Begini Cara PLN Turunkan Biaya Pokok Produksi

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) terus berusaha meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya pokok produksi. Salah satunya dengan meningkatkan performa pembangkit dengan teknologi CFB di Indonesia. Penerapan teknologi boiler (circulating fluidized bed-CFB) pada pembangkit di Indonesia masih belum optimal. Performance Equivalent Availability Factor (EAF) di lebih dari 50 pembangkit pada FTP 1 dan FTP2 yang menggunakan teknologi tersebut masih berkisar sekitar 56%. Best practice di negara lain, EAF bisa mencapai 85%.

Hal ini disebabkan karakteristik boiler CFB masih belum dipahami secara komprehensif. Teknologi CFB Boiler merupakan teknologi yang relatif baru dan dikembangkan sejak tahun 1985. Teknologi ini memiliki karakter yang sangat berbeda dengan karakteristik boiler yang selama ini dikelola oleh PLN. Sejumlah workshop dan kajian telah dilakukan namun belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Untuk itulah, PT Pembangkitan Jawa – Bali (PJB) mendatangkan Professor Dr. Prabir Basu, Ph.D., P. Eng ahli CFB dari Department of Mechanical Engineering Dalhousie University, Canada dalam Workshop Best Practice Boiler CFB yang diadakan tiga hari, Rabu (26/4) hingga Jumat (28/4) di Surabaya. Prabir Basu mengupas tuntas desain serta operation and maintenance (O&M) boiler CFB.

Prof Dr Prabir Basu menyampaikan paparan dalam CFB workshop yang diadakan PT PJB Prof Dr Prabir Basu menyampaikan paparan dalam CFB workshop yang diadakan PT PJB.

Materi yang diberikan oleh Prabir Basu diharapkan memberikan pemahaman menyeluruh terkait aspek-aspek mendasar dari teknologi boiler CFB. Workshop diikuti oleh perwakilan dari PLN, anak perusahaan PLN, dan unit pengelola pembangkit berteknologi CFB ini diharapkan bisa menelurkan sejumlah action plan untuk meningkatkan kinerja PLTU CFB di lingkungan PLN dan anak perusahaan. Diantaranya, berupa standar tata kelola O&M pembangkit CFB.

Direktur Utama PT PJB, Iwan Agung Firstantara mengatakan peningkatan keandalan pembangkit berteknologi boiler CFB, yang saat ini rata-rata EAFnya hanya 56%, akan berdampak pada penurunan biaya pokok produksi. Bila satu pembangkit CFB EAFnya bisa dinaikkan 25MW dan menggantikan penggunaan pembangkit diesel, ada penghematan yang cukup banyak. Setidaknya per jam bisa dihemat Rp 1.800/kWh x 25MW.

Ia mengungkapkan masalah boiler CFB sudah cukup lama dihadapi PLN Grup. Namun, hingga kini belum ada pembangkit dengan boiler CFB di Indonesia yang bisa dipandang sebagai best practice dalam pola pengelolaan maupun modifikasinya. PT PJB kemudian berinisiatif mendatangkan ahli khusus dari Canada yang membahas tuntas permasalahn yang ada bersama beberapa ahli dari tanah air dan para user boiler CFB.

“Workshop ini dirancang untuk menemukan best practice di bidang O&M dan engineering serta action plan yang segera dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan yang ada,” katanya.

Kepala Divisi Enjiniring & Perencanaan Pengadaan PT PLN (Persero) Warsono Martono menilai workshop CFB boiler sangat strategis karena akan memberi nilai signifikan bagi perusahaan. Warsono mengatakan teknologi CFB boiler termasuk relatif baru bagi PLN dan sudah diimplementasikan di banyak lokasi. Siklus operasional pembangkit bisa mencapai 30 hingga 40 tahun. Sehingga meningkatkan performa pembangkit tersebut merupakan upaya untuk memaksimalkan pemanfaatannya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)