisnya. Akhirnya terjadi merger dan akuisisi, serta konsolidasi. Masa bulan madu sudah lewat, venture capital makin hati-hati.

Lalu muncul kategori baru yang sangat spesifik, seperti Tanihub. Di sisi lain ekspansi besar, marketplace juga menjual tiket online. Apa pun dijual di satu platform, pengkategoriannya makin blur. Contoh Traveloka juga menjual kupon diskon.

Mulai banyak yang gulung tikar seperti Rakuten, Uber, lalu perubahan fokus bisnis YesBoss menjadi Kata.ai. Tidak heran jika isu di gelombang ketiga ini adalah tentang sustainablity. “Menjadi unicorn penting tapi menstinya bukan tujuan utama. Sebenarnya tujuan utama adalah menjadi sustain,” kata Hendrik Tio Pendiri Bhinneka.

Walau Bhinneka bukan termasuk unicorn, namun sebagai pioneer di industri ecommerce yang sudah 26 tahun berkiprak, ia merasa perlu mengingatkan hal-hal penting yang harus diingat para pendiri startup saat ini.

“Saya mulai khawatir mereka menjadi Hyperexpansion, sangat getol price war, absennya inovas, salary bechmark and talent scarsity, the absent of start up mentoring,” imbuh Untung,

Menurutnya, saat ini terjadi kesulitan besar dalam menarik talenta, terutama software engineer paling sulit, baik dari para tech disruptor maupun mereka yang sudah masuk dalam golongan ecommerce titan.

Dalam riset IDEA, dengan kondisi di atas sat ini, ada beberapa hal yang perhatikan agar ecommerce bisa sustain yaitu brand harus kuat, memiliki komunitas, dan sudah melewati usia 10 tahun.

Hendrik mengamini yang disampaikan Untung, bahwa Bhinneka bisa sustain hingga 26 tahun berkat beberapa strategi yang secara konsisten dijalankannya. “Terus berinovasi, tidak henti mencari segmen baru, mengembangkan teknologi baru dalam perusahaan, selalu membuka diri untuk kolaborasi bahkan dengan pemain lain sejenis guna membangun ekosistem dan terus berupaka masuk pasr baru,” jelasnya.

Menurut Hendrik, pasar e-commerce di Indonesia masih sangat bersar, akan bertumbuh terus. “Porsi ritel yang diambil online dari offline saja baru 5%, jadi masih banyak yang digarap. Selama masih jarang sekali ibu-ibu yang membeli garam secara online, artinya masih banyak peluang bisa digarap di ecommercce Indonesia,” katanya.

Hendrik meyakini jika value chain naik volume juga naik. “Dalam membangun startup itu perjalanan yang tidak pernah usaha, bahkan bagi yang sudah menjadi unicorn,” terangnya.

Disebut Hendrik, Bhinneka walau belum termasuk unicorn, memiliki bisnis yang sehat, tanpa menyebut nilai revenue, setiap tahun pertumbuhan pendapatannya tinggi 40% per tahun dalam 5 tahun terakhir. ”Kami menargetkan dalam lima tahun ke depan Bhinneka akan IPO,’ katanya. Ia membenarkan, target IPO sempat dicanangkan di 2018, namun menurutnya persiapan matang lebih baik daripada sekadar memenuhi target sebelumnya.

“Saya pribadi belum khawatir dengan unicorn yang ada. Pertumbuhan mereka ditunjang dari funding, wajar, namun ada pekerjaan rumah baru untuk mendapatkan funding baru, ini menjadi tantangan. Karena funding itu untuk menunjang pertumbuhan mereka. Saya pun yakin mereka akan spending funding yang didapat dengan bijak,” kata Hendrik. Karena unicorn disadari sangat heavy technology dan heavy recruitment, maka itu harus terus mencari pasar dan inovasi baru.

Dalam pandangan Untung ‘bakar-bakar uang’ yang sekarang sedang gencar dilakukan para unicorn juga denan tujuan meninkatkan valuasi mereka dan mencari pendanaan. Selama belum ada pemain yang dominan, strategi bakar uang akan terus dilakukan. Berbeda dengan di Amerika, Amazon mendominasi, era bakar uang pun meredup.

Untung memprediksi the next unicorn akan muncul dari pemain ewallet dan travel lagi. Lalu adakah batas waktu kapan unicorn mencetak profit? Pria yang sebelumnya memimpin Rumah123 ini, menjawab tidak ada rumus baku kapan waktu mencetak laba bagi unicorn, tergantung model bisnis dan investornya. “Jika size bisnis kecil akan cepat mencetak laba,” tambahnya.

Untuk saat ini, ia melihat keempat unicorn yang ada sekarang bisa sustain dan kuat yaitu Gojek karena memiliki kekuatan di GoFood dan GoPay. “Traveloka kuat pasar dan pelanggannya, saya yakin mereka berhenti beriklan pun bisa jalan. Lalu Tokopedia dan Bukalapak, yang memiliki banyak talenta, kualitas bagus, pengguna banyak, harusnya bisa sustain dalam jangka panjang,” katanya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)