Bagaimana Seharusnya Perusahaan Mengelola Gen Y?

Selama ini banyak stigma disematkan pada pekerja dari generasi milenial atau Gen Y. Hal ini menyebabkan, pengelolaan generasi ini kurang maksimal.

Dale Carnegie dalam riset terakhirnya memaparkan, potensi-potensi besar Gen Y bagi perusahaan. Bahwa ternyata, ada banyak persamaan Gen X dengan Gen Y, sehingga semestinya bukan hal sulit mengelola Gen Y.

Menurut Joshua Siregar, Marketing Manager Dale Carnegie Indonesia, perusahaan konsultan dan training pengembangan soft skill SDM salah satu isu besar yang dirasakan beberapa kliennya dalam 2-3 tahun terakhir adalah engagement. Bukan sekadar kepuasan karyawan, tapi bagaimana membuat karyawan mencurahkan seluruh jiwa, raga dan pikiran untuk mengembangkan perusahaan.

Mengutip hasil survei pada 2014 Dale Carnegie, karyawan di Indonesia yang total engage hanya 29 persen. Lalu pada 2016, Dale Carnegie kembali melakukan riset Employee Engagement Among Millenials, hasilnya Gen Y (lahir tahun 1986-2000) lebih buruk lagi hanya 25 persen yang engage, atau bisa dibilang hanya satu dari empat karyawan yang total engage. Riset dilakukan di enam kota (Medan, Jakarta, Bandung, Makasar, Balikpapan, Surabaya) dengan responden 1589 karyawan dari berbagai industri yang berbeda.

“Respondennya untuk Gen Y usianya 20-30 tahun, sedang non milenial 40-50 tahun. Yang 30-40 tahun tidak kami ambil, karena mereka masih ada rasa antara milenial dan Gen X,” tambah Maria Shanti Devi A. Marketing Communication Manager Dale Carnegie Indonesia.

Dipaparkan Joshua, isu yang ditangkap dari risetnya ini, Gen X dan generasi sebelumnya, kurang memahami Gen Y. “Banyak riset tentang Gen Y, tapi kemudian cenderung menimbulkan kesan yang kurang baik. Sehingga cara berpikir tentang generasi ini, sejak awal sudah tidak positif,” kata Joshua saat ditemui di Caffee Bean & Tea Leaf Pasific Place hari Jumat lalu.  Masalah kedua, banyak kesimpulan-kesimpulan tentang Gen Y kurang mendalam akhirnya terjadi apa yang ditargetkan Gen Y berbeda dengan generasi sebelumnya.

Riset Dale Carnegie menjadi mendalam karena survei yang dilakukan juga dikolaborasi hasilnya dengan riset-riset lain. Salah satunya disebut Joshua adalah Riset IBM Institute for Millenials. Ternyata, dari business values Gen Y dan Gen X yang berada di dua posisi puncak pilihan mereka hampir mirip:  memilih perusahaan yang bisa memberikan rasa aman untuk bekerja dan perusahaan yang menghargai setiap karyawannya dengan baik. Perbedaan terjadi di posisi ketiga dan keempat, Gen X menempatkan Having a good work-life balance pada posisi ketiga sedangkan Gen Y menempatkan ini di posisi keempat nilai mereka.

Pada posisi ketiga Gen Y memilih perusahaan yang bisa memberikan competiveness payment. Maka tidak heran, Gen Y berani mempertanyaankan, jika ada Gen X walau dengan pengalamannya, posisi dan tanggung jawab pekerjaannya sama memiliki mendapat salary lebih tinggi dari mereka. Walau demikian, Joshua melihat sebenarnya perbedaan Gen Y dan Gen X tipis. “Banyak yang mengatakan generasi milenial mengharapkan perusahaan yang bisa memberikan work life balance, Gen X ternyata membutuhkan itu juga,” terangnya.

Pada riset Dale Carnegie lain tentang engagement, bahwa kepuasan karyawan Gen Y itu sebenarnya ditentukan oleh atasannya langsung, kesamaan nilai dan transparansi. “Gen X walau pun juga menginginkan perusahaan yang bisa memberikan competitiveness payment, namun mereka juga menghargai pengalaman kerja. Gen Y, memandang jika posisi sama dan pekerjaan yang dikerjakan sama, mengapa dibedakan,” tegas Maria.

Untuk mengelola Gen Y, menurut riset Dale Carnegie Indonesia, perusahaan harus memenuhi nilai-nilai utama dari generasi ini yaitu mendapatkan perasaan terjamin dari perusahaan, perusahaan mengapresiasi karyawan, perusahaan menawarkan gaji yang kompetitif yang di satu sisi menghargai senioritas namun di sisi lain menghargai kinerja, mendapatkan keseimbangan waktu bekerja dan kehidupan pribadi, supervisor berkomunikasi secara terbuka dan jujur. “Komunikasi ini kunci, harus dipahami beda generasi ini. Gen X harus melebarkan toleransi, Gen Y harus meningkatkan sopan santunya,” katanya.

Bagi Gen Y, mereka tidak akan bertahan di perusahaan di mana nilai-nilainya berbeda sekali dengan yang ditanamkan dalam keluarganya. “Gen Y memegang tiga nilai utama dalam memilih perusahaan sehingga mereka bisa engage yaitu  keselarasan nilai, pengakuan yang adil, dan  komunikasi yang transparan,” terang Joshua.

Mengutip Dale Carnegie Survey 2017 on Corporate Culture yang melibatkan 600 pemimpin senior perusahaan di empat negara (Indonesia, Amerika, Jerman dan India) bahwa kultur perusahaan sangat mempengaruhi engagement dan kinerja karyawan. “Dengan masuknya milenial sebagai angkatan kerja, perusahaan harus mau dan mampu membangun budaya baru untuk membuat mereka merasa terlibat, atau feel at home,” tegas Joshua.

Dari riset di atas yang dipaparkan Joshua, ada dua langkah kunci yang bisa dibangun agar perusahaan bisa mengelola Gen Y dengan maksimal. Pertama komunikasi lintas generasi angkatan kerja. Kedua,  Pelatihan dan Pengembangan, khususnya dalam bentuk program pendampingan (mentoring). Inilah yang harus berani diterapkan oleh perusahaan demi beradaptasi dengan pergantian generasi kerja sehingga kelak bisa menyerahkan posisi strategis dan tampuk kepemimpinan kepada angkatan milenial.

“Gen Y dan Gen X yang kini menjadi pemimpin Gen Y memiliki lifecycle berbeda. Bagi milenial, lahir  dan besar dalam dunia yang tidak aman, ada peristiwa bom dan bencana besar, maka itu security bagi mereka penting. Mereka juga melihat perusahaan yang memberikan CSR dan mengajak mereka berkontribusi pada masyarakat,” papar Joshua.

Di sisi lain, Gen Y ini juga tumbuh di tengah kondisi yang serba terbuka dan bebas karena perkembangan teknologi dan informasi. “Keterbukaan disebabkan internet dan IT ini, membuat peers mereka bukan lagi sebelah atau teman sekitar mereka, tapi juga meluas hingga ke seluruh dunia,” ujarnya.

Dengan keterbukaan ini, bagi milenial, bisnis itu selain menciptakan pekerjaan, mengembangkan kesejahteraan dan meningkatkan ekonomi, jadi tidak satu pun pilihan mereka memikirkan diri sendiri (tidak egois). Makanya mereka akan memilih perusahaan yang memberikan impact sosial tinggi. “Tidak heran Gen Y banyak yang tertarik pada socialpreneurs,” dia menguraikan.

Data Dale Carnegie menyebutkan 60% milenial akan keluar dari perusahaan jika tidak dirasa cocok dengan nilai dan harapan mereka. Gen X mungkin masih menghindari risiko. Namun jika para pengelola perusahaan bisa menjalani yang dipaparkan diatas, perusahaan bisa dibilang sudah siap mengelola generasi milenial.

Editor : Eva Martha Rahayu

www. Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)